Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
82. Di Ujung Nyawa


__ADS_3

"Ara takut!" Setelah tertawa puas dan hanya tertinggal mereka berdua Yumna memeluk ayah mertuanya dengan manja.


"Gimana Ara bisa sampai disini Sayang?" Tanya Rizal salut pada menantunya yang masih bisa berpikir saat terdesak.


"Ara pura-pura menganggap Leo itu Geo, dan Leo percaya karena Ara lagi demam." Yumna tersenyum simpul.


"Pintar!" Puji Rizal, "demammu sangat tinggi ." Ia dapat merasakan tubuh Yumna yang semakin lemas. Rizal segera membaringkannya di sofa dan memberikan injeksi penurun panas.


"Ara tidur sebentar boleh?" Ijin Yumna.


"Tidurlah," Rizal meminta perawat untuk membawakan brankar dan peralatan infus keruangannya. Setelahnya ia memindahkan sang menantu yang sudah memejamkan mata ke brankar.


"Ara kenapa Pah?" Tanya Guntur panik, mendekati istrinya yang terbaring lemas dengan pucat.


"Demamnya sangat tinggi, sudah Papa suntik. Tinggal menunggu obat bereaksi dan cairan infus habis, baru kamu bisa membawanya pulang." Ujar Rizal yang mengerti putranya tidak ingin Yumna dirawat di rumah sakit.


"Bagaimana keadaan Mama?"


"Cuma pingsan karena pengaruh bius, sudah dijemput Papa Emran. Rumah juga sudah dijaga ketat," sahut Guntur yang tak berpaling dari istrinya.


*


*


*


"Ara dimana?" Yumna menatap ruangan yang asing baginya.


"Di rumah sama Abang Sayang," Guntur menyambut istrinya dengan senyuman. Mereka ada di rumah Papa Emran, hanya saja kamar tamu yang sedang mereka tempati.


"Abang," Yumna merentangkan tangan minta dipeluk. Karena tubuhnya lemas, masih belum bisa banyak bergerak.


"Abang khawatir sama kalian," Guntur membantu istrinya untuk bangun dan memeluknya.


"Maafin Ara tadi memeluk Leo, cuma itu yang bisa Ara lakukan biar Leo gak membunuh Ara." Jujur Yumna, Guntur tertegun menatap netra wanitanya dengan lekat.

__ADS_1


"Kenapa Ara nekat Sayang, kalau Leo tadi gak percaya sandiwara Ara bagaimana." Guntur jadi sanksi meninggalkan istrinya sendirian, apalagi saat hamil muda seperti ini.


Yumna menggeleng, dia juga tidak tahu. Kalau tadi Leo menyadari kebohongannya, entah apa yang akan terjadi.


"Gapapa yang penting Ara sekarang selamat." Guntur menciumi seluruh wajah istrinya dengan hangat.


Sementara ditempat lain.


"Damn!" Umpat Leo karena sudah dibodohi anak kecil. Istri Guntur itu tidak benar-benar mengidap kanker. Hanya mencari kesempatan untuk kabur darinya dengan memanfaatkan pihak rumah sakit. Sialnya dia termakan sandiwara murahan itu.


"Bawa putri Tora kehadapanku secepatnya. Atau aku akan melenyapkanmu!!" Brayen menatap tajam Leo yang berulang kali gagal menjalankan misinya.


Tidak hanya Leo, dia juga sudah berkali-kali gagal menghadapi Tora yang sekarang bergabung kekuatan dengan Emran.


"Putrimu yang harus menggantikan kepergian Eras, Tora!!" Desis Brayen menatap hitam bayangan masalalunya.


"Kenapa kau tidak menangkapnya sendiri, kerahkan seluruh anak buahmu!!" Sarkas Leo dengan berani.


"Kau menantangku?"


"Brengsek kau!!"


"Sesama brengsek tidak perlu saling menghujat!!" Leo tersenyum miring meninggalkan Tora yang menggeram marah.


...🌹🌹🌹 ...


"Daddy," Guntur mengajak ayah mertuanya berbicara berdua di balkon kamar. Mereka menginap karena mengkhawatirkan keadaan Yumna.


"Kenapa Brayen sangat menginginkan Ara, kalian ada masalah apa?" Pertanyaan ini sudah sangat lama mengganjal di hatinya. Dan baru bisa ia tanyakan sekarang.


Tora menatap sekilas pada menantunya kemudian mengalihkan pandangan ke langit. Kejadian tiga belas tahun yang lalu kembali berputar dalam ingatannya.


Orang taunya dia melakukan bisnis gelap perdagangan manusia. Padahal Tora tidak pernah melakukan bisnis kotor itu. Kenyataannya dia masuk dalam bisnis-bisnis itu untuk menghancurkannya dengan berpura-pura sebagai rekan bisnis. Itu sebabnya dia memiliki banyak musuh, Brayen salah satunya.


Tora tidak pernah gentar menghadapi musuh-musuhnya selama yang dia lakukan benar.

__ADS_1


"Brayen menyalahkanku atas kepergian istrinya, Eras. Malam itu saat aku membongkar kebusukan bisnisnya, Eras mendengar semuanya dan sangat marah pada Brayen. Perempuan itu pergi dan mobil yang dibawanya mengalami kecelakaan beruntun." Tora tidak melanjutkan kalimatnya, karena Guntur pasti tau bagaimana akhirnya.


"Lalu kenapa Ara?"


"Karena Brayen tau Ara sangat berarti untukku," Tora menatap menantunya penuh harap. "Hidup dan matiku, Guntur."


Guntur bisa melihat begitu besar cinta yang Tora berikan pada putrinya, dan tanggung jawab itu sekarang berpindah padanya untuk menjaga Yumna. Tidak hanya menjaga namun juga mencintainya.


"Aku harap kamu bisa menjaga Ara seperti bagaimana aku menjaganya selama ini. Selalu ada alasan kenapa orang tua keras pada putra-putrinya. Semua itu karena rasa sayang mereka sangat besar. Sejak kecil aku mendidiknya untuk bisa membentengi diri sendiri, sampai melupakan kalau dia akhirnya akan menjadi seorang istri."


"Ara-ku bukan anak penurut Guntur, tapi aku yakin kamu bisa menaklukkan keras hatinya. Seperti Mommy-nya menaklukkan aku. Dia juga bukan perempuan yang serba bisa apalagi mengurus anak nanti. Aku harap kamu tidak menyesal menikahinya. Suatu saat jika kamu lelah mengurus putriku maka kembalikan padaku dengan baik-baik. Jangan menyakitinya," ucap Tora serius.


"Aku tidak akan menyesal menikahinya dan aku akan menjaganya sampai di ujung nyawaku." Jawab Guntur tegas, Tora tersenyum.


"Aku pegang janjimu! Jika kamu menyakitinya karena perempuan lain, maka aku yang akan menjemputnya tanpa perlu kamu yang memulangkan."


.


.


.


.


.


.


.


.


...🍀🍀🍀...


Tenang-tenang Guntur menghanyutkan.

__ADS_1


Tenang-tenang Ara mematikan 😅


__ADS_2