Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
103. Pulang


__ADS_3

Yumna kembali ke rumah dengan wajah ceria, hari ini Guntur benar-benar tidak menjemputnya di kampus.


Guntur menelan mentah-mentah luka di hatinya. Yumna pulang dengan wajah sangat ceria, bagaimana tidak ceria sudah puas bersama pria idamannya.


"Abang masih sibuk?" Yumna berniat membujuk suaminya malam ini. Dia berasa hidup sendirian kalau didiamkan terus.


"Hm."


"Abang gak kangen peluk Ara?" Tanya Yumna manja bergelayut manja di tangan Guntur yang masih asik dengan laptopnya.


"Tadi sudah puas dipeluk Geo kan?" Tanya Guntur dingin dengan senyuman miring, melepaskan tangan Yumna dari tangannya.


Glek


Yumna menelan salivanya dengan kasar, "Abang tahu? Apa Abang mengikuti Ara," batinnya.


"Pergilah kalau Ara mau kembali bersama Geo, dan anak itu tidak apa kalau Ara mau menggugurkannya. Kalau kalian ingin menikah, menikahlah." Ucap Guntur dingin kemudian beranjak ke tempat tidur. Ia tidak mungkin mempertahankan pernikah ini kalau sang istri bahagianya dengan pria lain.


Yumna membeku di tempat tidak berani membela diri karena memang salah.


"Ara bisa jelaskan Abang. Ara memang salah," lirih Yumna sangat pelan.


Guntur mengambil headset memasangnya ke telinga. Membuat Yumna urung melanjutkan ucapannya. Wanita hamil itu merbahkan tubuhnya yang lelah di sofa sambil mengelus perut. Tidak beralih menatap Guntur yang memejamkan mata tanpa peduli dengannya.


Kenapa jadi rumit seperti ini? Kenapa semua harus menimpanya? Kenapa dia harus menikah dengan Guntur kalau harus berakhir seperti ini?


Yumna mencoba memejamkan mata dengan begitu banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya.

__ADS_1


Ia terpaksa harus tidur di sofa yang sangat tidak nyaman ini. Berganti pakaianpun Yumna malas.


Setelah cukup lama tidak ada suara Guntur melepaskan headset yang memang tidak ada musiknya. Ia memindahkan Yumna ke tempat tidur dan menggantikan pakaian istrinya setelah membersihkan tubuh yang lengket itu dengan air hangat.


"Maafkan Daddy Sayang kalau tidak bisa mempertahanmu, semua ini untuk kebahagiaan Mommy. Jangan salahkan Mommy atas semua yang terjadi nanti." Guntur mengelus lembut perut Yumna.


"Apapun yang Ara ingin lakukan Abang tidak akan melarang." Guntur mengecup kening Yumna lalu beranjak ke balkon menikmati angin malam.


Hatinya terlampau sakit dan sangat lemah menghadapi istrinya itu. Mana bisa dia marah-marah walau sangat ingin meluapkan segala yang bergemuruh di dadanya ini. Kenapa Geo harus kembali disaat dia sudah menjadi pemilik Yumna.


Semakin hari hubungan suami istri itu semakin merenggang. Walau Yumna tetap bertahan dengan sikap dingin Guntur padanya. Tidak ada lagi kehangatan dan kelembutan lelaki itu yang terlihat. Yumna selalu bersikap ceria saat bertemu keluarga suaminya, tidak ingin mereka tahu kalau dia dan Guntur sedang memiliki masalah.


"Abang hari ini Ara ke rumah Daddy ya," ijin Yumna. Dia ingin menenangkan diri sejenak dan menangis sepuasnya di dalam kamar sendirian.


Guntur tidak menjawab seperti hari-hari yang sudah berlalu mendiamkannya.


"Maafin Mommy sudah berniat menggugurkanmu, sekarang Mommy akan mempertahankanmu. Walau Daddy sudah tidak percaya dengan Mommy lagi." Gumam Yumna sendu selama dalam perjalanan menuju rumahnya hanya melamun.


"Pulang sendirian Sayang?" Tanya Ayumi yang terkejut melihat putrinya datang.


"Yes Mom, Abang sibuk hari ini jadi gak bisa menemani. Ara keatas ya, mau lanjut tidur ih." Jawab Yumna dengan senyuman manis, Ayumi menganggukkan kepala tanpa curiga apapun.


Sampai di kamar Yumna menangis sejadi-jadinya meluapkan rasa sakit yang berhari-hari ini didiamkan Guntur.


"Apa Abang diam karena memang ingin cerai dari Ara?" Tanyanya pada diri sendiri.


"Walau disini masih ada Geo, Ara tidak pernah berpikir untuk berpisah dari Abang. Ara selalu berusaha melupakan Geo. Tapi sekarang semua seakan tidak ada artinya." Yumna memegangi dadanya yang terasa sesak. Lelah menangis ia akhirnya tertidur.

__ADS_1


Sagara yang merasa aneh adiknya pulang sendirian setelah diberitahu sang mommy lekas mencarinya ke kamar atas.


Saat membuka pintu kamar, Sagara melihat Yumna yang tidur dengan bekas tangis dan wajah yang berantakan.


"Ara kenapa Sayang?" Sagara mengusap pipi sang adik dengan penuh kasih Sayang.


"Abang," Yumna membuka mata saat mendapat pelukan tiba-tiba dari sang abang.


Sudah lima hari ia tidak mendapat pelukan hangat seperti ini. Terakhir saat Geo memeluknya di mobil setelahnya dia menghindari pria itu. Dan Guntur sudah tidak mau berdekatan dengannya lagi.


"Ara kenapa, cerita sama Abang Sayang." Sagara menghapus bekas jejak air mata di pipi sang adik.


"Cuma capek Abang, Ara gak kenapa-kenapa." Jawabnya dengan tersenyum manis.


"Kalau Ara capek gak akan pulang hanya untuk menangis. Ara jawab jujur sebelum Abang paksa Guntur yang bicara." Ancam Sagara, tebakannya pasti tidak salah. Adiknya ini sedang bertengkar dengan Guntur.


"Abang marah sama Ara, karena Geo." Lirih Yumna yang akhirnya kembali menangis.


"Abang mendiamkan Ara, Ara gak kuat didiamkan Abaang."


"Memangnya masalah Geo kenapa lagi. Apa yang Guntur permasalahkan dari Geo?" Sagara masih belum mengerti arah pembicaraan sang adik.


"Geo masih hidup Abang," ucap Yumna sendu menceritakan kenapa Geo menghilang selama satu tahun ini dan baru menemuinya sekarang.


Sagara semakin menguatkan pelukannya mendengar suara tangis Yumna yang semakin sendu. Ia tidak tahu harus berbuat apa, wajar jika adiknya merasa tertekan karena dua lelaki itu. Lelaki yang sama-sama mengisi relung hati sang adik. "Ara tenangin diri dulu Sayang, Abang ada disini menemani Ara."


"Abang jangan bilang Daddy, Ara takut nanti Daddy marah. Ara capek Abang, rasanya Ara mau mati aja."

__ADS_1


"Sstt, gak boleh bicara seperti itu. Biar Abang yang bicara sama Guntur dan Geo nanti." Sagara menciumi puncak kepala sang adik sampai tertidur kembali karena saking lamanya menangis.


__ADS_2