
“Araaa!! Cukup Sayang.” Tora memeluk putrinya yang membabi buta, walau Leo sudah tidak berdaya Yumna tetap menghajarnya.
“Kita harus segera menolong Geo, Sayang. Jangan buang waktumu untuk dia, Daddy janji akan merestui kalian.” Ucap Tora menenangkan anak gadisnya.
“Geo,” gumam Yumna. Ia membalikkan badan melihat kekasihnya yang sudah lemas tidak berdaya dengan muntah yang keluar dari mulut. Guntur dan Tomi yang baru tiba di sana segera membopong Geo ke mobil.
Air mata Yumna kembali terjatuh tanpa di komando, ia ikut masuk ke mobil memeluk kekasihnya itu. Guntur melajukan mobil menuju rumah sakit, sedang Tomi membereskan sisa kekacauan di toko Anindi.
“Kamu harus bertahan, kita akan menikahkan.” Ucapnya dengan sesenggukan seraya membersihkan cairan yang keluar mulut Geo.
"Jangan menangis," bibir pucat itu masih bisa tersenyum. "Maaf kalau nanti aku tidak bisa menepati janji menikah denganmu." Gumam Geo sangat pelan, tangannya terulur menghapus air mata Yumna.
"Enggak, kita akan tetap menikah. Aku tidak akan memaafkanmu kalau kamu ingkar janji." Ungkapnya menyandarkan kepala ke dada bidang Geo. Lelaki itu membalas pelukan Yumna dengan tubuh yang semakin lemah.
Tora memejamkan mata, dia pasti akan dihantui rasa bersalah seumur hidup kalau tidak bisa menyelamatkan Geo.
"Aku mencintaimu," ucap Geo terakhir kali menopangkan kepalanya di atas kepala sang kekasih.
"Aku tau, aku juga sangat mencintaimu." Ungkap Yumna dengan air mata yang tak berhenti merembes. Guntur hanya diam menyaksikan kepedihan yang gadis itu utarakan.
Sampai rumah sakit Geo langsung mendapatkan perawatan intensif. Selama menunggu Yumna tidak berhenti menangis dalam pelukan Tora.
Seumur hidup baru kali ini Tora melihat putrinya sangat hancur. Dia turut andil dalam kehancuran putrinya ini.
“Mohon maaf pasien tidak bisa diselamatkan. Racun Novichok yang ada dalam tubuh pasien sudah menyebar dan mengganggu saraf-saraf otak." Jelas sang dokter yang keluar dari ruangan Geo.
Novichok merupakan racun Rusia yang sangat berbahaya bagi saraf. Racun yang berasal dari Uni Soviet ini bisa membunuh korban lewat gangguan sistem saraf. Dengan cara mengganggu komunikasi antara saraf dan otot di otak. Selama beberapa menit racun ini bekerja sudah bisa melumpuhkan otot-otot yang bertanggung jawab untuk bernapas dan menghentikan jantung.
“Enggak, dokter pasti salah. Geo gak mungkin mati!!” Teriak Yumna berlari ke ruang ICU tanpa peduli perawat di sana melarangnya. Ia langsung memeluk Geo yang sudah terbujur kaku.
Guntur mengembuskan napas perlahan melihat Yumna yang seperti orang gila. Ia yakin cinta gadis itu pada Geo sangatlah besar.
“Sayang, tunggu mereka mengurus jenazah Geo dulu. Kamu hubungi orang tuanya ya,” saran Tora.
__ADS_1
Yumna menggeleng tegas, "Geo gak mati Daddy. Dia cuma tertidur, nih masih napas." Sahut Yumna yang tak ingin melepaskan kekasihnya.
Guntur menahan para perawat yang ingin menjauhkan Yumna dari mayat Geo. Semua pegawai di rumah sakit mengenalnya karena Emeral Hospital milik keluarga yang diurus ayahnya dan Zaky.
"Geo sudah gak ada Sayang," bisik Tora lembut memeluk putrinya dari belakang.
“Mereka cuma bercanda Daddy, Geo masih bergerak.” Gumam Yumna, Tora jadi khawatir dengan keadaan putrinya ini.
“Tidak ada yang berani bercanda di rumah sakit Sayang. Apalagi ini perkara hidup dan mati seseorang,” jelas Tora kembali.
Yumna menggeleng tidak terima, “kalau Daddy tidak mau menerima Geo tidak perlu mengatakan dia sudah tidak ada!!” Sarkasnya marah.
Tora mengeratkan pelukannya pada sang putri sambil menciumi di belakang kepala, agar anak gadisnya itu tenang. Kenapa dulu dia tidak membiarkan saja Yumna bersama Geo. Penyesalan selalu saja datang terlambat.
"Ara harus terima kenyataan ini Sayang," Tora menarik mundur putrinya yang mulai melemah.
Gadis itu menatap Guntur nyalang lalu melepaskan pelukan sang ayah. Ia langsung menggagahi saku jas Guntur, mencari racun yang sama. Tadi dia melihat Guntur menyimpannya.
"Kalau Geo mati maka Ara juga akan mati," desis Yumna. Menyuntikkan racun yang sudah membunuh kekasihnya itu ke dalam tubuh sambil tersenyum.
"No Araa!!!" Pekik Tora terkejut melihat aksi putrinya yang ingin bunuh diri dengan cara yang sama dengan Geo. Ia bergerak cepat merebut racun itu, tapi Yumna dengan gerakan gesit menghindari sang ayah.
"Jangan halangi Ara, Daddy!!" Teriak Yumna marah.
Saat Yumna terfokus pada Tora, Guntur langsung mengambil racun yang ada di tangan Yumna.
Gadis itu membulatkan mata menyerang Guntur dengan sisa-sisa tenaganya.
“Buang!!” Teriak Guntur seraya melemparkan pada Tora. Lalu menahan tubuh Yumna agar tidak mengejar sang ayah yang mengamankan racun itu. Mereka sudah membuat keributan di ruang ICU.
“Lepasin Ara!!" Sarkas Yumna mencoba terlepas dari pelukan Guntur yang mengunci tubuhnya.
"Daddy berikan itu sama Araaa!!” Teriaknya nyaring.
__ADS_1
“Geo gak suka kalau Ara seperti ini,” ucap Guntur lembut tidak seperti biasanya yang mengeluarkan kata-kata pedas pada Yumna.
"Geo gak suka," gumam Yumna langsung berhenti memberontak pada Guntur.
Lelaki itu membawa Yumna keluar ruangan. Mengajaknya duduk sambil memberikan usapan lembut di kepala.
“Ara mau Geo,” gumam gadis itu berulang kali.
“Geo sudah tenang, gak kesakitan lagi.” Sahut Guntur dengan jantung yang jedar-jedar dibuat berdebar oleh gadis kecilnya ini.
Yumna menggeleng, air matanya sudah kering dengan mata yang membengkak karena terlalu lama menangis.
“Geo masih hidup,” lagi-lagi Yumna meracau.
Tora ikut merasakan kepedihan yang putrinya itu rasakan. Setelah dipaksa berpisah, sekarang mereka benar-benar terpisah oleh takdir.
“Geo memang sudah pergi, tapi hatinya masih ada di sini.” Tunjuk Guntur pada dada Yumna, “dia masih milikmu.” Ucapnya lagi seraya menangkup pipi Yumna, gadis itu sudah lebih tenang.
"Tapi Ara mau Geo memeluk Ara lagi," sebut Yumna sendu.
Guntur membawa Yumna dalam dekapannya, "nanti akan ada seseorang yang selalu siap memberikan pelukan buat Ara."
"Ara hanya perlu bersabar dan ikhlaskan Geo. Geo akan bahagia kalau lihat Ara tersenyum lagi." Nasehat Guntur, yang ia juga tidak tau kata-kata bijak itu datang darimana. Biasanya mulut ini hanya mengeluarkan kata-kata yang nyeleneh.
"Jadi kamu yang membuat keributan di ruang ICU." Zaky yang ingin memeriksa laporan dari petugas keamanan mendelik pada Guntur. Adik iparnya itu sedang memeluk gadis yang paling dihindarinya.
Guntur mengangguk, mengisyaratkan agar Zaky diam dan tidak mempermasalahkan semua itu di depan Yumna.
Zaky mendesah berat, iparnya sendiri yang membuat kekacauan di rumah sakit. Dalam ruang ICU lagi. Sepertinya dia merasakan benih-benih kebucinan akan bertebaran sebentar lagi. Melihat cara Guntur menenangkan Yumna yang penuh perasaan.
"Bantu urus jenazahnya agar cepat keluar dari ruang ICU," pinta Tora pada menantu Emran itu.
Zaky mengangguk, "sebaiknya bawa Ara ke ruanganku. Jangan di sini, bisa mengganggu pasien yang lain kalau dia mengamuk lagi." Ujarnya pada Guntur kemudian pergi dari sana.
__ADS_1