Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
35. Jaga Ara


__ADS_3

“Maass!!” Teriak Anindi dari lantai atas, dia bergegas turun mendatangi suaminya yang sedang bercengkrama di bawah bersama yang lain.


“Suka banget turun naik tangga kenapa sih, naik lift kan bisa. Perutmu itu sudah kayak balon mau meletus, bahaya kalau gak hati-hati.” Omel Mira pada menantunya yang sudah sampai di ruang tengah dengan nafas turun naik karena keberatan membawa perut. Si empunya hanya menyengir kuda.


“Kenapa Sayang?” Tomi membantu istrinya duduk, baru dari kamar turun ke bawah saja sudah berkeringat. Disuruh diam duduk tenang di rumah tidak mau.


Arraz dengan perhatiannya mendekati Anindi, mengambilkan tissue lalu menyeka keringat bibinya yang sedang hamil itu. 


“Ini calon istri Arraz,” gumam mulut kecil Arraz seraya menciumi perut Anindi.


Khalisa melotot mendengar ucapan ngawur sang putra, selalu kalimat itu yang diulang-ulang.


Ghani terkekeh geli, mengusap mata istrinya agar berhenti melotot. "Matamu bisa melompat keluar Sayang," bisiknya gemas.


“Ara barusan berantem, kayaknya sama orang yang dulu itu juga.” Beritahu Anindi sambil mengusap-usap kepala Arraz yang masih betah menciumnya di perut. Dia juga mendapatkan informasi dari karyawannya yang masih ada di toko.


“Sekarang Ara masih di sana?” tanya Tomi khawatir.


“Sudah enggak,” jawab Anindi dengan gelengan.


“Cerita jangan setengah-setengah Sayang. Ara-nya gimana?” ujar Tomi gemas pada istrinya yang semakin meniru sifat Khalisa saat hamil ini.


”Sabar Mas, masih ngos-ngosan nih!!” Seru Anindi dengan pipi digembung-gembungkan.


Tomi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kalimat itu biasanya Khalisa yang sering mengucapkan pada Ghani.


“Jangan salahin aku!!” Khalisa mendelik lebih dulu pada Tomi. Sebelum sang ipar bersuara, istrinya jadi galak masa dia yang mau disalahkan. 


“Iya, perempuan memang selalu benar!!” Jawab Tomi kesal.


“Kok kalian yang berantem, aku kan belum selesai cerita!!” Sergah Anindi.


“Ya Tuhan, kalian ini berisik!!” Cetus Guntur yang sedang asik menyemil bersama Airil sambil menonton TV. Merasa terganggu dengan perdebatan yang tidak jelas itu.


“Sekarang lanjut ceritanya Sayang , Ara gak papakan?” Emran menengahi keributan antara anak dan menantunya itu.


“Ara gak papa, tapi ada satu orang yang dibawa ke rumah sakit. Lima yang lainnya gak terluka parah. Terus mereka yang nolongin tau kalau yang bikin babak belur itu karyawan di tokoku.” Ujar Anindi cemas.

__ADS_1


Tomi mengelus-elus kedua bahu sang istri untuk menenangkan. Lalu membawanya dalam pelukan, “nanti kita urus besok ya Sayang."


“Arraz mau ikut ketemu Kak Una.” Celetuk bocah laki-laki itu, mengerti saja siapa yang sedang dibicarakan.


“Mau ikut kemana Sayang, paman dan bibi gak kemana-mana.” Ujar Ghani menarik tangan putranya agar mendekat dan memangkunya.


“Ketemu Kak Una nemenin adek, Ayah.” Jawab Arraz lancar.


“Tendang,,, tendang… yeaayy goaaalll!!” Teriak Airil dan Guntur bersamaan.


“Berisiikk!!!” Mira menirukan ucapan putranya lalu merebut remot dan mematikan televisi.


”Yaaaaaaahhhh!!!” Seru om dan keponakan itu bersamaan, karena kesenangannya terganggu.


“Kamu sudah janji mau ke rumah Sheryl kan. Sana mandi, siap-siap!!” Usir Mira.


“Malas Mah, besok aja sekalian bareng kalian ke sana.” Jawab Guntur acuh kembali merebut remot di tangan sang mama.


“Kamu ini niat nikah gak sih!!” Geram Mira.


“Enggak sih sebenarnya, nanti ribet kayak mereka ngurusin istri.” Guntur menjawab sekenanya dengan mata kembali fokus pada layar TV.


“Kan Zaky sudah bilang Mah, Guntur itu gak minat nikah sama Sheryl.” Zaky yang sedari tadi mendengarkan kicauan-kicauan di sana akhirnya buka suara.


“Jangan kompor Zaky!!” Guntur mendelik pada suami sepupunya itu.


“Kamu yang serius Guntur, menikah bukan buat main-main!!” Peringat Emran dengan tatapan menghunus tajam.


“Guntur serius Pah, cuma bercanda doang. Habisnya mama rewel sih,” Guntur meringis di tatap sang papa seperti elang melihat mangsa begitu.


...🐣🐣🐣 ...


Sepulang dari rumah Sheryl Guntur menatap cincin yang tidak berpindah tempat dari atas nakas.


"Tolong jaga Ara sampai dia menemukan penggantiku," ucap Geo dalam keadaan lemah. Saat Guntur mendudukkannya di kursi penumpang. Pria itu melepaskan cincin di tangannya meletakkan di tangan Guntur.


"Jangan menitipkannya padaku, kamu akan sembuh. Ara membutuhkanmu."

__ADS_1


Geo menggeleng pelan, "aku tidak punya banyak waktu untuk menjaganya. Aku hanya ingin melihat Ara bahagia, walau aku tidak bisa menemaninya." Ujarnya kemudian tersenyum pada Yumna yang tergesa-gesa mendatanginya.


“Kamu harus bertahan, kita akan menikahkan.” Ucap Yumna dengan sesenggukan seraya membersihkan cairan yang keluar mulut Geo.


"Jangan menangis," bibir pucat itu masih bisa tersenyum. "Maaf kalau nanti aku tidak bisa menepati janji menikah denganmu." Gumam Geo sangat pelan, tangannya terulur menghapus air mata Yumna.


"Enggak, kita akan tetap menikah. Aku tidak akan memaafkanmu kalau kamu ingkar janji." Yumna menyandarkan kepala ke dada bidang Geo. Lelaki itu membalas pelukan Yumna dengan tubuh yang semakin lemah.


"Aku mencintaimu," ucap Geo terakhir kali menopangkan kepalanya di atas kepala sang kekasih.


"Aku tau, aku juga sangat mencintaimu." Ungkap Yumna dengan air mata yang tak berhenti merembes. Guntur hanya diam menyaksikan kepedihan yang gadis itu utarakan.


Guntur menarik nafas pelan mengingat bagaimana Yumna sangat mencintai Geo. Gadis itu pasti sangat terpukul dan memikirkan cara balas dendam pada Leo.


“Ara mau Geo,” gumam gadis itu berulang kali.


“Geo sudah tenang, gak kesakitan lagi.” Sahut Guntur dengan jantung yang jedar-jedar dibuat berdebar oleh gadis kecilnya ini.


Yumna menggeleng, air matanya sudah kering dengan mata yang membengkak karena terlalu lama menangis.


“Geo masih hidup,” lagi-lagi Yumna meracau.


“Geo memang sudah pergi, tapi hatinya masih ada di sini.” Tunjuk Guntur pada dada Yumna, “dia masih milikmu.” Ucapnya lagi seraya menangkup pipi Yumna, gadis itu sudah lebih tenang.


"Tapi Ara mau Geo memeluk Ara lagi," sebut Yumna sendu.


Guntur membawa Yumna dalam dekapannya, "nanti akan ada seseorang yang selalu siap memberikan pelukan buat Ara."


"Ara hanya perlu bersabar dan ikhlaskan Geo. Geo akan bahagia kalau lihat Ara tersenyum lagi." Nasehat Guntur.


"Dan orang itu bukan aku Ara, kamu bisa menemukan lelaki lain." Gumam Guntur pada dirinya sendiri. Ia menyimpan cincin yang tersemat nama Geo itu ke dalam laci.


Guntur bukan tidak tau Yumna menaruh harapan padanya. Makanya dia selalu bersikap tegas, agar gadis itu berhenti berharap lebih darinya. Dia bukan Geo yang bisa memanjakan Yumna setiap saat dan memberikan perhatian penuh.


Ia malas mengurus perempuan manja. Cukup yang ada di rumah ini saja yang manja-manja.


...🕸🕸🕸 ...

__ADS_1


Awaas Guntur jangan sok kegantengan 😅


Kalau Ara othor jodohkan sama Leo nanti nangis 😄


__ADS_2