Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
56. Mau Menikah!


__ADS_3

Guntur mengerjapkan mata perlahan, ia tertidur dengan posisi tiarap. Punggungnya terasa perih dan sakit, dengan perlahan ia bangun dan duduk.


Pria itu baru menyadari ada Yumna yang meringkuk di sampingnya dengan mata sembab. Tangan kirinya terulur untuk mengusap rambut yang terurai panjang menutupi wajah cantik Yumna.


Sejak kapan dia jatuh cinta dengan gadis ini, Guntur tidak pernah menyadarinya. Tiba-tiba saja dia sangat takut kehilangan gadis gagal tumbuhnya ini.


“Abang,” Yumna terusik karena ada yang bergerak-gerak di atas rambutnya.


Gadis itu memindahkan kepala ke pangkuan Guntur, memeluk pinggang sang pria dengan posesif. Ia sangat takut Guntur meninggalkannya seperti yang terjadi pada Geo.


“Kalian sudah bangun,” Ayumi sudah lebih baik setelah beristirahat. Setelah bertahun-tahun baru tadi dia menggunakan keahlian beladirinya kembali. Tentu saja sudah tidak selincah saat masih muda.


“Apa Mommy terluka?” tanya Yumna tanpa melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Guntur. Ia baru ingat dengan sang mommy yang kena hantaman Leo.


“Mommy tidak terluka," Ayumi tersenyum duduk disisi tempat tidur menyiapkan air putih dan obat untuk Guntur.


"Kamu minum obat dulu Nak biar, lukanya cepat kering.”


“Terima kasih Tante,” Guntur menyambut dan langsung meminum obatnya. Dia tidak ingin lama-lama tersiksa karena luka tembak yang membatasi ruang geraknya.


“Jadi kapan kalian menikah?” Gurau Tora menysusul sang istri. Putrinya itu langsung lengket pada Guntur setelah kejadian tadi.


“Sekarang pun aku siap Om,” jawab Guntur serius. Tapi pasangan paruh baya itu menganggap ucapan Guntur hanya sebagai candaan.

__ADS_1


“Ish Abang ngajak nikah gak romantis banget. Kasih bunga kek, cincin berlian atau bunga bank.”


“Nanti Abang belikan bunga tujuh rupa paket komplit sama kemenyannya. Cincin dan bunga banknya kan sudah dari Geo.” Guntur tertawa geli memikirkan bunga yang seharusnya ditabur di atas pemakaman digunakan saat acara lamaran. 


“Ara gak mau mandi kembang tujuh rupa, Abang. Ara sudah laku,” Yumna mengangkat tangan ingin memukul Guntur tapi diurungkannya teringat punggung yang terluka itu.


Ayumi dan Tora tersenyum bahagia melihat putrinya yang tidak berhenti tersenyum memeluk Guntur.


“Arraz dimana?” Guntur khawatir keponakannya itu trauma seperti bundanya setelah kejadian yang bocah itu lihat tanpa sengaja.


“Masih tidur bersama Aya dan Aga. Arraz hanya ketakutan saat kejadian tadi, dia tidak kenapa-kenapa.” Jelas Tora mengerti dengan kekhawatiran yang pria muda itu alami.


Guntur menarik nafas lega, dia akan berurusan dengan seluruh penghuni rumah kalau sapai keponakannya itu kenapa-kenapa.


*


*


*


Cukup lama mereka mengobrol sampai akhirnya memutuskan untuk pulang. Tak lupa Emran membicarakan masalah pernikahan putranya, ketika Guntur mengatakan ingin menikahi Yumna secepatnya.


“Aku bukan pria lumpuh Ghani!!” Sentak Guntur geram, berkali-kali dia menyingkirkan tangan Ghani yang menggandengnya seperti pria lemah yang sedang sakit keras.

__ADS_1


Tapi suami Khalisa itu bertingkah sangat perhatian tidak seperti biasanya. Sungguh tingkah yang sangat menggelikan.


“Aku baru tahu kalau pria yang tidak mau direpotkan wanita ini rela tertembak demi wanitanya!!” Sindir Ghani dengan senyuman mengejek.


Guntur diam saja, malas menanggapi ocehan sepupunya daripada terus kena bully. Arraz yang masih tertidur berada dalam pangkuan sang kakek.


“Pah kenapa Arraz tidurnya sangat lama?” Tanya Guntur semakin khawatir pada keponakannya itu.


“Mungkin kelelahan karena kamu ajak lari-larian. Jangan sampai Kha tau kalau Arraz melihat kejadian tembak-menembak tadi.” Wanti-wanti Emran pada kedua putranya sambil mengelus kepala sang cucu.


Ghani yang sedang menghidupkan mobil menganggukkan kepala saja sebagai jawaban. Lalu membawa mobilnya pulang, sementara Guntur berdecak. “Itu kalahu Papa bisa menutup mulut Arraz.”


Keponakannya itu sangat susah diberitahu, walau dilarang pasti akan tetap bercerita pada bundanya dengan kejadian-kejadian yang dialaminya setiap hari.


Sampai di rumah Guntur langsung diserang rentetan pertanyaan dari sang mama yang notabene adik kandung ayahnya. Guntur sampai menghela nafas lelah, kalau begini luka di punggungnya akan semakin lama sembuh.


“Kau ini kenapa tidak memberi tahu Mama kalau tertembak!!” Sarkas Mira memukul tangan putranya.


“Mah, nanti tangan punggung Guntur berdarah,” beritahu Ghani pelan sambil meringis melihat ibu kandungnya yang sangat bersemangat menyiksa Guntur.


“Guntur kesakitan mana ingat sama hp buat nelpon Mama,” klarifilasi Guntur seraya memutar bola mata jengah. Sekalian saja suruh dia live ig saat bersimbah darah tadi.


“Iya juga ya,” Mira menggaruk tengkuk kikuk. Satu tangannya ia gunakan mengusap lengan Guntur. Mendengar putranya tertembak Mira langsung syok, takut Guntur tidak bangun selama berbulan-bulan seperti yang menantunya alami dulu.

__ADS_1


“Mah, Guntur mau menikah.” Gumam Guntur tiba-tiba.


“Sama siapa?” Mira menatap Guntur dengan tatapan menyelidik, “jangan bilang kamu asal memungut perempuan agar bisa melupakan Ara!!” Sarkasnya kesal, mengingat Guntur yang suka seenaknya sendiri dan susah dikasih nasehat.


__ADS_2