Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
129. Baby Titipan


__ADS_3

"Ara sudah baikan Abang, mau jemput baby." Ucap Yumna setelah tubuhnya terasa lebih ringan.


"Biarin aja Sayang gak usah dijemput. Untuk malam ini Ara istirahat jangan khawatirkan baby. Ghani dan Kha pasti menjaganya," bujuk Guntur yang sudah hampir dua bulan ini tidurnya tidak beraturan lagi. Sejak statusnya berubah jadi ayah. Dan malam ini dia ingin bermanja-manja pada sang istri.


"Abang pasti mau macam-macam!!" Yumna memutar bola mata malas. Sangat tahu isi kepala suaminya itu apa. Apalagi sejak jatah malamnya yang terpangkas habis.


"Ara dulu gak pernah nolak Abang, kenapa sekarang selalu nolak." Guntur memasang tampang memelas.


"Ara gak nolak Abang, Ara cuma capek." Ujar Yumna yang langsung mengulurkan tangan membenamkan sang suami ke pelukannya.


Guntur berseru senang dalam hati, tidak sia-sia berakting sedih dengan totalitas. Ia langsung melayangkan aksinya menggempur Mommy Bian sampai kehabisan tenaga.


Sementara di kamar yang lain Khalisa dan Ghani menemani Arraz bermain dengan baby Bian, juga Nefa yang sudah tertidur. Pasangan suami istri itu sudah seperti pengasuh bayi karena tidak hanya dititipi baby Bian, tapi juga Nefa. Tomi sedang menghadiri undangan kolega bisnis bersama Anindi. Membuat mereka harus meninggalkan putrinya.


"Arraz kalau ngantuk tidur aja duluan Sayang. Ayah dan Bunda yang menemani dua adek Arraz ini," ujar Khalisa. Mengelus kepala putranya yang sudah mengantuk.


"Bunda tidur dimana? Ayah tidur dimana? Kasurnya gak muat untuk berlima." Arraz menatap dua baby yang saat ini menguasai tempat tidur.


"Adek Nefa tidur di box sana," Khalisa menunjuk box yang ada di samping sang suami. "Dan adek Bian disini." Lanjutnya menunjuk box yang ada di sampingnya.


"Dan Arraz disini." Arraz membaringkan tubuhnya dan memeluk Nefa.


"Abang, Kha beneran takut mereka gak bisa pisah," gumam Khalisa pelan melihat putranya yang mendekap putri Tomi dengan sangat erat. Tidak lama setelahnya sulung Ghani itu tertidur.

__ADS_1


"Sayang ingat, Arraz menyayangi Nefa sebagai adik. Dia belum mengerti perasaan apapun, hanya Kha yang terlalu khawatir berlebihan." Lagi-lagi Ghani meyakinkan istrinya, memisahkan Arraz yang memeluk Nefa dengan pelan. Kemudian menidurkan putri Tomi ke box bayi, juga dengan baby Bian.


Setelahnya Ghani meletakkan guling di samping sang putra agar tidak terjatuh. Sedang dia berbaring di samping Khalisa. Memeluk istrinya dari belakang.


Beruntunglah mereka kedua baby titipan itu tidak ada yang menangis. Baby Bian hanya terbangun saat buang air dan kehausan. Sedang Nefa tidur dengan sangat nyenyak.


Keesokan paginya


"Arraz masih mengantuk?" Ghani mengacak-acak kepala putranya yang dia bangunkan untuk sholat subuh.


Arraz menganggukkan kepala mungilnya tanpa bisa bersuara lagi merebahkan kepala di pangkuan Ayah Ghani. Bunda Kha sudah turun ke bawah membantu sang nenek menyiapkan sarapan.


Tomi langsung masuk saja ke kamar sepupunya. Tidak khawatir ada pemandangan panas yang bisa merusak mata dan jantung. Karena ada tiga bocah kecil yang mencegah kegiatan Ghani bercocok tanam.


Ghani menjawab dengan gelengan kepala sambil mengelus-elus puncak kepala Arraz.


Sementara di kamar lain Guntur lagi-lagi membuat Yumna kelelahan. Tidak ingin membuang kesempatan langka ini.


"Abang Ara capek," gumam Yumna yang sudah terkapar dalam pelukan Guntur dengan bermandikan keringat.


"Ara istirahat dulu. Terima kasih Sayang," Guntur mengecup puncak kepala wanita yang sudah membuatnya kecanduan. Rasanya dia seperti sedang berlibur menjadi ayah.


Yumna tidak menyahut sudah terlelap kembali. Karena istirahat yang dikatakan sang suami tadi malam bukanlah tidur. Hanya istirahat menjaga baby Bian, karena sampai tengah malam Guntur tidak berhenti menggepurnya. Dia tertidur pun Guntur masih beraksi, alhasil tubuhnya serasa remuk.

__ADS_1


Melihat Yumna yang tertidur kembali Guntur bangun duluan dan membersihkan diri. Setelahnya dengan wajah cerah ia mendatangi kamar Ghani, dan disana sudah ada Tomi.


"Woww yang wajahnya cerah setelah semalaman bercocok tanam," goda Tomi.


"Tentu saja, serasa pengantin baru." Kekeh Guntur kemudian menatap putranya yang masih tidur nyenyak tidak berani mengganggu.


"Memangnya kau tidak!!" Ghani mendelik pada Tomi.


"Of course aku tidak membuang kesempatan langka!" Seru Tomi sambil senyam-senyum sendiri mengingat betapa panas ranjang mereka tadi malam. Mengingat suara-suara sexy Anindi membuat tubuhnya terasa terbakar kembali.


"Dan semua ini tidak gratis, kalian akan bergantian menjaga Arraz selama seminggu." Ucap Ghani dengan seringaian tipis, dia tiba-tiba saja punya ide untuk mengajak Khalisa honeymoon lagi setelah melihat dua wajah sepupunya ini.


"What?" Pekik Tomi dan Guntur bersamaan.


"Ada yang salah? Satu malam bayarnya satu minggu!" Ghani berucap tegas yang tidak bisa diganggu gugat.


"Tidak bisa!!" Sahut keduanya, bersamaan bagi Guntur dengan kehadiran baby Bian saja dia sudah kehilangan banyak waktu bersama sang istri. Apalagi kalau ada Arraz yang tidur di tengah-tengah mereka.


"Dan aku tidak terima penolakan!!" Ghani tidak peduli, dia tetap akan menitipkan Arraz pada dua orang itu nanti.


Tomi dan Guntur saling pandang kemudian menghela napas berat bersamaan. Anindi pasti tidak akan menolak kalau dititipi Arraz. Karena bocah itu sudah seperti putranya sendiri. Dan itu akan menyulitkan posisi Tomi yang susah untuk bermanja-manja dengan sang istri.


Melihat dua wajah tampan yang tadi cerah tiba-tiba kusut membuat Ghani susah payah menahan tawa. "Rasakan, aku kerjain!!"

__ADS_1


__ADS_2