Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
110. Kemasukan Setan


__ADS_3

Guntur menyeka keringat di tubuh mungil istri kecilnya yang sudah tertidur nyenyak. Awalnya saja Yumna menolak namun setelahnya tidak mau disudahi.


"Abang tahu mungkin akan sulit untuk membawa Ara pulang. Tapi Abang akan perjuangkan Ara," gumam Guntur.


Mertua dan kakak iparnya pasti tidak akan tinggal diam kalau ia menjemput Yumna. Lama menyelami wajah sang istri yang tertidur dengan damai akhirnya Guntur menyusul ke alam mimpi.


“Abang,” Yumna mengerjapkan mata seraya menyingkirkan tangan yang menghimpit perutnya.


Perlahan Yumna membuka mata dengan sempurna. Entah sudah berapa lama mereka tertidur. Rasanya ia tidak ingin jauh-jauh lagi dari suaminya ini. Tangannya terulur membelai rahang tegas milik sang suami yang ditumbuhi bulu-bulu halus.


“Istri Abang sudah bangun?” Guntur kembali melingkarkan tangannya di pinggang Yumna dan menempelkan pipinya pada pipi sang istri.


“Abang ngiler ih,” Yumna sengaja mendorong pipi Guntur pelan lalu berguling menjauh setelah berhasil melepaskan pelukan sang suami.


“Iler Abang wangi Sayang,” Guntur menarik kembali tubuh mungil itu agar mendekat.


“Ini jam berapa, nanti Bang Aga nyariin Ara?” Yumna tidak bergerak lagi, malah semakin beringsut ke pelukan Guntur.


“Sudah malam Sayang, Ara tidur disini aja temani Abang.” Guntur menunjuk kearah jam dinding yang baru menunjukkan pukul setengah enam sore.


“Masih sore Abang belum malam,” dengus bibir mungil itu setelah mengikuti arah yang ditunjuk Guntur.


“Malam Sayang, kan kamar kita gelap.” Guntur mengeratkan pelukan, tidak ingin berpisah dari istrinya ini lagi. Satu bulan cukup menyiksa karena kebodohannya sendiri.


“Abang buta warna ya, ini masih terang.” Seru Yumna sambil mengerucutkan bibir.


“Hati Abang gelap kalau gak ada Ara disini,” Guntur mencium gemas pipi istri kecilnya berulang kali.


“Ish kalau ada maunya baru manis,” Yumna mencubit pinggang Guntur agar berhenti menciumi pipinya. Dia sampai susah bernapas karena ciuman sang suami yang tanpa henti.


“Ara mau yang manis Sayang,” Guntur langsung menyatukan benda kenyal yang membuatnya selalu kecanduan dan membangkitkan hasratnya. Lama mereka menyelami rasa rindu satu sama lain.


Guntur baru menghentikannya saat Yumna hampir kehabisan napas. “I love you," ucapnya lalu mengecup di kening wanitanya dengan penuh cinta.

__ADS_1


...💥💥💥 ...


“Mas, kenapa Ara belum pulang?” tanya Ranaya pada sang suami. Ia mencemaskan adik iparnya yang sedang hamil itu, sudah hampir malam tapi belum datang juga.


“Mungkin lagi ngerjain tugas Sayang, sebentar lagi pasti pulang.” Jawab Sagara tenang sambil memeriksa email masuk di ponselnya.


“Aku sudah telepon Ara dari tadi dan kirim pesan tapi gak dibalas Mas, gak biasanya Ara gak angkat teleponku.” 


Sagara menarik Ranaya yang mondar-mandir di depannya untuk duduk. “Sayang mungkin Ara sedang ngerjain tugas dan gak dengar ada telepon darimu.”


Sagara yakin adiknya itu baik-baik saja jadi ia tidak terlalu cemas.


"Aku beneran khawatir Mas, cepat suruh anak buahmu nyari Ara sekarang!" Suruh Ranaya yang sudah tidak bisa tenang.


"Iya-iya." Sagara pura-pura langsung menghubungi anak buahnya agar istri cantiknya ini bisa diam.


Detik menit berlalu hingga sudah setengah jam Yumna belum juga pulang. "Mas, Ara dimana?" Ranaya menggoyang-goyang tangan suaminya yang sibuk sendiri.


"Sabar Sayang," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel.


"Aku tahu kamu khawatir sama Ara karena dia sedang hamil. Tenang Sayang Ara baik-baik aja," Sagara mengelus-elus tangan Ranaya yang berada digenggamannya dengan jempol.


"Mas itu cuma bilang tenang, sabar, tenang, sabar. Tapi gak dicari," kesal Ranaya sampai menitikkan air mata.


Sagara langsung speechless melihat istri yang ada di hadapannya berubah seratus delapan puluh derajat. Sampai menangis menghawatirkan Yumna.


"Ini Mas cari," Sagara langsung melacak ponsel sang adik dan betapa terkejutnya dia kalau adiknya itu sedang berada di hotel.


"Gimana?" Tanya Ranaya dengan senyuman cerah.


"Sayang, kenapa kamu membuatku khawatir. Tadi marah-marah, menangis dan sekarang senyumannya ngeri sekali." Sagara sampai bergidik ngeri menatap wajah Ranaya yang seperti bunglon berubah-ubah.


"Mas!!" Ranaya memelototkan mata memukul tangan Sagara dengan kekuatan ekstra.

__ADS_1


"Aww..!! Sakit Sayang, kamu gak pernah kasar. Kenapa jadi kasar sama suami sendiri." Sagara langsung menghindar saat sang istri ingin memukulnya kembali.


"Cari Ara Mas!!" Teriak Ranaya sangat kesal.


"Iya, ini Mas mau jemput Ara." Sagara menarik napas kasar melihat perubahan tingkah Ranaya.


"Ikut!!"


"Kamu tunggu di rumah. Biar aku yang jemput Ara," ucap Sagara lembut.


"Enggak, pokoknya aku mau ikut!!" Ranaya berjalan lebih dulu kearah pintu meninggalkan suaminya.


"Dia kesambet setan apa?" Gumam Sagara langsung menghubungi mommy-nya takut Ranaya kenapa-kenapa.


"Mommy cepat pulang!!" Pekik Sagara.


"Hei kenapa teriak-teriak!!"


Sagara langsung menciut ternyata yang mengangkat teleponnya sang daddy.


"Dad, cepat ajak Mommy pulang. Aya seperti kerasukan setan, tadi marah-marah terus menangis dan beberapa saat kemudian tertawa terus marah-marah lagi." Jelas Sagara sambil berjalan terburu-buru menyusul istrinya.


"Aga, Aga. Mana ada setan yang berani menempel pada istrimu." Sahut Tora dengan tertawa gelak, beberapa saat kemudian tawa itu menghilang. "Beneran Aya kemasukan setan?" Tanyanya serius, memastikan kembali.


"Mana Aga tau Dad, makanya kalian cepat pulang. Sebelum aku gila menghadapi istri dan adikku ini sendirian," ucap Sagara frustasi. Dia tidak tahu bersama siapa adiknya di hotel dan apa yang sedang dilakukannya.


"Iya Daddy pulang secepatnya," jawab Tora langsung mematikan sambungan telepon. "Mengganggu saja," desisnya meletakkan ponsel itu ke dalam laci setelah menonaktifkan. Agar tidak ada yang mengganggu mereka lagi


"Aga kenapa Mas?" Tanya Ayumi khawatir, menarik selimutnya karena kegiatan mereka yang terhenti.


"Gak kenapa-kenapa. Ayo kita lanjut," ajak Tora. Pria berumur itu tidak mau kalah dengan anak muda, malah semakin bersemangat.


"Kita pulang, Aga minta kita pulangkan. Aku khawatir Ara kenapa-kenapa," Ayumi tidak menanggapi keinginan suaminya.

__ADS_1


"Kita akan pulang setelah selesaikan ini," Tora tersenyum sumringah. Sedang Ayumi mencebikkan bibir, terpaksa mengikuti keinginan suaminya.


Kalau tahu dia ikut ke London hanya untuk melayani suaminya ini, lebih baik bersama anak-anak di rumah. Bukannya diajak jalan-jalan Ayumi malah dikurung di kamar. Keluar kalau ikut sang suami ke kantor saja. Sudah tua tapi masih mau bulan madu terus.


__ADS_2