
"Abang, Ara boleh ikut ke kantor?" Pinta Yumna setelah mereka selesai sarapan.
"Eits kenapa masing manggil Abang, ulang!" Guntur menahan tawa melihat wajah wanitanya memberengut masam.
"Sa-yang, aku boleh ikut ke kantor?" Ucap Yumna dengan tercekat-cekat karena lidahnya kaku mengucapkan panggilan sayang.
"Kok beda, Abang cuma minta Ara ubah panggilan abang jadi sayang." Ujar Guntur semakin usil.
"Ish, Abang ribet. Ara malas ngomong lagi!!" Kesal Yumna karena sudah dipermainkan sang suami.
"Hm, kenapa merajuk." Guntur langsung memeluk istrinya yang ingin kabur keluar kamar.
"Abang menyebalkan!!" Ketus Yumna.
"Abang cuma minta dipanggil sayang, masa menyebalkan." Guntur semakin menggoda si ibu hamil.
"Abang itu gak hanya menyebalkan, tapi sangat-sangat menyebalkan!!" Cetus Yumna yang masih sangat kesal. Guntur menganggapi kekesalan istrinya dengan tawa gelak. Membuat kadar kekesalan Yumna semakin bertambah.
"Abang bisa gak sih gak ngeselin gini!!" Yumna mencubit perut Guntur agar berhenti tertawa.
"Bisa Sayang," Guntur menyingkirkan tangan mungil yang suka sekali menyakitinya. Menggendongnya ke tempat tidur, lalu membawa tubuh mungil dengan perut buncit itu duduk di pangkuannya.
"Sini Abang kasih jatah dulu biar gak cemberut terus." Ujarnya memberikan sapuan lembut di bibir sang istri.
"Hm, langsung berhentikan cemberutnya." Guntur masih menggoda, jempolnya mengusap lembut bibir Yumna yang membengkak karena ulahnya.
"Bilang dong kalau mau dicium," lanjutnya menciumi pipi Yumna dengan gemas kemudian beralih ke perut. "Ara masih takut ngeluarin baby?"
Yumna mengangguk saja sambil menahan geli karena Guntur tidak berhenti menciumi perutnya.
"Nanti setiap malam Abang tunjukin jalan keluar biar baby gak nyasar."
__ADS_1
"Itu maunya Abang!!" Yumna ingin mencubit perut Guntur lagi tapi lebih dulu ditahan si empunya.
"Ini tangannya gak boleh buat nyubit Sayang. Tangannya buat ngelus-ngelus aja," Guntur tersenyum jahil mengecup telapak tangan sang istri.
"Abang mesum!!" Yumna menarik tangannya dengan pipi yang sudah memerah.
"Masih malu-malu?" Guntur tertawa gelak, menciumi Yumna dengan gemas.
"Abang sudah hapal cara bikin jalan tol baby, masa Ara masih malu Sayang," sebutnya tanpa berhenti tertawa.
"Stop Abang!!" Yumna semakin malu kalau diingatkan tentang percintaan panas mereka.
"Ini juga biasanya suka mendesah keenakan, hm." Guntur mengapit bibir mungil sang istri, "mau Abang ingatkan lagi bagaimana suara sexy nya." Bukannya berhenti menggoda, Guntur malah semakin menggoda kekasihnya.
Kesal, Guntur tidak berhenti menggodanya. Yumna tersenyum dalam hati dan langsung menyasar leher sang suami tanpa banyak bunyi.
"Argh," Guntur langsung mengerang karena sentuhan yang membuat si adik kecil yang sudah bangun sejak tadi jadi gelisah.
"Shiitt, dasar nakal!" Umpat Guntur, dia hanya menggoda tapi istri kecilnya malah langsung bertindak dengan agresif. Walau ada rasa senang, tapi ini jamnya sudah mepet dia ada meeting penting di kantor.
"Kita selesaikan Sayang," pinta Guntur dengan hasrat yang sudah menggebu.
Yumna menggeleng nakal, "ayo Abang siap-siap ke kantor. Eh salah, ayo Sayang siap-siap ke kantor." Katanya dengan suara sengaja dimanja-manjakan.
"Rasakan, makanya jangan macam-macam sama Ara!!" Seru Yumna dengan seringaian licik.
"Sebentar Sayang," Guntur membaringkan sang istri. Ingin menuntaskan adik kecilnya sebentar.
Drt... drt... dering ponsel membuat Guntur menghentikan kegiatannya. Yumna tertawa penuh kemenangan bangun dari rebahan.
"Jangan senang dulu Sayang." Guntur memasukkan ponselnya setelah selasai berbicara di telepon.
__ADS_1
"Ayo ikut Abang ke kantor." Guntur tidak ingin sakit kepala seharian karena hasratnya yang tidak tersalurkan.
"Siap suamiku," Yumna tersenyum penuh arti mengambil sweater dan memoles tipis wajahnya.
"Sayang ngomong apa tadi, coba ulang." Guntur mendekati Yumna yang berdiri di depan cermin.
"Suamiku," ulang Yumna.
"Manisnya istriku ini," ucap Guntur mengecup basah di pipi lalu memeluk dari belakang sambil mengelus-elus perut buncit Yumna.
"Mau ke kantor apa mau selesaikan disini dulu Abang?" Tanya Yumna yang tahu suaminya sedang buru-buru.
"Di kantor Sayang," Guntur langsung menarik lembut pinggang sang istri agar berjalan mengikutinya. Hampir saja benar-benar dia terjang ibu hamil ini.
...🌺🌺🌺...
Selesai meeting Guntur langsung menyerang istrinya. Dia sudah tidak bisa menunda lagi. Selama dua jam meeting kepala atas dan bawahnya sakit karena terbayang percintaan panas mereka.
Suara-suara khas percintaan menggema di ruang istirahat Guntur. Pasangan sejoli itu saling melepas suara sexy sampai keduanya kelelahan.
"Terima kasih Sayang," Guntur mengecup kening istri kecilnya yang sudah tertidur. Setelah istirahat sebentar Guntur langsung membersihkan diri karena ada pekerjaan yang sudah menantinya.
Saat membuka pintu Tomi sudah berdiri di depan mejanya dengan tatapan dingin dan tangan yang dimasukkan ke saku celana. Itu artinya Tomi sedang marah.
"Dua jam Guntur!!"
Ya selama dua jam Tomi menunggu laporan dari Guntur tapi tidak datang juga. Ternyata orangnya asik bercinta.
"Wait," Guntur bergegas ke meja dan membuka laptop karena tahu Tomi sedang marah besar dengannya.
Bagaimana Tomi tidak marah, sudah meeting datang terlambat. Dan apa yang dia minta sengaja tidak dikerjakan malah asik-asikan bercinta di jam kerja.
__ADS_1
"Lima menit sudah harus ada di mejaku!!" Tomi langsung keluar ruangan setelah mengucapkannya.
"What, gila!!" Umpat Guntur. Untung otaknya sedang encer setelah mendapat suntikan energi.