
"Om, takut!" Rengek Arraz saat Guntur menghindari lelaki yang melayangkan pukulan ke arahnya.
"Tutup mata Arraz!!" Titahnya membungkukkan badan. Guntur tidak bisa menyerang balik karena sedang menggendong Arraz. Ia hanya bertahan dengan menghindar, semakin menguatkan pegangannya pada Arraz.
"Guntur lari!!" Teriak Ranaya menendang belakang orang yang menyerang Guntur. Tangannya mengeluarkan pistol menembak lelaki yang datang menyerangnya.
Suara tembakan itu terdengar sampai ke telinga Tora yang sedang menenangkan Yumna. Ia bergegas ke arah balkon, tidak mungkin menantunya mengajari Arraz dengan pistol asli.
Matanya membelalak saat di bawah sana terjadi kegaduhan. Guntur sedang kesusahan melindungi Arraz.
"Ara bantu Guntur membawa Arraz masuk!!" Teriak Tora melemparkan pistol pada putrinya.
Ia berlari meninggalkan kamar sang putri mengambil senjata di kamarnya. Baru turun, ternyata di rumahnya juga sudah terjadi keributan. Istrinya sedang menghadapi Leo dan anak buahnya sendirian. Kenapa rumahnya jadi bisa kebobolan, kemana perginya para penjaga.
"Ayumi!!"
"Mommy!!" Teriak Tora dan Yumna bersamaan saat Leo berhasil menghantam bagian dada Ayumi dengan keras.
Perempuan yang sudah tidak muda lagi itu meringis kesakitan. Tora langsung menangkapnya sebelum terjatuh ke lantai.
__ADS_1
Yumna melindungi daddy-nya yang membawa sang mommy ke tempat aman. Ia melawan Leo dan tiga anak buahnya sendirian.
Gadis itu mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghindari serangan Leo. Yumna berguling di lantai saat Leo melepaskan tembakan ke arahnya.
Ia berlindung di belakang sofa menembaki Leo dan anak buahnya. Sampai peluru miliknya menipis, empat lawan satu sangat menyulitkannya.
"Ara!!" Teriak Guntur menyerahkan Arraz pada Ranaya yang berhasil melindunginya sampai masuk ke rumah.
Tapi ternyata dalam rumah itu tidak lebih aman daripada di luar. Para anak buah Tora sudah berdatangan membantu Sagara.
Sebelum mendekati Yumna Guntur merebut pistol di tangan Ranaya dan menerjang Leo yang menembaki Yumna sampai terjatuh. Ia melepaskan peluru pada anak buah Leo yang ingin membackup.
"Cepat bawa Arraz ke kamar!!" Perintah Guntur pada Ranaya setelah berhasil melindungi Yumna.
Ranaya yang kesusahan menggendong Arraz sambil menutup mata dan telinga bocah itu menurut. Memasuki kamar yang paling dekat dengan tempatnya berdiri sekarang.
Saat Guntur lengah, Leo bangun melepaskan tembakannya mengenai punggung lelaki itu.
"Abaaaangg!!" Teriak Ara berlari menghampir Leo. Namun lelaki itu berhasil menghindar menarik dirinya mundur dari sana sebelum terkepung. Tidak mempedulikan anak buahnya yang tak bisa keluar.
__ADS_1
"Abang!!" Teriak Yumna membawa Guntur yang bersibah darah untuk duduk dan memeluknya.
"Abang baik-baik saja," Guntur tersenyum mengelus kepala Yumna. Apa harus seperti terluka dulu baru dia bisa memeluk gadis yang membuatnya gundah gulana ini.
“Jangan ucapkan itu, Ara gak suka.” Kalimat itu mengingatkan Yumna pada Geo yang mengucapkan kata yang sama dihari terakhirnya membuka mata.
Air matanya berjatuhan begitu saja, sangat takut lelaki yang sedang memeluknya ini meningglkannya seperti Geo.
Guntur menyeka air mata di pipi Yumna dengan usapan lembut. Yumna menahannya dan mengecup telapak tangan itu.
“Jangan menangis, beneran gak sakit kalau ada Ara disini.” Canda Guntur meniup-niup mata sang gadis agar berhenti menangis.
"Abang bilang gak sakit?" Yumna memperlihatkan telapak tangan yang digunakannya untuk menahan luka Guntur penuh darah.
"Ara mau menikah dengan Abang?" Tanya Guntur ditengah sakit yang berusaha ia tahan untuk tetap sadar. Agar masih bisa menatap Yumna.
"Ara mau!!" Jawab Yumna cepat.
Guntur tersenyum membawa tubuhnya memeluk Yumna. Perlahan kesadarannya mulai hilang, karena banyaknya darah yang tak berhenti merembes dari punggungnya.
__ADS_1
Yumna yang menyadari pelukan itu terasa lebih berat berteriak, "Daddy!!"
Air matanya yang tadi berhenti, kini keluar lagi. Tidak peduli tubuhnya penuh dengan darah Guntur. Ia memeluk lelaki itu seerat mungkin, kejadian ditinggalkan Geo terus berputar-putar di kepalanya. Sampai tubuh mungil itu bergetar ketakutan.