
“Arraz, Om minta coklat.” Guntur mengulurkan tangan pada keponakannya.
“Arraz gak punya coklat Om, cuma dapat jatah tiga biji hari ini. Udah abis dalam perut Arraz.” Putra Ghani itu menyingkap kaosnya lalu mengusap-usap perut.
“Bunda yang punya banyak,” tunjuknya pada Khalisa yang sedang beberes rumah.
“Mintakan sama bundamu,” titah Guntur.
“Om minta sendiri aja. Nanti Arraz dimarahi bunda minta coklat terus,” tolak si bocah kecil itu.
“Gak ke kantor lagi?” tanya Ghani sambil menenteng laptopnya duduk di samping Arraz.
“Malas,” jawab Guntur santai.
Sudah dua minggu lebih dia malas-malasan berangkat ke kantor. Kerjaannya hanya di rumah mengganggu Arraz sampai menangis.
“Orang sibuk nyari kerja, dia malah malas-malasan. Kasian Tomi sendirian, sebentar lagi Nindi melahirkan.” Ujar Ghani menasehati adik sepupunya.
“Kalau kasihan temani sana. Gantian, aku yang urus bisnismu di Singapura.” Guntur menjawab asal.
“Nih kerjain,” Ghani memberikan laptop di pangkuannya pada Guntur sambil tertawa usil.
“Sayang, kita pacaran yuk. Ada yang ngerjain kerjaan Abang dan jaga Arraz.” Ujar Ghani seraya memeluk Khalisa dari belakang.
“Dasar lucknut!!” Umpat Guntur kesal.
“Om, gak boleh ngomong kasar.” Beritahu Arraz sambil menggoyang-goyangkan jari telunjuknya ke depan wajah.
Sedetik kemudian Guntur mendapatkan ide cemerlang. Lelaki itu menutup laptop Ghani, meletakkannya ke atas meja, “Arraz ikut Om jalan-jalan.” Ajaknya seraya menangkap jari telunjuk sang keponakan.
“Kemana?" Tanya Arraz dengan wajah malas menarik jarinya.
“Kita ke rumah Om Aga, disana ada tempat buat main tembak-tembakan.” Ujar Guntur meracuni otak Arraz.
“Ayo sekarang!” Seru Arraz, tentu saja dia sangat senang diajak main tembak-tembakan.
“Tapi jangan ngomong sama bunda kalau kita mau main tembak-tembakan,” ujar Guntur mewanti-wanti. Bisa gagal rencananya kalau Khalisa mengamuk gara-gara dia meracuni otak keponakannya ini.
“Setuju,” jawab Arraz tersenyum dengan mengangkat jempol.
“Good, sana izin sama ayah dan bunda dulu.” Guntur tersenyum smirk, biarkan saja Arraz yang jadi kambing hitam. Asal jangan kambing jantan, jenggotnya kepanjangan.
“Ayah, Arraz boleh ikut Oom ke rumah Om Aga.” Izin Arraz mendatangi orang tuanya yang sedang bermesraan sambil membersihkan vas bunga dari debu.
“Mau ngapain Sayang, Om Aga jam segini kerja.” Jawab Khalisa lebih dulu.
__ADS_1
“Mau main tembak-tembakan bunda.” Jawab Arraz semangat, sudah lupa dengan pesan Guntur.
“Mampus,” gumam Guntur menepuk jidat. Khalisa sudah melotot tajam padanya.
"Itu anak kenapa susah dikasih tau sih!" Gerutu Guntur, pasrah saja rencananya gagal.
“Gak boleh!!” Larang Khalisa cepat.
“Yahhhh, bunda gak asik." Decak Arraz mencebikkan bibir, "boleh ya Yah?” katanya beralih pada Ghani. Kalau tidak dapat izin dari sang bunda, asal ayahnya mengizinkan itu tidak masalah.
“Boleh Sayang,” jawab Ghani dengan anggukan sambil tersenyum mengusap kepala putranya.
“Abang, kok dibolehin sih!”
“Disana gak ada tempat main tembak-tembakan Sayang. Itu akal-akalan Guntur aja mau ketemu Ara,” bisik Ghani di telinga sang istri.
Padahal Ghani mana tau disana ada spot menembak atau tidak, yang penting dia bisa pacaran tanpa gangguan Arraz hari ini.
“Arraz boleh ikut, tapi harus pintar. Oke?” Ujar Khalisa tegas.
“Oke Bunda,” jawab Arraz dengan semangat empat lima berlari kecil mendatangi Guntur.
Di tempat duduknya Guntur menghela napas lega. Dia tidak tau apa yang Ghani bisikkan sampai Khalisa menyetujui Arraz ikut dengannya. Tanpa bocah kecil itu dia tidak punya alasan mendatangi kediaman Tora.
“Assalamualaikum,” ucap Arraz ceria setibanya di kediaman Tora Damanuri.
“Wa’alaikumsalam, eh ada anak ganteng.” Sambut Ayumi, putra Ghani itu langsung mencium punggung tangannya.
“Ayo masuk boy,” ajak Ayumi menuntun bocah laki-laki itu diikuti Guntur.
Netra Guntur menyapu ke sekeliling ruangan, berharap bisa bertemu Yumna.
“Arraz mau main tembak-tembakan sama Om Aga,” sebut Arraz mencari-cari lelaki yang sangat ingin ditemuinya. Keinginan Arraz tentu saja berbeda dengan keinginan Guntur. Mereka memiliki tujuan masing-masing datang ke rumah ini.
“Om Aga gak ada di rumah Sayang, adanya Tante Aya dan Tante Ara.” Beritahu Ayumi yang membuat Arraz mendesah kecewa. Perempua paruh baya itu meminta art untuk memanggilkan anak dan menantunya.
“Arraz kesini mau main tembak-tembakan!” Kekeuh Arraz dengan wajah cemberut.
“Main tembak-tembakannya sama Tante Aya aja ya Sayang,” bujuk Ayumi.
“Arraaaazz!!” Pekik Yumna girang sambil merentangkan tangan. Tapi tiba-tiba suaranya memelan saat melihat Guntur juga ada disana. Gadis itu ingin kembali ke kamar namun ditahan Ranaya.
“Selesaikan masalah hatimu, atau akan menjadi penyesalan selamanya.” Beritahu Ranaya pada adik iparnya yang akhir-akhir ini menggalau ria.
“Sebelum Ara mulai, semua memang sudah selesai.” Jawab Yumna pelan mengikuti Ranaya ke ruang tamu.
__ADS_1
“Jika masih meninggalkan bekas itu artinya belum selesai. Hanya berusaha untuk kamu abaikan. Suatu saat nanti itu akan seperti gunung es, siap meledak ketika waktunya tiba dan berujung penyesalan.” Jelas istri Sagara dengan lembut pada adik iparnya.
Yumna diam, tidak menanggapi. Dia memang selalu berusaha mengabaikan perasaan yang semakin hari semakin tumbuh ini.
“Aya, temani Arraz menembak.” Ucap Ayumi pada menantunya.
“Mom, Arraz terlalu kecil untuk memegang benda berbahaya itu," sea Ranaya. Walau hanya main-main, tetap saja itu sangat berbahaya.
“Arraz sudah besar Tante!!” Protes Arraz, Ranaya terkekeh geli melihat Arraz yang memamerkan tangan. Seolah berotot seperti iklan susu L-men.
Sedang Guntur tersenyum bahagia melihat Yumna yang terus menghindari tatapan matanya. Dia sudah tidak peduli Arraz mau main menembak atau tidak.
“Kita tunggu Om Aga dulu,” putus Ranaya. Ia tidak berani mengambil resiko mengajari anak kecil. Walau dia sudah sangat mahir memegang benda itu.
“No. Arraz mau sekarang!!”
“Ikut Tante,” Ranaya mengulurkan tangan. Mengajak bocah lelaki itu ke tempat biasanya mereka latihan.
“Arraz mau coba main panah?” tawar Ranaya untuk mengalihkan perhatian anak kecil itu.
"Mau... Mau!!" Jawab Arraz riang.
“Tunggu sebentar, Tante belikan busur yang kecil.” Ujar Ranaya, sambil menunggu suaminya dia mencari peralatan memanah untuk anak kecil diaplikasi online.
Saat Arraz sibuk mengamati sekeliling tempat yang bisa digunakan untuk belajar menembak itu. Guntur justru disibukkan dengan perasaannya yang tak tentu arah.
“Ara,” panggil Guntur saat gadis itu ingin meninggalkan pergi. Mereka hanya tertinggal berdua di ruang tamu.
“Hm.”
“Sebentar please, kangen." Guntur tanpa ragu mengungkapkan perasaannya.
“Ara sibuk, bentar lagi mau berangkat kuliah!!" Bohong Yumna, padahal dia baru masuk kuliah minggu depan.
“Ngapain bohong sih, ini masih libur semester Ara.” Guntur meluruskan dengan kekehan.
“Ara mau jalan sama Ammar!!” Ralat Yumna tanpa rasa malu. Ia melepaskan tangan Guntur yang masih mencengkramnya.
“Ammar lagi, Ammar lagi. Kalau Ammar dikasih kesempatan. Kasih Abang kesempatan juga," pinta Guntur tak mau mengalah.
“Om ketuaan!” Sarkas Yumna galak.
...🐾🐾🐾...
Oo..Oo Kamu Ketuaan 🤭🤣
__ADS_1