Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
124. Gembul


__ADS_3

Guntur tidak jadi mengantar istri buncitnya kuliah karena sudah sangat terlambat. Ia terpaksa membawa Yumna ke kantor.


"Duduk disini Sayang, kalau mau istirahat ke kamar ya. Abang keruangan Tomi dulu," ucap Guntur seraya membantu istrinya untuk duduk.


"Iya Abang."


"Ara mau cemilan apa? Abang minta Zufar beliin." Tanya Guntur sebelum pergi agar istrinya itu anteng.


"Gak ada, Ara malas ngunyah. Kecuali Abang mau ngunyahin," jawab Yumna yang membuat sang suami menghela napas panjang.


"Ya sudah Abang tinggal dulu," Guntur mengecup puncak kepala Yumna sebelum keluar ruangan.


"Semoga saja tidak rewel seperti biasanya," batin Guntur. Sebenarnya dia malas membawa ibu hamil itu ke kantor karena selalu rewel kalau sudah bosan duduk diam.


*


*


Yumna yang mulai bosan bermain ponsel, berjalan mondar-mandir membawa perut buncitnya. Sudah satu jam lebih suaminya tidak juga kembali. Ia duduk di kursi kerja Guntur memainkan apa saja yang ada di meja sana.


Saking bosannya perempuan hamil itu menelungkupkan wajah ke meja sampai akhirnya tertidur.


Satu jam kemudian


"Sayang," panggil Guntur membawakan bebek goreng kesukaan sang istri. Ia baru selesai meeting dengan clien di restoran.


"Astaga kenapa tidur dikursi," Guntur melepaskan makanan yang dipegangnya lalu memindahkan Yumna ke ruangan.


"Bawa dua orang ternyata berat juga," gumam Guntur dalam hati. Napasnya tersenggal-senggal setelah membaringkan sang ibu hamil di tempat tidur.


“Abang, cepat pulang. Ara bosan sendirian disini,” gumam Yumna dengan mata yang masih terpejam. Memeluk tangan Guntur semakin erat.


“Kenapa semakin gemesin sih mbul,” Guntur mengelus-elus rambut Yumna dengan tangannya yang lain.


“Mbul?” Yumna membuka mata saat tersadar sudah berada di ranjang empuk.


“Ini gembulnya Abang gemesin banget,” Guntur menciumi perut buncit Yumna dengan penuh kasih sayang.


“Apa? Abang bilang Ara gembul!” Yumna bangkit dari tidur, melotot tajam pada sang suami yang tega mengatakannya gembul. Itu berarti Guntur sama saja mengatainya gendut.


“Abang gak mungkin bilang Ara sexy kan Sayang, itu sama aja berbohong.” Guntur meringis tapi masih bisa tersenyum usil.


“Abang ini gak bisa menyenangkan hati istri, sekali-sekali bohong buat nyenengin hati Ara.” Yumna berdecak kesal memukuli tangan Guntur.


“Iya-iya, Ara sexy dan gemesin banget. Abang makin Sayang deh,” Guntur menurut sajalah daripada tambah panjang.


"Abang bohong!!” Rajuk Yumna.


“Sayang, tadi katanya Abang boleh bohong.” Guntur menggaruk kepalanya pusing.

__ADS_1


“Gak boleh, bohong nya jangan di depan Ara juga Abang. Abang ini gak ada romantis-romantisnya, gak pengertian!!” Seru Yumna kesal.


“Ara mau pulang!”


“Sayang, Sayang jangan merajuk.” Guntur memeluk ibu hamilnya yang mulai rewel lagi.


“Abang tadi belikan Ara bebek goreng, Ara suka kan Sayang. Ayo kita makan,” bujuk Guntur.


“Suapin!”


“Iya, Abang suapin.” Ujar Guntur tersenyum, kadang bikin gemas. Kadang bikin kesal istri kecilnya ini.


“Kunyahin juga!”


“Sayang, kita blender aja ya biar Ara gak susah ngunyah lagi.” Goda Guntur dengan tawa kecil.


“Abang, Ara gak doyan jus bebek!!”


“Ya gak dijadiin jus bebek juga Sayang. Kan dicampur sama nasinya,” sahut Guntur asal seraya menuntun sang istri keluar dari ruang istirahat.


“Abang, Ara gak mau punya baby gila kayak Daddy-nya!!”


“Abang juga gak mau punya baby yang manjanya ke bangetan kayak mommy-nya," sahut Guntur tidak mau kalah. Membuat Yumna merengut masam.


“Jadi Ara manja?” tanyanya. Guntur mengangguk pasti.


“Sayang, kalau suka marah-marah nanti dedeknya mental loh kejedot tembok.” Canda Guntur yang membuat Yumna semakin marah.


“Duh salah lagi!”


“Abang kalau suka ngatain istri nanti cepat mati!!” Sarkas Yumna tidak mau kalah, dia sangat kesal pada suaminya ini.


"Awas Abang Ara kirim ke sarang buaya!!"


"Abang sudah punya sarang sendiri Sayang," Guntur langsung mendekap ibu hamilnya yang benar-benar merajuk. "Sayang banget sama Ara," rayunya menciumi pipi Yumna kemudian turun ke leher. Agar sang istri tidak marah-marah lagi.


"Mau makan dulu apa mau ditengokin dedeknya?" Ucap Guntur dengan senyuman penuh arti karena gembul kesayangannya berhenti memberontak.


"Ara mau pulang!!" Jawab Yumna, jangan harap dia luluh dengan rayuan maut Guntur yang sudah basi.


"Oke, kita pulang!!" Pasrah Guntur dengan tarikan napas berat.


...🌚🌚🌚...


“Sayang, merajuknya udahan yukk.” Bujuk Guntur, sampai malam istrinya itu masih tidak mau berbicara dengan.


"Sensitif banget sih, gak bisa diajak bercanda." Keluh Guntur dalam hati, tetap berusaha membujuk istri tersayangnya.


Yumna tidak menghiraukan ucapan sang suami, ia keluar mencari mommy-nya di ruang tengah. Guntur hanya bisa mengikuti dengan lemas, kalau tidak begitu istrinya akan semakin lama merajuk.

__ADS_1


“Mom, Ara mau tidur sama Mommy ya malam ini.” Ujar Yumna, mengambil posisi duduk diantara mom dan dad-nya.


“Nggak boleh!!” Sahut Tora dan Guntur serempak.


"Boleh," Ayumi tersenyum smirk mengelus puncak kepala sang putri.


“Daddy, kenapa ikut-ikutan bikin Ara kesal sih!! Mom aja bolehin,” rajuk Yumna pada Dad Tora.


“Daddy bukan bikin kesal Ara Sayang, tapi nanti malam kalau baby nyari daddy-nya gimana?” Untuk kali ini Tora berada di pihak Guntur, karena tidak ingin didepak sang putri dari kamar.


“Enggak! Baby gak akan nyariin daddy-nya yang ngeselin itu!!” Tukas Yumna dengan kejengkelan selangit.


“Abangkan udah minta maaf Sayang,” Guntur berjongkok di depan Yumna. “Maafin Abang ya, janji gak akan bikin Ara kesal lagi.”


“Abang janji terus tapi gak pernah ditepati, kayak pilpres aja!!” Cetus Yumna.


“Kali ini akan Abang tepati. Abang gak akan bikin Ara kesal lagi," mohon Guntur serius.


“Lanjutkan merajuknya!!” Teriak Sagara mengompori dari arah tangga. Menyenangkan sekali melihat drama rumah tangga live malam ini.


Guntur menoleh pada Sagara lalu melotot setajam silet.


“Bang Aga juga sama, ngeselin!!” Seru Yumna.


“Abang kenapa dibawa-bawa Sayang, Abang kan gak ngeselin.” Sagara menggeser Guntur lalu memeluk sang adik.


“Perut Ara kenapa buncit?” tanyanya lugu. Lupa kalau adiknya itu sedang pasang mode singa.


“Bang Agaaaaaa!!!” Teriak Yumna memekakkan telinga.


Empat orang yang ada di ruang tamu itu langsung menutup telinga dengan kedua tangan.


"Sayang, gak boleh teriak-teriak. Nanti cucu Daddy jadi tarzan." Tegur Tora, Yumna langsung menangis kencang. Kesal karena semua orang yang ada di rumah mengolok-oloknya.


"Sayang," Guntur menggeser Sagara. Memeluk istri kecilnya yang menangis sesenggukan, "cup... cup... Sayang, jangan menangis."


"Kalian jahat sama Ara."


"Maafin Daddy Sayang, Daddy cuma bercanda." Sesal Tora karena sudah menyinggung perasaan putrinya.


"Ara mau tinggal sama Papa Rizal, disini semua orang jahat." Sebut Yumna di tengah tangisnya.


"Ayo kita ke rumah Papa Rizal, Sayang." Tentu saja Guntur langsung menuruti keinginan Yumna. Karena di rumah itu istrinya tidak terlalu rewel dan sangat lengket juga penurut pada Papa Rizal.


"Gara-gara Mas nih!!" Geram Ayumi pada suaminya setelah Guntur membawa Yumna pergi. Sedang Sagara langsung melimpir agar tidak terkena serangan sang mommy juga.


"Mas cuma bercanda Sayang," ringis Tora.


"Bercanda-bercanda. Bercanda itu lihat situasi juga, putrimu itu sangat sensitif. Gak hamil aja sensitif apalagi hamil," omel Ayumi. Tora hanya mendengarkan, tidak mendebat agar kultumnya tidak berlangsung lama.

__ADS_1


__ADS_2