
Semua anggota keluarga menunggu dengan cemas di depan ruang operasi. Guntur memilih operasi caesar untuk persalinan sang istri. Sampai melahirkan istrinya itu tidak mau pulang ke rumah Dad Tora. Lebih memilih tinggal bersama Papa Rizal yang sangat memanjakannya.
Guntur tidak meninggalkan Yumna sedetikpun sampai persalinan selesai dilaksanakan. Awalnya dia ragu ikut ke ruang operasi. Tapi karena Yumna yang terus menangis ketakutan akhirnya Guntur memutuskan untuk terus mendampingi.
"Terima kasih Sayang," dengan air mata bahagia Guntur menciumi seluruh wajah wanita tersayangnya.
"Baby sudah keluar?" Tanya Yumna dengan suara serak karena sebelum persalinan banyak menangis.
"Sudah Sayang, Ara bisakan." Guntur tersenyum bangga menggenggam tangan Yumna. Yumna hanya mengangguk kecil.
Sementara diluar serentak mengucap syukur ketika mendengar suara tangisan bayi laki-laki. Mereka tidak sabar menunggu Yumna dipindahkan. Ruang VIP sudah mereka hias seperti acara ulang tahun untuk menyambut anggota baru. Karena rumah sakit itu milik keluarga jadi bebas melakukan apapun.
"Abang siapa yang ulang tahun?" Tanya Yumna bingung saat dipindahkan ke ruang rawat. Guntur juga baru menyadarinya kalau ruangan itu di dekorasi. Dia hanya bisa mengangkat kedua bahu dan tidak ingin memikirkannya.
"Ara masih takut atau mau gendong baby?" Tanya Guntur hati-hati, tidak ingin membuat istrinya yang sudah menjuang melawan rasa takutnya menjadi tertekan.
"Ara mau peluk," Yumna mengulurkan tangan menyambut baby boy. Melihat bayi kecil dengan pipi masih memerah dan mata tertutup itu melenyapkan semua rasa takut yang selama ini menyiksanya. Dan semua rasa sakitnya tidaklah berarti apa-apa.
"Abang, ini baby Ara?" Tanya Yumna tidak percaya bisa mengeluarkan bayi sebesar itu.
"Iya Sayang, itu baby Ara. Anak kita," Guntur menciumi pipi kekasihnya saat melihat butiran bening berjatuhan di pipi itu.
"Kenapa menangis Sayang, apa yang sakit?" Tanya Guntur perhatian.
"Ara bahagia," sebut Yumna yang semakin terharu.
"Dan Abang bangga sama Ara," Guntur memeluk istrinya erat.
__ADS_1
Anggota keluarga yang tadi memberikan waktu untuk pasangan itu akhirnya mendekat mengucapkan selamat. Ayumi dan Tora yang lebih dulu menyambut si baby boy.
Guntur membiarkan saja para tetua berebut anggota baru mereka. Seluruh cinta dan kasih sayangnya tetap tercurah untuk sang istri.
...💥💥💥 ...
Kediaman Emran
Setelah melewati perawatan selama tiga hari di rumah sakit, Guntur memboyong istrinya pulang. Karena terjadi perebutan baby boy antara Dad Tora dan Papa Rizal akhirnya Guntur memilih membawa Yumna pulang ke rumah Papa Emran biar adil.
Biarkan saja para kakek nenek itu mendatangi cucunya jauh-jauh. Daripada hidupnya serba salah.
"Sayang, baby Bian-nya tidurin di box aja." Ucap Guntur lembut, sejak dari rumah sakit Yumna tidak mau melepaskan putranya dari pelukan. Kecuali saat tidur, makan dan mandi. Guntur jadi kekurangan asupan nutrisi untuk penyemangat hidup.
"Nanti baby nangis," Yumna tersenyum pada sang suami. Tidak bosan menatap lekat baby yang berada di pangkuannya.
"Ara capek Sayang kalau dipangku terus." Guntur mengambil baby Bian dan meletakkannya dalam box bayi, "Abang kangen Ara. Sekarang cuma baby yang disayang, Ara sudah gak sayang Abang, hm." Guntur memeluk istri yang sangat dirindukannya.
"Abang, Ara sayang Abang." Yumna membalas pelukan sang suami dengan manja. Guntur meneguk saliva susah payah melihat squishy yang terisi penuh itu menyembul hampir keluar dari tempatnya.
"Abang butuh Ara sekarang," lirih Guntur menyusuri setiap inci leher jenjang Yumna.
"Abang belum boleh," Yumna menggeleng pelan mengabaikan glenyar-glenyar aneh ditubuhnya.
"Iya, cuma gini aja Sayang." Guntur mencumbui Yumna dengan lembut sambil menuntun tangan sang istri untuk menenangkan miliknya yang sudah gelisah. Setelah selesai menuntaskannya Guntur memeluk sang kekasih dengan penuh kasih sayang sampai mereka tertidur.
Pasangan itu terbangun saat mendengar tangisan baby Bian. Dengan rasa kantuknya Guntur mengangkat putranya.
__ADS_1
"Ara lanjut tidur, biar Abang yang jaga baby." Ucapnya seraya mengecup kelopak mata sang istri lalu menimang putranya agar berhenti menangis.
Keesokan paginya
"Guntur bangun!!" Panggilan dari depan pintu kamar lagi-lagi membangunkan dua sejoli yang masih tidur dengan berpelukan.
"Abang sudah siang," ucap Yumna pada Guntur yang juga baru membuka mata.
"Sebentar lagi Sayang, masih ngantuk." Guntur menarik Yumna kembali dalam pelukan mengabaikan suara panggilan di depan pintu.
Karena pintu tak kunjung di buka, Mira berinisiatif membuka pintu dengan kunci cadangan. "Kalian masih tidur?" Tanyanya sambil geleng-geleng kepala.
"Iya Mah, tadi malam baby begadang." Sahut Guntur masih dengan mata terpejam tidak mengijinkan Yumna beranjak dari sisinya.
"Kalian bersih-bersih dulu baru sarapan. Sudah agak siangan nanti lanjut tidurnya," nasehat Mira.
"Ya Mah, sebentar lagi." Tawar Guntur, Mira membawa cucunya turun untuk dimandikan. Mama papa muda itu tidak bisa diharapkan untuk merawat cucu mungilnya ini.
Setelah Mama Mira pergi, Guntur langsung beraksi menyasar sang istri melanjutkan yang tadi malam. Kesempatan jangan dibuang begitu saja. Besok-besok belum tentu Mama Mira mau berbaik hati menjaga baby Bian untuk mereka.
Usai mendapatkan asupan nutrisi ekstra pagi ini Guntur langsung mengajak istrinya mandi dan turun untuk sarapan. Rasa lelahnya tadi malam hilang setelah mendapat booster vitamin.
"Ck, sudah punya anak masih aja bangun siang!!" Decak Ghani, sangat tahu apa yang dilakukan sepupunya itu sampai berwajah cerah seperti ini.
"Kalian itu sama saja, jangan bertengkar. Jangan rusak gendang telinga cucu-cucu Mama!!" Sergah Mira sebelum terjadi sindir menyindir diantara anak menantunya.
Guntur langsung tersenyum penuh kemenangan dan mengecup pipi Mama Mira sebagai sogokan, "makasih Mah. Guntur temani Ara sarapan dulu."
__ADS_1
Mama Mira mengangguk tapi tetap menggerutu, "ada maunya aja manis."
"Mama kayak gak pernah dimabuk cinta aja," sahut Guntur diikuti kedipan mata menggoda. Kemudian mengajak istrinya kabur sebelum kena marah karena keusilannya.