
Tora benar-benar murka pada menantunya. Gara-gara Guntur tidak becus menjaga Yumna, putri dan calon cucunya itu tidak ditemukan sudah tiga hari ini.
Sekarang Brayen juga ikutan menghilang. Jadi siapa lagi yang membuat putrinya lenyap kalau bukan si brengsek itu.
Seluruh anak buahnya sudah Tora kerahkan untuk mencari Brayen. Tapi keberadaan pria itu tidak terlacak termasuk putrinya.
"Bukan salah Guntur kalau Ara diculik, Mas. Gak seharusnya Mas mengusirnya seperti tadi." Ayumi mengomel kesal pada suaminya, "bukan hanya Mas sendiri yang khawatir dengan keadaan Ara. Kami juga khawatir, terlebih Guntur suaminya."
"Menantumu itu tidak becus menjaga anak dan istrinya, Ayumi. Punya pengawal kenapa tidak digunakan untuk mengikuti mereka kemana-kemana."
"Tidak semua orang itu manja harus diikuti pengawal kemana-mana seperti presiden. Apalagi Emran dan keluarganya, mereka tidak suka menunjukkan kemewahan yang berlebihan." Sarkas Ayumi semakin dibuat kesal atas pemikiran suaminya yang malah menyalahkan sang menantu. Sangat terlihat jelas menantunya itu sedang kacau.
"Sayang kenapa jadi marah sama Mas sih?" Tora meringis disaat seperti ini istrinya itu masih bisa mengomel.
"Awas saja kalau Mas sampai membuat Ara terpisah dengan Guntur gara-gara keegoisan Mas itu. Belum cukup melihat Ara hampir gila kehilangan Geo."
"Bukan egois Ayumi, aku mengkhawtirkan anak dan cucuku." Jelas Tora pada istrinya yang menggebu-gebu.
__ADS_1
"Yang Mas panggil anak dan cucu itu sekarang sudah menjadi istri dan anak Guntur. Emang cuma Mas yang bisa khawatir."
"Mom, Dad. Kenapa kalian yang jadi bertengkar?" Tegur Ranaya pusing.
"Salahkan Daddymu yang suka seenaknya sendiri ini Ya!!"
"Kenapa aku yang salah?" Gumam Tora bingung melihat istrinya yang semakin marah. Pria itu memijat pelipis pusing, istrinya ini menambah beban kepalanya saja.
Sementara ditempat lain Brayen tidak kalah pusing dibuat Yumna. Putri Tora itu selalu saja membuatnya menggeram marah.
"Ikut aku!!" Brayen menyeret Yumna, habis sudah kesabarannya menghadapi wanita ini lebih baik dia eksekusi sekarang.
"Om mau bunuh Ara kan, gak perlu susah payah menyeret Ara seperti anak anjing. Ara bisa jalan sendiri. Kaki Ara masih berfungsi dengan baik. Gak seperti otak Om yang sudah alih profesi jadi dengkul!!" Sarkas Yumna yang membuat Brayen menatap tajam.
"Awas matanya lepas nanti gak lihat peluru nyasar ke kepala sendiri!"
Yumna sengaja membuat Brayen kesal agar lengah. Otaknya menimbang-nimbang, di dalam ruangan itu ada lima orang anak buah Brayen. Sedang di luar di setiap pintu ada yang menjaga. Bagaimana dia bisa melarikan diri dengan penjagaan seketat ini.
__ADS_1
Jauh dilubuk hatinya sangat rindu dengan sang suami. Sudah tiga hari tidak melihat senyuman yang penuh cinta itu. Sekarang kemungkinannya cuma ada dua, Brayen yang mati atau dia yang mati seperti yang Guntur pernah bilang. Itu artinya Yumna tidak bisa bertemu suaminya lagi.
"Maafkan Ara kalau gagal melawan Brayen, Abang. Ara kangen Abang."
*
*
*
"Araaaaa!!!" Teriak Guntur kemudian tersadar dari mimpi buruknya.
Sepulang dari rumah sang mertua tadi Guntur ketiduran di ruang tengah, karena diserang kantuk. Sepanjang tiga malam ini ia selalu terjaga menunggu kabar dari orang-orangnya. Namun sampai sekarang keberadaan sang istri belum ditemukan.
"Minum dulu Nak," Hasna siap siaga menemani sang putra.
"Ara Mah, dimana dia sekarang?" Guntur mengusap wajahnya gusar. Tidak pernah sesusah ini untuknya menemukan orang. Tapi kenapa saat istrinya sendiri yang menghilang jalan keluarnya mendadak buntu.
__ADS_1
Dia sudah mendatangi semua tempat yang diketahui milik Brayen tapi tidak menemukan petunjuk apa-apa. Guntur bahkan menghajar Leo sampai masuk ICU agar buka mulut tapi hasilnya nihil. Pria itu juga mencari keberadaan Brayen, namun sama sepertinya tidak menemukan apa-apa.