Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
79. Mertua


__ADS_3

Setelah melewati perdebatan panjang dengan sang ayah mertua Guntur berhasil membawa Yumna tinggal bersamanya. Tinggal di rumah itu bisa membuat istrinya semakin mengalami tekanan batin.


“Disini cuma ada Mama Hasna dan Papa Rizal. Jadi Ara gak perlu sungkan,” Guntur membantu membereskan barang-barang karena istrinya masih demam.


“Ara masih wajib kuliah, hm?” Yumna memiringkan tubuh menatap sang suami yang sedang sibuk memasukkan baju ke lemari.


“Wajib Sayang, cuma dua semester aja kan lagi? Harus selesai, Abang gak mau Ara bertengkar dengan daddy lagi gara-gara kuliah.”


“Duh hidup Ara berat banget, harus hamil sambil kuliah!” Seru Yumna dramatis.


“Lebay Sayang,” Guntur mengunyel gemas pipi sang istri. "Hidup gak akan seberat itu kalau dinikmati, malahan bisa jadi baby." Ujarnya mengerling jahil.


“Ara beneran takut ngeluarin ini Abang,” Yumna mengusap perutnya yang masih rata. Sebelum kesini tadi mereka mampir ke rumah sakit dulu. Dan Yumna memang dinyatakan positif hamil, wanita itu mendapatkan sedikit pencerahan dari dokter.


“Tadi dokter bilang kan Sayang, Ara bisa menghilangkan ketakutan itu dengan sering mengikuti kelas kehamilan. Abang juga akan temani Ara konseling.” Guntur menghentikan aktivitasnya mendekati sang istri.


“Abang jangan buat Ara hamil lagi, kenapa jahat banget sih bikin Ara hamil. Ara sudah bilang takut masih aja dibikin hamil,” ucap Yumna sambil memberengut masam.


“Kenapa Ara nyalahin Abang, Emang Ara rutin minum obatnya, hm.” Guntur tersenyum geli, istrinya itu memang sering lupa minun pil KB dan ia sengaja tidak mengingatkan.


“Sering lupa sih,” jawab Yumna meringis. Dia tidak tau kalau sekali dua kali tidak minum pil itu masih bisa hamil.


“Nah bukan salah Abang berarti,” Guntur ikut berbaring memeluk gemas istri kecilnya.


"Abang gak akan tinggalin Ara sendirian juga, Abang akan selalu menemani Ara sampai dia lahir." Guntur meyakinkan kembali, ia harus selalu mendampingi istrinya ini untuk menghilangkan ketakutannya.


"Nanti yang ngeluarin Abang aja ya, biar Ara yang bawa perut gendutnya." Ujar Yumna melakukan penawaran membuat Guntur tergelak.

__ADS_1


"Abang gak punya gua buat jalan keluar baby Sayang. Adanya ular, hm." Kenapa dia punya istri yang sangat menggemaskan seperti ini.


"Iya juga ya, nanti babynya kejepit. Kalau orang hamil masih boleh itu?" Tanya Yumna dengan pipi mengeluarkan semburat merah.


"Itu apa Sayang?" Guntur mengangkat sebelah alis pura-pura tidak mengerti.


"Itu Abang itu," Yumna memainkan jari jemarinya gugup.


"Ini hm," Guntur mengendus leher Yumna. Wanita itu mengangguk sambil menggeliat geli mendapatkan aliran listrik tiba-tiba.


"Boleh, asal hati-hati. Dan jangan terlalu sering, dedeknya masih lemah di sini." Guntur tersenyum mengelus perut sang istri, untung dia sudah mendapatkan les privat dari sepupu-sepupunya.


"Dedeknya gak sakit ketusuk, Ara aja sakit." Ucap Yumna lugu, lagi-lagi Guntur hanya bisa tertawa mendengar kalimat yang keluar dari bibir mungil itu.


"Masa sakit Sayang, kalau sakit Ara gak mau ngulang lagi dong?" Goda Guntur.


Sang pria hanya tersenyum geli melihat ekspresi malu-malu wanitanya.


"Ara mau?" Pancing Guntur, perempuan itu langsung mengangguk.


"Nanti ya Sayang, Ara masih sakit. Sekarang Ara istirahat Abang mau ke kantor dulu. Ara tunggu di rumah sama Mama ya.”


Yumna mengangguk, “nanti pulang bawakan Ara martabak.”


“Iya Sayang, Ara istirahat biar bibi aja yang bantu beresin. Abang berangkat dulu,” Guntur mengecup kening Yumna sebelum pergi. Tomi sudah berkali-kali menghubungi namun ia abaikan.


"Iya Abang," setelah kepergian sang suami Yumna tertidur karena pengaruh obat yang membuatnya sangat mengantuk.

__ADS_1


Sementara Hasna mencari menantunya yang sedang sakit ke kamar setelah dititipi sang putra pesan untuk menjaga perempuan hamil itu.


“Ketiduran,” gumamnya membantu merapikan kamar yang masih belum Guntur selesaikan. Setelahnya ia mengusap-usap kepala sang menantu dengan sayang. Tubuh itu masih terasa hangat.


“Mama,” gumam Yumna saat membuka mata. melirik ke sekelilingnya, kamar itu sudah rapi.


“Mama yang beresin?" Pekiknya kaget bercampur malu, "maaf Ara ketiduran.”


“Gapapa Sayang, Ara memang harus banyak istirahat. Mau makan siang apa, Mama bikinin.” Ujar Hasna lembut, ternyata tinggal dengan mertua tidak semenakutkan yang Yumna bayangkan.


“Ara cuma mau makan makanan yang disuapin Abang,” jawab Yumna sambil menyengir lebar.


“Nanti Mama suruh Abang pulang,” Hasna tersenyum menuruti kemauan menantunya.


“Jangan, Ara cuma bercanda Mah. Nanti Ara ke belakang sendiri aja.” Ucap Yumna segan merepotkan ibu mertuanya.


"Kamu masih sakit Sayang, disini aja. Mama buatkan sup ya biar cepat sembuh."


"Makasih Mah," Yumna bangun memeluk tangan sang mertua.


"Kenapa sungkan seperti sama orang lain sih," Hasna menepuk pipi Yumna gemas. Pantas saja putranya suka gemas kalau bersama menantunya ini.


"Ara ngerepotin Mama disini," gumamnya pelan.


"Siapa bilang Ara bikin repot, Mama malah senang punya teman di rumah. Biasanya cuma sendirian." Hasna menarik menantunya dalam pelukan. "Titip cucu Mama ya Sayang."


"Iya Mah." Jawab Yumna dengan senyuman, ia harus melawan rasa takutnya. Karena ada banyak orang yang menunggu kehadiran bayi di perutnya ini.

__ADS_1


__ADS_2