
Setelah hanya tinggal mereka berdua dalam kamar Yumna tersenyum manis pada sang suami. Guntur membelalakkan mata. Saat lelaki itu ingin berteriak Yumna langsung membekapnya.
“Ara pusing dengar mereka bertengkar, jadi pura-pura pingsan.” Ucapnya dengan senyuman cerah tanpa merasa berdosa karena telah membohongi orang tua. Buktinya pertengkaran itu langsung terhenti oleh sandiwara murahannya.
“Makin jago akting ya sekarang! Abang beneran panik tahu.” Guntur menggigit gemas hidung sang istri.
"Siapa dulu, hm. Istri Abang," Yumna menepuk dada bangga.
"Kalau mau akting kasih tahu Abang dulu, biar Abang gak panik."
"Kalau Abang gak panik sia-sia dong Ara pura-puranya," bibir mungil itu terkekeh kecil. "Yang ada Daddy bisa tambah marah."
Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka, Yumna menutup matanya kembali sambil menahan napas agar tidak tertawa. Tadi saja ia susah payah menahan napas saat sang suami menggoncang-goncang tubuhnya.
"Buka matanya Ara sebelum Abang gelitiki!"
Sagara sempat mendengar pembicaraan pasangan suami istri itu. Sejak kapan adiknya jadi suka mengerjai orang tua seperti ini.
Suara tegas sang kakak membuat Yumna mengerjapkan mata pelan.
__ADS_1
"Abang disini," sebutnya pura-pura seperti orang linglung sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Berhenti pura-pura atau Abang kasih tau Daddy!" tegas Sagara dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh dua orang pria tua yang ada diluar sana. Tentu saja dia mendukung tindakan aneh adiknya itu.
Bibir Yumna langsung mengerut tajam, "sayang Abang deh," ucapnya dengan merentangkan kedua tangan minta dipeluk.
Tapi lagi-lagi ada yang mendorong pintu kamar, "Abang harus ikutan akting oke. Biar Daddy berhenti marah-marah," bisik Yumna saat sang abang menyambut pelukannya.
"Ara bangun Sayang, Abang disini!!" Sagara sengaja melindungi wajah Yumna yang terlihat kemerah-merahan sambil menepuk di pipi agar tidak terlalu kentara.
Guntur ingin sekali mentertawakan kakak adik itu. Bagaimana ia tidak ingin tertawa, Sagara tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum lebar mentang-mentang membelakangi pintu. Untung Yumna menutup mata, kalau tidak istrinya itu bisa ketularan dan langsung tertawa gelak.
"Pah, tolong selamatkan Ara,” mohon Guntur pada ayah kandungnya. Dia jadi ikutan berakting demi melancarkan kebohongan sang istri.
"Dan kau Tora, cepat hentikan keributan yang kau buat di rumah sakit atau kubiarkan putrimu ini mati perlahan disini!!" Ancam Rizal dengan tatapan serius, merepotkan saja dua orang itu.
Dia yang ingin bergegas menuju rumah sakit karena anak buah Tora membuat kekacauan disana malah harus putar arah saat Emran mengabari menantunya pingsan.
Emran dan Tora beranjak berbarengan dari depan pintu tanpa banyak protes. Rizal langsung menutup pintu kemudian mendekati tiga orang yang berada di tempat tidur.
__ADS_1
"Kalian tidak cocok jadi pemain sinetron!!" Sebut Rizal dengan helaan napas berat. Lihat, orang yang sangat dikhawatirkannya malah tersenyum lebar seraya membuka mata.
"Makasih Papa," ucap Yumna langsung memeluk pria paruh baya itu.
"Papa juga gak cocok jadi pemain sinetron, Ara dari tadi mau ketawa. Untung Papa cepat mengusir mereka," ungkap Yumna dengan cengiran.
"Jangan membuat orang khawatir Sayang," Rizal mengelus belakang kepala sang menantu dengan lembut.
"Daddy marah-mara terus," adu Yumna dengan wajah cemberut.
"Kali ini saja Papa perbolehkan kamu berakting seperti ini. Kasihan mereka panik," Rizal menatap dalam netra Yumna dengan kelembutan.
Apa yang dilakukan menantunya ini memang untuk kebaikan. Tapi tetap saja ia tidak bisa membenarkan itu.
"Iya Pah," sahut Yumna sendu. Kedua pria yang ada disisi Yumna tidak ada yang berani bersuara karena mendapat tatapan tajam dari Rizal.
"Ayo kita pasang infus lagi," Rizal bisa merasakan tubuh perempuan hamil yang berada dalam pelukannya itu masih lemah.
Yumna menganggukkan kepala kembali berbaring.
__ADS_1
"Guntur, siapkan obat Ara! Kamu ini bisanya membawa pulang saja tidak diperhatikan jam minum obatnya," omel Rizal.
Guntur langsung bergerak tanpa babibu. Papanya itu memang jarang marah, tapi sekali marah sangat mengerikan.