
“Dek, ada tamu di bawah.” Panggil Ranaya pada adik iparnya di kamar. Gadis yang di panggilnya itu sedang tersenyum menatap ponsel Geo.
“Siapa Kak?” Tanya Yumna, belum sempat Ranaya menjawab Arraz sudah menyembulkan wajahnya di balik pintu dengan tersenyum manis.
“Kakaak!!” Seru Arraz berlari kecil mendekati Yumna.
“Arraz, sama siapa ke sini?” tanya Yumna. Tangannya terulur mengusap puncak kepala bocah laki-laki itu.
“Sama ayah, bunda, paman dan bibi,” sebut Arraz ceria.
“Ayo turun Sayang temui mereka,” ujar Ranaya.
“Iya Kak,” Yumna menggandeng tangan mungil Arraz turun dari tempat tidur. Mereka mengikuti Ranaya ke ruang tamu.
“Abang gak ada,” batin Yumna dengan perasaan kecewa. Entah kenapa dia jadi ingin Guntur yang datang. Padahal itu tidak akan pernah terjadi. Pria itu tidak pernah suka kalau dia dekat-dekat.
“Kamu nyari siapa sayang?” tanya Ayumi yang heran melihat putrinya celingak celinguk sambil menuruni anak tangga.
“Gak ada Mom,” jawab Yumna tidak bersemangat.
Anindi dan Tomi saling pandang, “Ara pasti nyari Guntur Mas.” Ujar Anindi berbisik pada suaminya. Tomi mengiyakan dengan mengangguk kecil.
“Sini duduk Sayang,” panggil Tora. Yumna mendekat diikuti menantunya.
Apa yang Zaky bilang benar, Yumna terlihat lebih kecil dari saat terakhir dia bertemu.
“Kamu sehat Ra?” tanya Tomi prihatin. Melihat tubuh Yumna yang sangat kurus seperti orang sakit keras.
“Ara sehat,” jawab gadis itu tersenyum simpul. Membiarkan saja Arraz yang ingin duduk dipangkuannya.
“Arraz sama Ayah Sayang,” panggil Ghani. Putranya itu menggeleng, tetap ingin duduk di pangkuan Yumna.
“Arraz berat, duduk di sofa aja ya jangan minta pangku Kak Ara. Anak laki-laki gak boleh manja.” Ujarnya yang langsung dituruti Arraz. Bocah laki-laki itu duduk di samping Yumna.
“Hey boy,” sapa Aga yang baru bergabung pada Arraz.
Ia langsung mengangkat bocah laki-laki itu ke pangkuan dan duduk di samping sang adik. Sagara sangat suka anak kecil. Dia dan Ranaya sudah tiga tahun menikah, tapi masih belum diberi keturunan.
“Ada tamu, jangan cemberut terus.” Sagara merangkul pundak adiknya, Yumna hanya menjawab dengan senyuman palsu.
“Ayo minum dulu,” ajak Ayumi saat pelayannya datang membawakan jamuan.
__ADS_1
"Makasih Tante," ujar Ghani mencicipi apa yang dihidangkan di sana sambil bercengkrama. Padahal selama ini mereka tidak pernah bersinggungan dengan Tora yang sering orang bilang musuh paling berbahaya.
“Guntur gak ikut?” tanya Aga baru sadar tidak ada lelaki itu di sana.
“Dia lagi menemui calon istrinya, mau membicarakan masalah pernikahan.” Jawab Ghani yang membuat ekspresi wajah Yumna jadi mendung.
Gadis itu menggenggam tangan sang ayah yang duduk di samping kanannya. Tora dapat merasakan tangan itu bergetar.
“Sayang, ada yang sakit lagi?” tanyanya yang sekarang lebih peka pada kesehatan Yumna.
“Ara gugup lagi Daddy,” jawab Yumna sangat pelan. Tangan kirinya memegangi dada, gadis itu mengatur napas agar bisa lebih tenang.
“Abang, jangan bahas masalah pernikahan di depan Ara.” Tegur Khalisa, ia menduga Yumna merasakan gugup karena trauma mendengar kata pernikahan. Seperti dia yang sangat takut mengengar suara tembakan.
“Abang gak tau Sayang,” Ghani jadi merasa bersalah.
“Minggir Ga,” perintah Tora pada putranya. Sagara langsung bangkit membawa serta Arraz. Pria paruh baya itu membaringkan Yumnap di sofa.
“Sayang ambilkan obat Ara di kamar.” Ujar Tora pada istrinya. Ayumi langsung bergegas ke kamar putrinya.
“Sayang,” Tora mengusap-usap kepala Yumna yang berkeringat dingin.
"Arraz mau turun!!" Pekik bocah kecil yang berada dalam gendongan Aga. Laki-laki itu menurut menurunkannya.
Yumna menggeleng pelan, "cuma gemetar." Sahutnya pelan, Arraz menarik tangan Yumna menggengamnya erat dengan kedua tangan.
“Ada apa?” tanya Guntur yang bergegas datang saat Tomi memintanya ke kediaman Tora. Lelaki itu tidak memberitahu alasannya, hanya memaksanya untuk datang.
“Ara!!” Guntur membelalakkan mata melihat gadis yang terbaring lemas di sofa. Satu tangan Yumna masih berada dalam genggaman Arraz.
Ia mendekati Yumna, "Arraz misi dulu Sayang. Badan kakak sakit kalau dibaringkan di sofa.” Beritahu Guntur, Arraz bergerak mundur mendatangi sang ayah.
"Ga, dimana kamar Ara?" Tanyanya yang sudah mengangkat tubuh Yumna.
"Bawa ke kamar tamu aja," Aga membawa Guntur ke kamar terdekat.
Ghani dan Tomi dibuat melongo melihat Guntur yang sangat perhatian pada Yumna. Padahal sepupunya itu sangat tidak suka pada gadis manja itu.
“Kau ini seperti orang miskin aja sampai kurus kerempeng begini,” omel Guntur setelah membaringkan Yumna di tempat tidur. Aga sudah kembali ke ruang tamu kembali.
Gadis yang diomeli tersenyum kecil, sudah lama dia tidak mendengar ocehan pria dewasa ini.
__ADS_1
“Jangan berulah lagi kalau tidak mau langsung kusuntik mati!!” Sarkas Guntur.
Ayumi yang masuk ke kamar itu terkekeh kecil melihat cara Guntur membuat putrinya menurut. Ia meletakkan obat dan air mineral ke atas nakas.
“Tante, boleh minta buburnya.” Ucap Guntur sopan.
“Tunggulah sebentar,” ujar Ayumi yang diangguki Guntur.
“Kenapa senang banget bikin orang khawatir, hah! Geo mana suka dengan perempuan manja seperti ini!!” Guntur masih saja mengoceh di hadapan gadis yang sakit itu.
“Geo bukan Abang yang gak suka sama Ara. Geo selalu menerima bagaimanapun Ara,” sahut Yumna pelan. Dia tau Guntur tidak menyukainya yang manja ini.
“Tapi sekarang Geo gak ada di sini,” Guntur melembutkan suaranya.
“Ara harus melanjutkan hidup kembali. Lihat daddy dan mommy, mereka sangat khawatir melihat Ara seperti ini.”
Yumna mengangguk saja, mendengarkan nasehat Guntur. Tubuhnya sudah berhenti bergetar, mungkin karena takut dimarahi Guntur.
“Jangan ngangguk-angguk aja tapi, gak di dengar.” Guntur mencubit hidung Yumna gemas.
Selain Geo, Guntur sudah berhasil membuatnya nyaman. Walau pria itu sangat sering memarahinya. Tapi Yumna suka mendengar Guntur yang mengomel, hanya sebatas itu.
“Buburnya dinginkan dulu ya,” Ayumi meletakkan bubur di atas nakas. Putrinya itu sudah tidak terlihat cemas lagi padahal belum meminum obat. Biasanya mereka harus menunggu beberapa waktu sampai Yumna tenang setelah minum obat.
“Makasih Tante,” ucap Guntur.
Ayumi mengangguk, memberikan waktu pada dua orang itu. Ia tidak berani berharap banyak pada Guntur untuk membantu Yumna pulih.
“Gimana keadaan Ara, Mom?” tanya Sagara saat Ayumi kembali ke ruang tamu.
“Sudah lebih baik, padahal belum minum obat.” Jawab Ayumi heran.
“Pasti gara-gara kamu Gha, bilang Guntur mau nikah segala. Ara jadi cemas,” omel Tomi.
“Akukan gak tau, cuma menjawab jujur.” Sahut Ghani yang tidak mengerti kenapa Tomi malah menyalahkannya.
“Jujur sih jujur tapi gak di depan Ara juga. Geo menitipkan Ara pada Guntur sebelum dia dibawa ke rumah sakit,” sebut Tomi.
"Emang Ara dengar?" Tanya Ghani, Tomi menggeleng. Dua orang lelaki itu jadi berdebat sendiri.
"Gak ada hubungannya. Kecuali Ara memang suka sama Guntur," ucap Ghani keceplosan.
__ADS_1
"Abang asal bicara, Ara itu bisa aja trauma karena merasa gagal nikah sama almarhum Geo. Jadi waktu mendengar orang membahas masalah pernikahan dia jadi cemas." Khalisa mendelik pada suaminya, dia jadi tidak enak pada keluarga Yumna.