Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
23. Penasaran


__ADS_3

Guntur pulang dengan membawa segudang rasa penasaran. Bukan Sheryl yang membuatnya penasaran. Justru Yumna yang mengganggu pikirannya. Gadis itu seperti memiliki banyak misteri. Apa tadi malam bocah kabur lagi, sampai Aga harus menjemputnya pulang.


"Darimana?" tanya Tomi kepo. Hanya dia yang ada di ruang tengah saat ini sambil memangku laptop.


"Refreshing otak," jawab Guntur ikut duduk di samping Tomi sambil melirik apa yang suami Anindi itu kerjakan malam-malam begini.


Manusia-manusia yang ada di rumahnya ini sepertinya gila kerja. Kalau Ghani biasanya akan langsung bekerja setelah sarapan pagi. Sedang Tomi malam hari masih sempat bercinta dengan laptop setelah istrinya tertidur. Seperti tubuh tidak butuh istirahat saja.


"Refreshing atau habis ngedate?" selidik Tomi tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptop.


"Anggaplah kencan buta," jawab Guntur dengan kekehan. Ya itulah yang barusan dia lakukan, kencan buta dengan perempuan yang tidak dikenalnya.


Tomi geleng-geleng kepala, "orang yang baru sekali bertemu itu belum tentu baik. Kenapa gak terima perjodohan dari Papa aja?" katanya melirik sekilas ke arah Guntur yang memutar bola mata jengah.


"Malas banget dijodoh-jodohin. Gue gak semenyedihkan itu jadi harus dicarikan jodoh!" Sarkas Guntur tidak terima.


Tomi mengendikkan bahu, "siapa tau lo gak bisa move on. Kayaknya sudah lama banget gak gandeng cewek," ujarnya menyindir.


"Nyinyir aja, gue malas pacaran gara-gara istri-istri kalian ini yang suka bikin pusing. Ngerepotin aja sukanya!!"


"Mereka yang ngerepotin, atau lo yang ngiri, hm." Goda Tomi dengan kekehan.


"Au ah gelap," Guntur beranjak meninggalkan Tomi sendirian di ruang tamu.


Baru saja masuk ke kamar, pikirannya sudah diganggu oleh bayangan Yumna.


"Aaarrrgghh, kenapa harus anak kecil itu yang menghantui isi kepalaku!!"  Teriak Guntur frustasi.


"Apa yang sudah Ara lakukan sama laki-laki itu. Di ruang VIP yang tertutup lagi," Guntur terus bergumam seraya mengganti pakaian dan membaringkan tubuh di tempat tidur.


...🐣🐣🐣 ...


"Ara mau kemana Sayang, gak sarapan dulu." Tanya Ayumi pada putrinya yang melengos begitu saja tanpa ikut sarapan.


"Kuliah Mom. Aku gak lapar," sahut Yumna malas.


"Biar mereka tau kalau aku masih marah," gumamnya dalam hati.

__ADS_1


"Daddy antar Sayang, tunggu sebentar." Ujar Tora menunda sarapannya, berharap putrinya itu berhenti marah.


"Gak perlu, Ara bisa sendiri. Banyak mobil di garasi. Taksi juga banyak," sahutnya sewot.


"Beneran marah Mas," gumam Ayumi setelah putrinya benar-benar menghilang.


"Kalau kembarannya Geo jahat, belum tentu Geo juga seperti itu kan Sayang. Kamu hanya terlalu khawatir," ucap Ayumi.


"Tapi Ara gak aman bersama Geo Sayang, Leo bisa kapanpun menyamar menjadi Geo. Itu membahayakan putri kita." Tora memberikan alasan yang selama ini menjadi bahan pertimbangannya untuk merestui Yumna bersama Geo.


Tora sudah menyelidiki dua saudara kembar itu, awalnya dia mengira Geo an Leo orang yang sama. Saat salah satu dari mereka membuat Yumna terperangkap dalam jebakan Brayen.


Tapi ternyata berbeda, saat Leo tertangkap. Putrinya masih bertemu dengan lelaki yang sangat mirip itu. Dari sanalah dia tau kalau dua orang itu kembar.


Leo memiliki track record yang buruk, sedang Geo lurus-lurus saja. Tapi Tora tetap waspada, takut semua ini hanya perangkap untuk menjebak mereka kembali.


"Mas bisa mengawasi Ara kan, lihatlah putri kita bahkan sampai kabur. Aku gak mau itu terjadi lagi Mas," bujuk Ayumi.


"Mas tetap gak bisa Sayang, Ara mungkin bisa menghadapi musuh yang membawa senjata padanya. Tapi dia akan kalah, kalau musuh itu membawa hatinya. Kehidupan putri kita dipertaruhkan, apalagi kalau memiliki ipar seperti Leo." Jelas Tora seraya menggenggam kedua tangan istrinya.


Yumna tidak memiliki perasaan apapun pada Brayen. Jadi ia berani mengumpankan anak gadisnya itu.


Di garasi Yumna memilih-milih mobil yang ingin dibawanya kabur. Ia membawa salah satu mobil sport milik sang abang. Gadis itu tidak berangkat ke kampus melainkan mendatangi toko Anindi.


"Yumna!!" Pekik Mita kaget, melihat gadis yang keluar dari mobil sport merah.


"Hai Mbak," Yumna tersenyum melambaikan tangannya. "Aku lapar mau pesan kue terlezat di sini." Katanya dengan cengengesan.


"Siyaaapp, tunggu aja tuan putri." Mita menunjuk ke arah meja kosong sambil terkekeh kecil. Tapi hampir semua meja di sana kosong karena memang masih pagi, belum ada pelanggan.


"Tuan putri tunggu, GPL." Ujar Yumna sambil tertawa.


"Ara, pagi banget ke sini. Gak kabur lagikan?" Tanya Anindi yang kelur dari ruang kerjanya mendengar suara teriakan Yumna.


"Kabur Mbak, tapi kali ini aku kabur gak cuma bawa diri. Aku bawa kabur mobil Abang," jawabnya dengan kekehan sambil menunggu pesanan datang.


Anindi geleng-geleng kepala, "tadi izinnya kemana, jadi bisa ada di sini?"

__ADS_1


"Kuliah," jawab Yumna dengan cengiran lebar.


"Nakal ya, Mbak bilangin Guntur tau rasa diomelin lagi."


"Mbak, jangan." Rengek Yumna dengan memelas, "dia galak banget ih." Ujarnya sambil bergidik.


"Daddymu bisa aja mikir kami yang menculikmu lagi," Anindi mendelik pada gadis yang hanya cengar-cengir.


“Biarin aja, lagian Ara gak kabur. Ara kan pamit kuliah,” jawabnya tanpa dosa. Wanita hamil itu dibuat gemas oleh tingkah gadis di depannya ini.


“Jangan natap Ara kayak gitu, emang mau anaknya nanti cantik dan pintar seperti Onty Ara ini.” Ucap Yumna dengan tawa kecil, gadis itu tidak berhenti tersenyum dan tertawa tanpa ada yang tau isi hatinya.


“Araaa, kamu ngeselin tau gak sih!!” Geram Anindi, padahal mereka kenal baru satu minggu tapi sudah seperti kakak adik.


“Enggak, cuma tau kalau Ara ini ngangenin.” Ada saja jawaban gadis itu yang membuat lawan bicaranya jadi gemas sendiri.


“Fix, Mbak telepon Guntur!” Ancam Anindi.


“Nggak takut, nanti kalau ke sini mau aku cium biar berhenti mulutnya yang suka bicara pedas itu.” Ucap Yumna asal, tanpa sadar kalau Guntur memang sudah ada di sana.


“Ekhm,” Guntur berdehem dengan tangan berada di saku celana menatap Yumna tajam.


Gadis itu membulatkan mata syok melihat Guntur yang ada di depannya.


Anindi terkekeh geli, “hm siapa ya tadi yang mau cium. Nih orangnya sudah ada di sini,” goda ibu hamil itu.


“Mbaak, Ara cuma bercanda.” Rengek Yumna bersembunyi di balik punggung Anindi.


“Mbak gak ikutan, nih Tur bawa aja.” Anindi semakin menggoda beranjak dari meja sana.


“Mbak jangan tinggalin Ara!!” Pekik Yumna ngacir menyusul Anindi, Guntur tersenyum kecil melihat kelakuan gadis itu.


Padahal dia cuma mau mengambilkan pesanan Mama Mira, malah bertemu gadis nakal ini lagi. Bagaimana tidak nakal, Yumna sudah berhasil membuatnya panas dingin.


...🐾🐾🐾...


Maafin telat post😅 lagi sibuk menata masa depan Babang Guntur 😆

__ADS_1


__ADS_2