Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
98. Lagi


__ADS_3

"Yakin mau kuliah hari ini Sayang?" Tanya Guntur pada perempuan yang tengah nyaman duduk di pangkuannya. Setelah bedrest selama dua minggu perempuan hamil itu sudah lincah kembali.


"Iya Abang, jadi Daddy sama Mommy pulang aja. Ara gak perlu ditemani hari ini."


"Biar Daddy yang antar Ara ke kampus." Ujar Tora, ia dan istrinya setiap hari mengunjungi Yumna tidak pernah absen. Itu karena putrinya tidak mau tinggal bersama mereka.


"Ara sama Abang, Daddy." Ringis Yumna, setiap hari ada saja yang daddy-nya itu buat agar dia tidak lengket dengan Guntur. Semakin kesini Daddy Tora semakin bertingkah seperti anak kecil.


"Gak boleh, harus sama Daddy!!" Tora melotot tajam pada Guntur, mengibarkan bendera permusuhan kembali karena Yumna selalu saja menolaknya.


"Mas, itu menantumu sendiri kenapa jadi cemburuan gitu sih sekarang!" Decak Ayumi melihat suaminya yang makin posesif pada sang putri.


"Di perut Ara itu ada cucuku. Aku ini grandfa-nya, jadi harus menjaganya agar benar-benar terlindungi, tidak ceroboh seperti Guntur." Sindir Tora, menantunya itu hanya tersenyum simpul membuatnya semakin kesal.


"Tapi Guntur itu Daddy-nya," Ayumi melotot tajam pada sang suaminya. Sedang yang dibicarakan bergelayut manja duduk di pangkuan Guntur tanpa peduli apapun.


Guntur tersenyum penuh kemenangan mengelus-elus perut datar Yumna. Belum lahir saja sudah diperebutkan bagaimana kalau lahir nanti.

__ADS_1


"Lebih baik Daddy sama Mommy pulang, Ara mau siap-siap kuliah." Usir Yumna pada kedua orang tuanya. Ia sudah tidak sabar ingin minta mood booster pada sang suami.


"Ara sudah ada Abang, Daddy. Jadi Daddy gak perlu repot jagain Ara lagi. Daddy buat adik baru aja sana sama Mommy." Lanjutnya berucap asal sambil menggerak-gerakkan tangan dengan sensual di dada bidang Guntur.


"Ara mengusir Daddy?" Rengek Tora yang entah kenapa jadi sulit berjauhan dengan putrinya sekarang.


"Iya Daddy, dari tadi Ara usir masa gak ngerti." Jawab Yumna ketus.


"Sstt, gak boleh gitu Sayang sama Daddy." Guntur menangkap tangan sang istri yang sudah berhasil membangunkan juniornya.


"Iya Daddy pulang!" Kesal Tora menarik istrinya keluar dari kamar sang menantu.


"Sudah siang Sayang, Ara kan mau kuliah. Tadi malam juga sudah," Guntur tau apa yang diinginkan wanitanya itu.


"Mau lagi Abang," rengek Yumna hampir menangis.


Ibu hamil itu sangat sensitif, Guntur tidak berani sering-sering takut membahayakan kandungan istrinya. Bertolak belakang dengan yang ada di pikiran Yumna, justru dia sangat ingin janin ini lenyap dari perutnya.

__ADS_1


"Ara suka Sayang," Guntur memberikan sentuhan lembuh dibagian inti Yumna sambil menciumi di pipi. Tanpa memindahkan perempuan itu dari pangkuannya.


Yumna mengangguk, "tapi Ara maunya itu." Tunjuknya pada benda yang menusuk-nusuknya dari tadi.


Guntur menghela napas panjang, kalau ada apa-apa dengan janin ini dia yang disalahkan semua anggota keluarganya.


"Abang gak mau, tadi malam Ara juga sudah minta berkali-kali." Guntur pikir semua karena faktor hormon kehamilan. Tanpa tau kalau semua ini memang rencana licik sang istri yang takut melahirkan.


"Please Abang," rengek Yumna dengan erangan kecil lalu membungkam mulut Guntur. Ia tahu suaminya itu sedang menahan diri, mudah bagi Yumna untuk memancingnya.


Bibirnya menyeringai tipis saat Guntur juga terbakar gairah. Saatnya dia membuat suaminya ini terbang bersama merengguk kenikmatan.


"Sudah Sayang, ini bahaya buat kalian." Tolak Guntur saat Yumna masih meminta lagi, padahal mereka sudah cukup lama bergulat sampai bermandi keringat di pagi hari.


"Lagi Abang," rengek Yumna yang tidak ada lelahnya.


"Enggak!!" Guntur membawa tubuh mungil yang terus merengek itu berendam di bathtub. Dia merasa aneh dengan kelakuan istrinya, apa semua perempuan hamil memang selalu bersemangat seperti itu.

__ADS_1


...💥💥💥...


Ara kok gitu sih, kasihan babang Guntur 😒


__ADS_2