Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
65. Baby Girl


__ADS_3

Usai sarapan Guntur membawa istrinya ke kediaman Emran. Tiga hari tidak bertemu Nefa membuatnya rindu, lupakan Arraz dan Airil yang sudah besar. Sekarang dia punya mainan baru.


“Abang bayinya lucu,” Yumna mendekati Nefa yang berada dalam gendongan Khalisa. Menyentuh pun istri Guntur itu tidak berani.


“Ara mau?” tanya Guntur.


Berharap Yumna berubah pikiran saat melihat bayi mungil itu. Ia tidak terlalu masalah kalau istrinya belum mau langsung hamil. Tapi itu tidak sejalan dengan keinginan ayah mertuanya yang sangat ingin dia bisa membuat Yumna cepat hamil.


Yumna menggeleng pelan, “Ara takut. Itu besar banget Abang,” lagi-lagi Yumna bergidik ngeri membayangkan mengeluarkan bayi sebesar itu.


Khalisa mengulum senyum melihat Yumna yang ketakutan memikirkan cara mengeluarkan bayi sebesar Nefa. “Nggak semengerikan itu Ara, coba gendong deh.”


Yumna reflek mundur ketika Khalisa menyodorkan Nefa, “Ara takut. Kalau jatuh nanti tulangnya lepas semua.”


“Gak akan jatuh kalau Ara gendongnya hati-hati,” Guntur menyambut baby girl itu lalu mendekatkannya pada sang istri. 


“Nefa gak akan gigit Ara,” Guntur terkekeh geli melihat Yumna masih bergerak mundur. Istrinya itu terlihat mulai cemas.


“Guntur, jangan dipaksa.” Tegur Mira, wajar Yumna bersikap seperti itu karena tidak pernah bermain dengan bayi. Mungkin takut bayi yang tulangnya masih lunak itu kenapa-kenapa.


“Onty Unaaa!!” Panggil Arraz yang datang dengan menggandeng tangan sang ayah membawa tas di punggungnya.


“Arraz mau kemana?” tanya Yumna merentangkan tangan minta dipeluk.


Bocah laki-laki itu langsung memeluk Yumna, “Arraz mau sekolah ikut Bang Airil.”


 "Arraz dulu kecilnya seperti ini loh Sayang," Guntur mengingatkan. Masa istrinya dengan bayi selucu Nefa tidak berani, tapi dengan Arraz berani.


"Arraz sudah besar Abang, gak akan pipis di celana lagi." Sahut Yumna setelah mengecup pipi Arraz.


"Jadi Ara takut dipipisi Nefa?" Tanya Guntur dengan gelak tawa.


Yumna mengangguk malu. Oh Tuhan, ternyata Guntur benar-benar menikahi anak kecil.


"Ara cium aja, gak usah gendong."


Yumna tetap menggeleng, "nanti nangis. Ara gak punya ASI buat bikin Nefa diam."


"Kalau nangis tinggal kembalikan ke bundanya. Ara gak perlu ngasih ASI," Guntur gemas sendiri dengan istri kecilnya ini.


"Sini Arraz aja yang cium," Arraz meminta Guntur untuk menunduk agar dia bisa mencium pipi Nefa.

__ADS_1


"Airil juga mau cium?" Tawar Guntur pada putra Ghina, bocah itu langsung menggelengkan kepala.


"Tuh Nefa gak nangis dicium Sayang," beritahu Guntur membawa istrinya duduk di sofa. Setelah Arraz selesai menciumi pipi Nefa dengan gemas.


"Coba pangku aja ya," Guntur memindahkan Nefa ke pangkuan Yumna dengan pelan.


"Ara gak tau cara gendongnya," gumam Yumna dengan tangannya yang bergetar menahan bayi kecil itu agar tidak jatuh.


Mira turun tangan mengajari sang menantu cara menggendong bayi yang benar.


"Tangan Ara kenapa hangat Mah," adu Yumna.


Guntur langsung menutup wajah dengan kedua tangan. Kenapa dari tadi putri Tomi itu tidak mengompol saat bersamanya.


"Nefa pipis," jawab Anindi pelan.


Yumna langsung melotot. Hampir saja ia melepaskan bayi itu dari pangkuannya kalau saja sang mertua tidak cepat mengambil alih.


"Maaf Ara kaget," gumam Yumna dengan kepala menunduk.


"Gapapa Sayang," Mira menyunggingkan senyuman. "Bawa istrimu ke kamar mandi Guntur," titah Mira seraya memberikan sang cucu pada Khalisa untuk dibersihkan.


Setelahnya ruang tengah itu menggema suara tawa. Sedari awal mereka maklum karena Yumna memang tidak bisa melakukan apapun.


"Gara-gara Abang Ara jadi dipipisi," kesal Yumna hampir menangis saat tiba di kamar mandi.


"Maaf, Abang gak tau kalau Nefa maunya pipis sama Ara." Guntur membersihkan tangan dan pakaian sang istri yang terkena ompol Nefa dengan rasa bersalah.


"Ara mau pulang!" Rengut Yumna.


"Oke kita pulang," Guntur harus bersabar membimbing istrinya ini agar menjadi lebih dewasa.


"Pulang ke rumah Daddy."


"Iya Sayang," Guntur menurut saja sebelum wajah mendung itu turun hujan. Ia langsung berpamitan pulang setelah kembali ke ruang tengah.


"Nefa kenapa pipisin Onty Una, jadi sedihkan Onty-nya." Khalisa menirukan panggilan Arraz seraya menggantikan pakaian Nefa.


"Itu artinya Nefa mau punya adek, Sayang."


"Abang modus ih," Khalisa menyingkirkan tangan sang suami yang mengganggunya.

__ADS_1


"Ayo kita bikin adek buat Nefa, Kha." Rayu Ghani.


"Masih pagi Abang!!" Kesal Khalisa.


"Gha, jangan bikin ngambek yang satu lagi." Tegur Emran memijat pelipis pusing, si empunya hanya menyengir lebar.


...💐💐💐 ...


"Daddy!!" Rengek Yumna pada sang ayah yang baru ingin pergi ke kantor.


"Kenapa Sayang," Tora menyambut putrinya yang berwajah cemberut, "berantem sama Abang?" Tebaknya, namun Yumna menggelengkan kepala.


"Ara dipipisi Nefa," adu istri Guntur itu dengan manja.


"Nefa siapa?" Tanya Tora tidak mengerti.


"Anak Mbak Nindi, Daddy!!" Seru Yumna kesal karena daddy-nya kelamaan berpikir.


"Oh. Cuma dipipisi masa nesu gini," Tora mencubit pipi putrinya dengan gemas dengan kekehan kecil.


"Ara gak suka!!"


"Gimana mau punya anak kalau gak suka sama baby, hm." Goda Tora yang membuat putrinya semakin merajuk.


"Ara gak mau punya anak Daddy!!" Yumna melepaskan pelukan sang ayah lalu berlari ke kamar.


"Emang apa yang salah kalau sudah menikah punya anak," gumam Tora bingung.


Guntur yang melihat tingkah aneh sang istri langsung menyusul ke kamar.


"Ara kenapa?" Tanyanya pada Yumna yang menangis tersendu-sendu.


"Kenapa sih Daddy selalu maksa Ara punya anak, Ara takut."


"Apa yang Ara takutkan, Sayang?" Guntur memeluk Yumna dari belakang. Dia tidak tau kenapa istrinya itu sangat tidak suka kalau dibahas tentang anak.


"Ara gak tau," Yumna menggeleng membawa telapak tangan Guntur ke dadanya.


"Dada Ara selalu berdebar-debar kalau dengar itu," gumamnya pelan.


"Ya sudah jangan dipikirin, nanti Abang ngomong sama Daddy." Ucap Guntur menenangkan, ada yang berbeda dengan istrinya. Jika perempuan kebanyakan cenderung sangat ingin memiliki buah hati tapi Yumna tidak.

__ADS_1


__ADS_2