
“Daddy sudah bilang, jangan pernah datang ke makam Geo lagi. Kenapa susah banget dikasih tau sih!!” Teriak Tora murka pada putrinya yang baru pulang.
Yumna menatap sang suami yang ada di sampingnya dengan wajah bingung. Sedang yang ditatap juga tidak mengerti.
“Ara gak ada ke makam, Daddy.” Istri Guntur itu membela diri dari tuduhan sang ayah.
“Kamu sudah bisa bohong, hah! Sudah jelas-jelas salah masih menjawab.” Tora semakin murka.
Mana mungkin anak buahnya salah memberikan informasi. Kalau pakaian yang putrinya pakai itu persis seperti orang yang berada di pemakaman Geo tadi siang. Siapa lagi kalau bukan putrinya.
“Kamu itu sudah punya suami sadar diri gak sih!!”
“Maaf,” lirih Yumna berlalu ke kamar. Lebih baik dia mengaku salah, biar cepat selesai.
"Daddy belum selesai bicara, Minara Yumna Damanuri!!" Tora semakin berteriak kesal.
"Mas, ngomong sama Ara itu harus lembut." Ayumi mengingatkan suaminya yang terbakar amarah.
"Biar aku yang bicara sama Ara, Daddy." Ucap Guntur pada mertuanya lalu menyusul sang istri.
Sedang di kamarnya Yumna memijat kepala pusing. Sudahlah dia kurang tidur, ditambah tubuhnya lelah seharian di kampus. Pulang-pulang malah mendapat amukan sang daddy.
Kemarahan daddy ini sama seperti dulu, saat dia ketahuan menjalin hubungan dengan Geo.
“Ara beneran gak ada ke makam Geo?” tanya Guntur lembut.
“Ara seharian di kampus Abang, kalau Abang gak percaya bisa tanya ke kampus.” Jawab Yumna lelah membaringkan tubuhnya ke tempat tidur.
“Abang percaya sama Ara,” Guntur mengambil posisi duduk di samping sang istri.
“Makasih Abang,” Yumna melingkarkan tangan di pinggang Guntur.
“Gak mau mandi dulu baru istirahat, Sayang.” Guntur membantu memijit kepala Yumna.
“Ara istirahat sebentar baru mandi, badan Ara capek banget, Abang. Pusing juga," keluh Yumna. Ia merasa nyaman dengan pijitan yang suaminya berikan.
"Abang, boleh gak kalau kita tinggal berdua aja." Pinta Yumna, sebenarnya dia sangat ingin tinggal di rumah pemberian Geo. Tapi tidak berani mengatakannya pada Guntur.
"Boleh, nanti kita tinggal di apartemen ya Sayang."
"Makasih Abang," setelah mengucapkannya Yumna memejamkan mata. Wanita itu terlelap dengan nyaman.
__ADS_1
Guntur melepaskan tangan yang melingkar di pinggangnya dengan pelan. Mengecupnya di kening sebelum beranjak ke kamar mandi.
Karena tidak tega membangunkan sang istri, Guntur turun sendirian untuk makan malam.
“Ara Mana?” tanya Tora masih dengan nada kesal pada putrinya.
“Tidur Daddy, dia kelelahan.”
“Jelas kelelahan seharian berjemur!" jawab Tora ketus.
“Kamu kenapa sih Mas gak percaya sama putri sendiri. Emang Ara ngelakuin kesalahan apa lagi?" Ayumi jadi ikut kesal pada suaminya yang marah-marah tidak jelas hari ini.
“Ara gak ada ke makam, Daddy. Dia seharian ke kampus. Kalau mau ke makam pun pasti sama aku. Mungkin Daddy harus selidiki ulang orang yang memberikan informasi itu,” Guntur membela istrinya. Ia yakin ada yang tidak beres.
“Maaf Ara terlambat,” Yumna langsung mengambilkan nasi untuk suaminya. “Abang mau lauk apa?” tanyanya dengan kepala yang menunduk.
“Apa aja Sayang.” Guntur tersenyum takjub menyambut piring yang Yumna berikan. Istrinya itu jangankan mandi berganti bajupun tidak, sangat jelas wajahnya kelelahan.
“Mau Abang suapi?” tawar Guntur.
“Ara bisa sendiri, Abang.” Jawab Yumna yang terus menunduk. Tidak berani menatap mata sang daddy.
“Kamu ini kenapa sih Mas, sama putri sendiri. Kan bisa ngomong baik-baik,” kesal Ayumi.
"Mau sampai kapan dia selalu memuja Geo, ini sudah satu tahun. Selalu Geo, Geo dan Geo!!" Sentak Tora pada istrinya. Sagara dan Ranaya tidak ikut bersuara, paham daddy-nya sedang marah besar.
Yumna menyuap nasi pelan, meskipun nafsu makannya sudah hilang. Ia tetap memaksanya untuk makan. Ruang makan itu hening tidak ada yang bersuara lagi hingga mereka selesai makan.
"Ara ke kamar duluan Sayang."
"Iya Abang," sahut Yumna pelan.
Seperginya Yumna, Guntur langsung mencari dua cincin yang jatuh diruangan itu tanpa mempedulikan mertuanya. Dia tidak bisa membuat Yumna terluka karena kehilangan cincin yang berharga ini.
"Kamu jangan terlalu memanjakannya Guntur, sampai kapan Ara tidak bisa melupakan Geo."
"Perasaan tidak bisa dipaksakan Daddy," jawab Guntur setelah menemukan kedua cincin yang dicarinya. Untuk kalung yang sudah putus dia bisa membelikan baru.
"Daddy gak tahukan seberapa keras Ara berusaha melupakan Geo. Kalau Daddy mau Ara harus mendapat penanganan psikiater lagi, lanjutkan." Ucap Guntur dengan berani.
Tora terdiam, bukannya dia sudah berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi.
__ADS_1
Setelah tidak ada pembicaraan lagi dengan mertuanya. Guntur menyusul sang istri ke kamar.
"Ara mau nginap di luar Sayang?" Tanya Guntur pada istrinya yang baru selesai mandi.
"Enggak Abang, disini aja gapapa. Sudah malam juga," Yumna berjalan ke balkon menghirup udara segar disana.
"Daddy kenapa? Ara ada buat salah?" Tanya Guntur seraya menyematkan satu cincin ke jari manis di tangan kanan Yumna. Dan satunya lagi ia gunakan sendiri.
"Ara gak tau Abang, Arakan selalu sama Abang. Kalau Ara buat salah pasti Abang lihat," jawab Yumna pelan. Menatap cincin di jarinya yang baru terpasang.
"Buang aja Abang, orang yang sudah mati juga gak akan bisa marah." Yumna terkekeh kecil melepas cincin di jarinya. Kalau daddy melihat bisa mengamuk lagi.
"Pasti ada sesuatu yang membuat Daddy seperti itu." Guntur memeluk istrinya dari belakang, "tidak perlu terlalu dipikirkan. Ada Abang yang menemani Ara. Dan untuk cincin ini jangan dibuang, ini penting buat Ara." Guntur mengambil cincin di tangan Yumna sebelum dibuang.
Daripada dibuang, mending dia jual jelas jadi duit.
"Cuma Abang yang penting buat Ara sekarang," Yumna membalikkan badan memeluk Guntur. Menumpahkan tangisannya di dada bidang sang suami.
"Jangan ditahan Sayang, luapkan apa yang membuat Ara sakit." Guntur mengelus belakang kepala sampai punggung Yumna untuk memberikan ketenangan.
.
.
.
.
.
.
...💥💥💥...
Yang belum like, like dulu bestie.
Mampir juga ke karya othor yang lain.
Terima kasih sudah membaca cerita ini setiap notif muncul 😄
Tanpa kalian othor galau 🤭
__ADS_1