
“Abang,” Yumna memeluk dari Guntur belakang. Beberapa hari ini suaminya itu hanya sibuk dengan laptop. Ia terpaksa pulang agar tidak ada yang curiga kalau mereka sedang ada masalah.
Guntur segera melepaskan tangan itu dari lehernya tanpa bersuara dan beranjak menuju balkon. Ia tidak ingin ucapannya menyakiti Yumna, jadi lebih baik mendiamkannya saja.
“Ara tahu Ara salah. Ara minta maaf Abang. Jangan diamin Ara,” Yumna tidak bisa tinggal dengan orang yang tidak mau bicara dengannya sama sekali.
Wanita hamil itu menghela napas panjang. Lagi-lagi suara emasnya hanya seperti musik yang tak perlu direspon. Yumna langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur tanpa membersihkan diri terlebih dulu.
Guntur ingin sekali memeluk istrinya yang beberapa hari ini tidak ia manjakan. Tapi kekecewaannya lebih besar sehingga harus menahan diri untuk menyentuh Yumna. Ia juga ingin dihargai sebagai suami, tidak hanya dia yang selalu mengalah dan menuruti keinginan istri kecilnya itu.
“Emm, kalau Abang masih marah Ara tinggal di rumah Daddy aja ya. Gak enak diam-diaman gini,” Yumna kembali bangun dari tidurnya.
Rasanya benar-benar tidak nyaman berhari-hari didiamkan seperti patung hidup. Guntur tidak menjawab, jangankan menjawab menoleh kearahnya pun enggan.
Kalau terus begini bisa-bisa dia gagal move on dari Geo. Apalagi dengan munculnya kembali pria itu kehadapannya. Membuat kepalanya tambah runyam. Yumna mengemasi barang-barang keperluan kuliahnya dan minta sang abang untuk menjemput.
__ADS_1
"Boleh Ara peluk Abang sebentar," ijin Yumna setelah selesai berkemas. Tanpa menunggu jawaban wanita hamil itu memeluk Guntur dari belakang.
"Ara tahu apa yang Ara lakukan salah, Abang. Tapi Ara gak pernah berpikir untuk pisah dari Abang. Ara gak tau kenapa Geo ngikutin Ara," Yumna meluapkan isi hatinya pada sang suami yang tidak merespon pelukannya.
Guntur ingin sekali mengusap-usap tangan yang melingkar di pinggangnya itu saat merasakan belakangnya basah karena air mata sang istri. Yumna menangis dalam diam, tapi lagi-lagi egonya lebih besar.
"Kalau Abang udah gak mau Ara disini gapapa. Ara akan pulang biar gak merepotkan Abang lagi." Yumna melepaskan pelukannya lalu tersenyum mengusap pipinya yang basah dengan kasar. Dia benci diabaikan seperti ini.
"Maafin Ara," ucapnya sekali lagi kemudian berjinjit mencium pipi kanan dan kiri sang suami. Semoga ini bukan pertemuan terakhir mereka, Yumna takut Guntur benar-benar menceraikannya.
Perempuan hamil itu tetap tersenyum memandang punggung sang suami yang enggan menatapnya. Ia beranjak keluar kamar dengan hati yang terluka.
“Guntur gak ikut?” tanya Emran penuh selidik. Ia merasa heran, tadi menantunya itu pulang diantar Sagara dan sekarang minta dijemput lagi.
“Abang nanti menyusul Pah,” bohong Yumna. Mana mungkin Guntur mau menyusulnya, walau berharap dijemput. Tapi kemungkinan sangat kecil, melihat betapa marahnya sang suami padanya.
__ADS_1
Ghani yang mengawati wajah sendu Yumna jadi curiga. Ia pikir setelah Guntur bercerita dengannya hubungan mereka sudah membaik. Karena beberapa hari ini tidak ada yang terlihat mencurigakan.
"Kamu yakin cuma ingin tinggal di rumah Daddy. Atau Guntur mengusirmu, biar Mama jewer telinganya!!" Ujar Mira dengan menggebu-gebu, bisa saja Guntur mengusir istrinya sampai Yumna ingin pulang.
"Abang gak ngusir Ara Mah, mana berani Abang ngusir Ara." Sahut Yumna dengan kekehan, "Ara cuma kangen tinggal sama Daddy dan Mommy." Lanjutnya agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Kenapa bukan Guntur yang mengantar, kenapa harus abangmu yang menjemput?" Mira tidak percaya begitu saja melihat betapa posesifnya Guntur pada Yumna akhir-akhir ini.
Yumna meringis dalam hati, alasan apalagi yang harus ia berikan. Kenapa juga abangnya tidak sampai-sampai.
"Mama menandingi wartawan deh nanyanya." Celetuk Ghani, "mending Mama tanya Guntur dan langsung jewer." Lanjutnya memanas-manasi sang mama diikuti kekehah.
"Kejauhan, mending Mama jewer kamu!" Seru Mira membuat Ghani melotot.
"Eitss tidak bisa, cukup Kha yang suka menyiksa aku Mah. Mama jangan ikut-ikutan!!" Seloroh Ghani langsung bersembunyi di belakang tubuh sang istri.
__ADS_1
Setidaknya semua perhatian tidak fokus pada Yumna lagi. Dia hanya membantu adik iparnya itu agar terbebas dari pertanyaan sang mama.
Istri Guntur itu menghela napas lega karena Mama Mira tidak menuntut jawaban darinya lagi.