
Sudah satu bulan Yumna tinggal di kediaman orang tuanya. Guntur benar-benar tidak mencarinya apalagi menjemput. Komunikasi mereka juga sudah terputus.
Hari-hari Yumna habiskan untuk kuliah dan mengikuti kelas kehamilan untuk menghilangkan ketakutannya. Ia juga selalu berkonsultasi ke dokter ditemani mommy dan kakak iparnya. Kini kehamilannya sudah memasuki bulan ketiga, perutnya hanya terlihat sedikit lebih berisi.
Perempuan hamil itu tengah menonton televisi sambil mengelus-elus perut. Tidak lupa mulutnya yang terus mengunyah cemilan. Ia lebih baik berada diluar kamar agar pikirannya tidak terus berkelana pada sang suami yang mungkin masih sangat marah padanya. Setiap kali berada dalam kamar rindunya semakin menggebu-gebu.
“Ara mau ikut Abang jalan-jalan?” Sagara mendekati adiknya yang sedang asik menonton kartun. Ia selalu mendampingi Yumna, kemanapun dan apapun yang adiknya itu inginkan Sagara akan dengan senang hati segera menurutinya.
“Mau ikut tapi digendong, hm.” Yumna mengerlingkan mata pada sang abang.
“Abang gendongnya sampai depan pintu setelah itu Ara jalan kaki sampai mall ya,” Sagara memeluk Yumna gemas.
Dia salut pada adiknya yang manja ini. Selama satu bulan terakhir tidak pernah mengeluh apapun tentang Guntur. Walau ia tahu adiknya sering menangisi Guntur saat sendirian.
“Ara jalan kaki dan Abang merangkak,” seloroh Yumna dengan tertawa gelak tubuhnya semakin beringsut pada sang abang minta dipeluk manja.
"Abang kayak punya dua istri," kekeh Sagara mengusap lembut perut Yumna. Adiknya yang sangat manja ini ternyata begitu kuat menghadapi kenyataan berpisah dari suaminya saat sedang hamil. Walau mereka tidak bercerai.
__ADS_1
Yumna ikut terkekeh, kadang merasa iri pada hubungan abangnya yang tidak pernah terlihat bertengkar dengan kak Ranaya. Mereka selalu mesra, meskipun belum diberi keturunan.
“Sayang sudah siap?” Panggil Sagara pada istrinya.
“Ara gak mau ganti baju dulu?” Sagara meneliti penampilan sang adik dari atas sampai bawah yang hanya mengenakan piyama tidur.
“Sebentar Mas,” Ranaya berjalan terburu-buru menemui suami dan adik iparnya.
“Ara malas, kalau Abang malu ngajak Ara. Tinggal aja,” Yumna mengerucutkan bibir tajam membuat Sagara tertawa lucu. Adiknya ini sungguh sangat menggemaskan.
Sagara hanya ingin mengajak Yumna berbelanja sepuasnya untuk menyenangkan hati ibu hamil. Mereka selalu menjaga mood wanita yang kadang sangat sensitif itu agar tidak stress. Cukup dua orang pria yang saat ini sama-sama menghilang yang membuat Yumna stress.
Untungnya walau kadang sensitif Yumna tidak mengalami morning sickness. Jadi masih bisa memakan apapun tanpa muntah-muntah.
"Apa perlu Abang yang gantikan, hm." Goda Sagara, "Sayang temani Ara ganti baju ya. Pilihkan yang paling cantik," pintanya pada Ranaya.
"Ih Abang genit, Ara jadi takut." Yumna bergidik ngeri sambil mengikuti kakak ipar yang sudah menggandeng tangannya dengan lembut.
__ADS_1
Sagara terkekeh kecil, sekarang Mom dan Dadnya sedang berada di luar negeri. Jadi dia yang harus menjaga Yumna dengan penuh kasih sayang. Agar adiknya ini tidak kekurangan kasih sayang walau tidak ada sang suami disisinya.
...🐥🐥🐥 ...
Sementara di kediaman Emran, pria paruh baya itu sangat marah pada keponakan yang sudah dianggapnya seperti putra sendiri. Dia bahkan tidak pernah membedakan kasih sayang Guntur dengan putra putri kandungnya.
"Cukup Guntur, Papa sudah muak melihat sikap kekanakanmu itu. Kalau kau memang tidak ingin memperbaiki hubunganmu dengan Ara. Ceraikan dia, biar Ara menikah dengan lelaki yang bisa mencintainya dengan tulus." Geram Emran, sungguh sangat kenal dengan kelakuan Guntur yang tidak berniat sedikitpun membujuk istrinya yang sedang hamil.
Guntur dengan tenang mengunyah cemilan kacang mete di tangannya. Akhir-akhir ini nafsu makannya meningkat dan tidak bisa salah makan. Setiap pagi dia pasti mengalami muntah-muntah saat bangun tidur. Entah penyakit apa yang tengah ia derita. Guntur malas bercerita dengan orang rumah.
Dan satu hal, bukan dia tidak ingin menjemput Yumna. Guntur bahkan sangat merindukan istri kecilnya itu. Merindukan malam-malam panas mereka. Tapi ia hanya ingin memberikan Yumna kebebasan. Mungkin sekarang istrinya itu sudah bahagia bisa terus bertemu Geo tanpa ia halangi.
Guntur sangat menyadari kalau isi hati Yumna penuh dengan nama Geo. Mungkin hanya sedikit ruang yang digunakan untuk menyimpan namanya. Atau bahkan namanya tidak penting sama sekali bagi sang istri.
"Guntur, kau mendengar tidak?" Teriak Emran murka.
"Dengar Pah," jawab Guntur tenang tanpa merasa takut sedikitpun.
__ADS_1
"Aku mau cari makan diluar dulu, lapar." Ujarnya beranjak sambil mengelus perut yang tiba-tiba menginginkan makan di suatu tempat. "Nanti kalau sudah dapat hidayah aku jemput Ara," lanjutnya dengan cengiran.
Emran menarik napas panjang dan mengelus dada, sedang istrinya hanya bisa geleng-geleng kepala. Hampir setiap hari mereka menasehati Guntur untuk menjemput Yumna, tapi tidak digubris sama sekali.