Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
21. Pertemuan


__ADS_3

"Kangennya lama gak ketemu," Geo mengusap-usap puncak kepala Yumna saat gadis itu sudah berada dalam mobilnya. Hanya sebatas itu yang dia lakukan, Geo tidak ingin meracuni otak gadisnya ini dengan percintaan yang panas.


"Aku takut kamu kenapa-kenapa?" Lirih Yumna.


"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu, ada yang belum kamu ceritakan sama aku." Geo menyandarkan kepala Yumna di bahunya. Menjalankan mobil dengan pelan menuju tempat favorit mereka.


"Bang Aga mengirimiku video yang isinya kamu mereka tangkap dan diikat. Mereka memaksaku menikah, malam itu aku kabur." Adu Yumna, Geo mengusap bahu sang pacar dengan tangan kirinya.


"Tapi kamu lihat aku baik-baik ajakan, gak ada yang menangkapku Sayang. Mungkin itu hanya orang lain yang mereka pasangkan topeng agar kamu kira aku."


"Mungkin," lirih Yumna. Walau hatinya sedikit lega, tetap saja dia was-was takut sang daddy benar-benar menangkap Geo.


"Malam ini kabur lewat mana, hm?"


"Pintu samping seperti biasa."


"Kamu hati-hati. Kalau daddymu tau bisa dikurung di kamar lagi," ucap Geo khawatir.


"Aku sudah biasa dikurung," gumam Yumna sambil tersenyum.


"Aku yang khawatir Sayang," Geo mengelus pipi Yumna setelah memarkirkan mobil. "Apa aku culik kamu aja biar kita bisa nikah."


"Kalau kamu mau aku jadi janda sebelum malam pertama, lakukanlah!" Sahut Yumna kesal.


"Aku bercanda Sayang, mana berani membawamu kabur. Sekarang pun bisa saja ada yang memata-matai kita." Geo menghela napas pelan, dia sangat takut gadis kesayangannya ini kenapa-kenapa karena hubungan yang terus mereka lanjutkan ini.


"Aku mau menikah sama kamu, tapi gak mau kalau daddy menyakitimu." Ucap Yumna pelan.


"Aku bisa jaga diri Sayang, kamu yang harus berhati-hati." Geo meyakinkan, "ayo kita turun. Aku sudah pesan tempat favoritmu melihat bintang."


Ia tidak membukakan Yumna pintu, juga tidak menggandeng tangan gadis itu. Sejak keluar dari mobil mereka bersikap seperti orang tidak kenal. Yumna berjalan lebih dulu di depan Geo. Mereka naik ke lantai atas cafe rindu.


Semua itu tidak lepas dari dua mata lelaki yang mengamati Yuma sejak keluar dari mobil.


"Ara, dengan siapa?" Gumam Guntur, dia pasti tidak salah lihat. Dengan bersikap seperti pelanggan yang sedang mencari meja pesanannya Guntur mengikuti dua orang yang berjalan dengan jarak berjauhan itu naik ke lantai dua.


"Ruang VIP," desisnya dengan pikiran yang sudah melanglang buana kemana-mana.


Kekagetan Guntur terhenti saat Zufar menelpon memberitahu dimana perempuan yang ingin dia temui malam ini.

__ADS_1


"Apa itu pacarnya, tapi katanya di tangkap Tora." Otak Guntur masih bertanya-tanya, dia tidak bisa menguntit lebih jauh karena ada yang lebih penting sekarang. Pria itu turun dari lantai dua, mendatangi meja yang disebutkan Zufar ditelpon.


"Sheryl?" Tanya Guntur saat menemukan meja nomor tiga puluh tujuh.


"Ya," jawab gadis yang menggunakan pashima hitam itu dengan tersenyum.


"Guntur," pria itu mengulurkan tangan untuk bersalaman. Entah dimana Zufar mendapatkan perempuan ini.


"Ya, silahkan duduk." Ucap Sheryl lembut setelah bersalaman dengan Guntur.


"Sudah lama menunggu?" Guntur berbasa-basi, pikirannya masih penasaran pada Yumna dan lelakin itu.


"Lumayan, tapi belum sampai membuat kakiku berakar." Gurau Sheryl dengan kekehan kecil.


"Kau bisa bercanda?" Guntur ikut terkekeh.


Sheryl mengangkat sebelah alis, "itu seperti pertanyaan kamu "bisa makan nasi atau tidak?" Jawabnya dengan dengusan.


Guntur semakin terkekeh geli, "wow ternyata kamu juga makan nasi. Kita memiliki banyak kesamaan, mungkin jodoh."


"Sepertinya semua yang makan nasi bisa berpeluang jadi jodohmu, termasuk abang parkir yang sedang makan di sana." Ucap Sheryl, membuat Guntur menoleh ke arah objek yang wanita itu tunjuk lalu mendengus pelan.


Sheryl tertawa gelak, "lalu kau mau doaku yang seperti apa?" Tanyanya di tengah tawa.


"Kenapa kau tidak katakan saja kalau aku memang jodohmu," goda Guntur dengan memainkan alis. Mereka seperti teman lama yang baru bertemu, tidak canggung untuk tertawa. Kearaban langsung terjalin pada keduanya.


"Itu sih maumu!!" Seru Shery memainkan sedotan ke arah wajah lelaki di depannya, sampai sisa-sisa air di sana menyapa sang Guntur.


"Kalau ingin mengajakku minum satu gelas bersama tidak perlu seperti itu. Aku dengan senang hati menemanimu." Guntur menyerobot jus yang ada di depan Sheryl, meminumnya hingga tandas. Lalu menyeringai jahil.


Wanita itu membulatkan mata, "kau menghabiskan jusku!!" Seru Sheryl dengan wajah cemberut.


"Jangankan jus ini, seluruh isi dunia pun aku siap memberikannya untukmu." Gombal Guntur, Sheryl memasang ekspresi ingin muntah.


"Kau tidak langsung hamil karena mendengar suaraku kan?" Ucap Guntur sambil tertawa geli.


Sejurus Sheryl langsung melayangkan dompetnya ke bahu Guntur, "sembarangan. Kalau cuma mendengar suara sudah bisa lahir anak, tidak perlu susah-susah menikah."


"Ayo kita menikah," ajak Guntur sambil menghindari serangan gadis di depan.

__ADS_1


Dengusan kembali lolos dari mulut Sheryl, "kau seperti mengajak kucing kawin saja." Katanya berhenti memukuli Guntur.


"Kau kah itu kucingnya?" Guntur menyengir lebar.


"Kalau kau mau jadi kucing jantannya!" Seru Sheryl. Mereka mengobrol banyak hal dipertemuan pertama malam ini.


Sedang di lantai dua Yumna sedang menikmati bintang dari ruang VIP yang memiliki akses jendela terbuka ke arah luar.


"Malam ini bintangnya indah walau langitnya mendung," gumam Yumna.


"Itu seperti kamu yang tetap indah, walau menyimpan banyak kegundahan." Geo menyandarkan Yumna ke bahunya. Mengelus-elus bahu gadis itu dengan lembut.


"Malam ini mungkin kita masih bisa bertemu tapi besok dan besoknya belum tentu." Yumna menatap Geo sendu, yang dibalas laki-laki berusia dua puluh tujuh tahun itu dengan tatapan teduh.


"Apapun yang terjadi diantara kita, jangan menyerah. Kecuali jika memang Tuhan tidak mentakdirkan kita bersama," Geo menempelkan punggung tangannya di pipi Yumna, lalu mengusap-usap di sana.


"Apa kita tidak bisa menikah?"


"Jangan pikirkan hal yang bisa membuatmu cemas, kita jalani waktu saat ini Sayang." Ucap Geo seraya memainkan rambut panjang yang dikuncir sang kekasih.


"Aku mau makan, tapi disuapi." Pinta Yumna manja dengan senyuman manis.


"Oke, malam ini milikmu. Apapun yang tuan puteri minta akan pangeran turuti." Geo menyuapkan steak ke mulut gadisnya itu.


"Kenapa kalau disuapi jadi lebih enak."


"Itu karena kamu malas menyuap sendiri," Geo terkekeh geli membersihkan sisa makanan di bibir Yumna dengan jempolnya.


Bibir mungil itupun dia belum pernah mencicipi, dia benar-benar menjaga Yumna sampai sah menjadi miliknya.


Yumna menyengir lalu mengecup pipi Geo. Membuat lelaki itu membulatkan mata, kenapa gadisnya ini jadi semakin berani.


"Siapa ngajarin nakal, hah?" Geo mencubit bibir Yumna yang sudah berani nyosor.


Sang gadis menggeleng, memeluk Geo sangat erat. Malam ini saja dia ingin melepaskan segala kerisauan yang ada di hatinya. Sungguh Yumna sangat takut tidak bisa bertemu dengan kekasihnya ini lagi.


Lelaki itu meletakkan sendok ke piring kembali, tidak jadi menyuapi Yumna. Ia membelai lembut belakang kepala gadisnya.


"Kalau menangis membuat hatimu lebih lega, gak papa Sayang." Tutur Geo lembut, dia bisa merasakan kaosnya yang basah karena air mata Yumna. Walau gadis itu menangis tanpa suara.

__ADS_1


__ADS_2