Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
96. Merajuk


__ADS_3

"Gak jadi manja-manjanya nih," Guntur mengerlingkan mata ikut berbaring di samping sang istri yang merajuk.


"Jangan dekat-dekat Ara!! Gak suka, huh!" Usir Yumna ketus dengan memiringkan badan membelakangi Guntur.


"Beneran gak suka. Abang peluk juga gak suka?" Guntur mengulum tawa memeluk dari belakang sambil mengendus-endus leher Yumna. "Kalau gini suka?"


"Abang minggir! Ara gak suka dicium-cium, geli ish!" Yumna menyingkirkan wajah Guntur dari lehernya. Ia menahan diri agar tidak menggeliat dan mengeluarkan suara manja yang sialan tubuhnya seperti tersengat aliran listrik.


"Tapi Abang suka, apalagi kalau ada yang mendesah manja di telinga Abang. Abang jadinya uh," Guntur berniat menggoda malah tubuhnya sendiri yang kepanasan.


"Abaaang!!" Pekik Yumna kala Guntur bermain ditempat kesukaannya, memain-mainkan squishy dengan semangat.


"Iya Sayang, kalau ini Ara suka." Guntur memberikan tanda cinta di bahu kanan Yumna.


Perempuan hamil yang tadinya berusaha mengahan hasrat yang menggebu-gebu akhirnya menyerah juga. Mana bisa dia menolak sedang tubuhnya menginginkan.


"Ara lebih suka yang ini," ucapnya dengan membalikkan badan dan membungkan mulut Guntur.


Pria itu jelas saja tidak membuang kesempatan. Sudah hampir seminggu dia tidak mencecap bibir manis sang istri. Sesapan yang awalnya perlahan itu semakin menuntut.

__ADS_1


"Bibir Ara pahit, tapi Abang tetap suka." Jeda Guntur sejenak memberikan waktu untuk ibu hamil itu menarik napas. Dirinya sudah diselimuti gairah yang menggebu-gebu.


"Ara bisa?" Tanya Guntur ragu, istrinya itu masih belum pulih.


"Bisa Abang, cuma tangannya yang diinfus kok." Jawab Yumna yang sudah menunggu, siap untuk terbang bersama.


Dengan semangat Guntur berpindah posisi jadi diatas Yumna tapi tidak menghimpit tubuh istrinya yang sedang hamil dan belum pulih itu.


"Astaga Guntur. Ara sedang sakit masih mau melepas ular, hah!"


Guntur yang sudah siap mengeluarkan senjata pusakanya mendadak pusing mendengar teriakan Mama Mira. Gairahnya yang tadi menggebu-gebu jadi layu. Padahal yang di bawah sana masih bertegangan tinggi.


"Guntur pelan-pelan kok Mah," sahutnya menjatuhkan tubuh di samping Yumna dan menyelimuti istri juga dirinya untuk menyembunyikan si kecil yang memberontak ingin terbang.


"Mama ih vulgar banget, masih ada anak kecil disini!" Guntur mengecup pipi sang istri yang memerah dengan tawa kecil.


"Awas kamu bikin Ara kelelahan!" Peringat Mira sebelum keluar kamar, tidak jadi menemani menantunya.


"Iya Mah, paling Guntur buat Ara lemas gak kelelahan kok." Sahut Guntur yang mendapat tatapan tajam dari Mira.

__ADS_1


"Dasar anak jaman sekarang, bikin orang tua ikutan panas dingin saja. Kenapa pintu gak dikunci kalau mau main kuda-kudaan!!"


"Mama kenapa?" Tanya Tomi saat berpapasan dengan mamanya yang megomel sepanjang keluar dari kamar Guntur.


"Mata Mama ternoda lihat Guntur main kuda-kudaan." Ujar Mira dilebih-lebihkan, padahal Guntur hanya berada di atas Yumna belum melakukan apa-apa. Dan mereka masih menggunakan pakaian lengkap.


"Mama harus mandi kembang tujuh rupa tuh biar gak ketiban sial," canda Tomi dengan gelak tawa.


Mira menatap tajam Tomi yang mentertawakannya, "Papa mana? Mama mau juga." Ucapnya asal, Tomi membelalakkan mata tidak percaya mamanya bisa bicara sefrontal itu sekarang.


Sementara dalam kamar Guntur melanjutkan kembali aktivitas mereka yang terskip karena kedatangan Mama Mira.


"Pintunya kunci dulu Abang, Ara kan malu."


"Jangan malu, mereka juga sering gini kok sampai si kembar hasilnya." Ujar Guntur dengan kekehan tapi tetap beranjak mengunci pintu.


"Abang jangan buat Ara hamil!" Peringat Yumna saat yang di bawah sana sudah saling memberi dan menerima satu sama yang lain.


"Ara sudah hamil, mana bisa hamil lagi Sayang." Sahut Guntur dengan napas turun naik dan keringat yang sudah membasahi tubuhnya. Rasa ini membuat candu dan sangat dirindukannya.

__ADS_1


Tubuh mungil itu tertidur dalam pelukan Guntur setelah melewati pagi yang melelahkan bagi Yumna.


Sedang bagi Guntur, pagi ini sangat menyenangkan sampai ia ingin mengulangnya lagi dan lagi kalau tidak ingat istri kecilnya ini sedang hamil muda dan masih sakit.


__ADS_2