Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
43. Maaf


__ADS_3

“Daddy!!” Pekik Yumna senang.


Ia berjalan pelan mendatangi Tora yang menunggu di teras. Rumah ini tidak terlalu besar, mereka yang menolong Yumna berasal dari keluarga sederhana.


“Kakinya kenapa Sayang?” Tora menyambut putrinya yang langsung memeluk seperti tidak bertemu selama berbulan-bulan saja.


“Pegal habis jalan,” jawab Yumna dengan cengiran. Seolah tidak melihat ada Guntur di sana. Ia bertekat tidak ingin dekat-dekat dengan om-om itu lagi.


“Jalan darimana sampai kakinya sakit, hm?” 


“Dari kantor Emeral,” sahut putrinya pelan.


Tora langsung melirik Guntur, lelaki itu hanya diam. Dia juga tidak bisa menyalahkan Guntur, putrinya ini memang keras kepala kalau tidak bisa membujuknya.


“Siapa suruh jalan dan kenapa juga tidur di makam Geo terus. Kalau ada yang jahatin kamu gimana. Di sana panas, lihat kulit kamu sampai terbakar begini.” Omel Tora sambil mengelus-elus pipi anak gadisnya yang sangat manja.


Yumna menjawab dengan cengiran lebar, “Daddy kenalin Bang Ammar sama Bunda Farah yang bawa Ara pulang tadi. Ngasih makan juga,” ucapnya lugu.


“Kamu kenapa suka numpang sih, bau asem lagi. Mommy-mu pasti mengomel lagi nanti.” Tora mencubit gemas hidung putrinya, “terimakasih sudah memberikan tumpangan buat putri saya yang suka kabur-kaburan ini.”


“Ara gak kabur Daddy,” ralat Yumna cepat.


Farah tersenyum melihat gadis yang sangat manja pada ayahnya itu, “ayo kita masuk dulu,” ajaknya.


Tora melirik Emran yang berdiri di sampingnya.


“Mungkin lain waktu Bu, sebentar lagi magrib.” Tolak Emran dengan halus.


“Ini kartu nama saya, bisa kalian simpan kalau-kalau nanti ada anak orang yang nyasar lagi.” Ujar Tora menyindir putrinya seraya memberikan kartu nama pada Farah.


Perempuan paruh baya itu terkekeh kecil. “Saya simpan Pak,” ucapnya mengambil kartu nama itu.


“Pamitan dulu Sayang, kamukan sudah nyusahin mereka masa gak berterimakasih.” 


Gadis itu memberengut masam pada sang ayah. Ia berpamitan pada Farah dan memeluk perempuan paruh baya itu. "Ara bau ya, tapi gapapa deh. Nanti bunda gak pernah nyium bau keringat Ara lagi." Ungkapnya dengan senyuman jahil.


Siapapun yang bertemu dengan gadis itu pasti akan dibuat jatuh cinta pada pertemuan pertama. Kecuali Guntur, catat Guntur. Nama itu perlu digaris bawahi karena merupakan haters garis keras Yumna.


Yumna beralih pada Ammar, lalu dengan sengaja memeluk lelaki itu. Membuat Guntur memelototkan mata. “Abang terimakasih,” ucapnya ceria.


"Abang gak jera kan kalau Ara main kesini lagi?"


“Enggak, asal sudah pamit sama daddy-mu. Jangan suka kabur-kaburan lagi,” ujar Ammar yang termakan ucapan Tora.


“Ih Ara gak kabur!” Rengut Yumna.

__ADS_1


“Iya-iya gak kabur, pulang dulu sana. Nanti aja main lagi.” Ammar selalu dibuat tersenyum melihat tingkah gadis yang baru dikenalnya beberapa jam ini.


Yumna mengangguk senang, gadis itu betah berada dalam pelukan Ammar. Membuat Guntur yang melihatnya kepanasan, tapi gengsi untuk mengakui.


“Ara, ambil tas di mobil!” Guntur menarik mundur Yumna, membuat pelukan dua orang itu terlepas secara paksa.


“Buang aja tasnya, Ara gak butuh tas itu lagi!!” Seru Yumna marah pada Guntur yang semena-mena.


“Ambil!” Tegas Guntur.


“Enggak!!” Balas Yumna tidak mau kalah, ikutan ngegas.


“Oke aku buang sama cincin ini juga!” Guntur sengaja menunjukkan cincin di tangannya.


Empat orang yang melihat perdebatan itu dibuat bingung. Mereka tidak tau apa yang terjadi antara Guntur dan Yumna.


“Abang emang selalu jahat sama Ara! Abang gak kayak Geo!!” Sarkas Yumna, memukul-mukul dada Guntur kesal.


“Karena aku Guntur bukan Geo, Ara.” Pria itu langsung menangkap Yumna, kalau dibiarkan bisa-bisa kabur ke makam Geo lagi.


“Jangan peluk laki-laki lain lagi, Geo gak suka.” Lirih Guntur yang menjual nama Geo, memboyong gadis itu ke mobil. Entahlah kenapa dia tidak suka melihat Yumna memeluk lelaki asing itu.


Emran dibuat memijat kepala pusing, “kita pulang duluan Tora. Biar mereka menyelesaikan masalahnya dulu," ajaknya.


"Maaf sudah membuat keributan di sini,” ujar Emran merasa tidak enak. Tiba-tiba saja Guntur membuat Yumna mengamuk, padahal gadis itu sudah anteng.


“Maaf untuk tadi siang, Abang sudah macam-macam sama Ara.” Lanjut Guntur mengubah ucapannya lebih lembut agar gadis itu tidak memberontak lagi.


“Abang yang nyium Ara duluan, tapi Abang marahin Ara!!” Sebut Yumna masih kesal dengan kejadian tadi siang.


“Iya maaf,” lirih Guntur. Otaknya yang sedang kacau ini ingin mengulang adegan itu.


“Tapi Ara suka rasanya,” ucap Yumna polos. Guntur membulatkan mata mengurai pelukannya sambil menggeleng tegas.


“Abang mau nyium Ara karena gak sadar aja ya,” gumam Yumna sendu.


“Jangan khianati Geo,” Guntur mengusap kepala gadis itu lembut. Setelah ini dia harus menghilang dari kehidupan Yumna. Sebelum semuanya sulit dikendalikan.


“Bukan Ara yang mengkhianati Geo, dia yang sudah pergi ninggalin Ara duluan.” Sahut Yumna dengan suara bergetar.


Guntur menarik nafas pelan, “maaf. Sekarang kita pulang,” ujarnya mengalihkan perhatian Yumna.


“Ara mau lagi,” ucap Yumna tanpa malu.


“Aku sudah punya calon istri Ara, tadi siang cuma gak sengaja.” Guntur menegaskan, dia sudah kembali ke mode semula. Menjalankan mobil mengikuti Tora yang melaju di depannya.

__ADS_1


“Iya Ara tau,” gadis itu menepuk jidat pelan. Apa yang ada dalam otaknya, kenapa ia tidak tau malu meminta hal seperti itu pada Guntur yang bukan siapa-siapanya.


Yumna tidak bersuara lagi sampai mobil itu berhenti di depan rumahnya.


“Mana cincin Geo, biar Ara simpan sendiri.” Pintanya Yumna pada Guntur yang mengantarnya sampai ke depan pintu.


Guntur melepaskan cincin itu memberikannya ke tangan Yumna.


“Maaf sudah merepotkan Om, terimakasih.” Ucap Yumna lalu langsung masuk tanpa mau menatap Guntur lagi. Lelaki itu tidak protes dipanggil Om.


“Terimakasih sudah menjaga Ara, mau mampir dulu.” Tora menepuk punggung Guntur pelan.


“Nggak Om langsung pulang aja,” sahut Guntur tersenyum.


"Hati-hati," ucap Tora lalu masuk ke rumah.


Putrinya yang tadi mencak-mencak itu sekarang sudah ceria lagi. Dia kadang bingung dengan tingkah sang putri yang seperti bunglon.


“Mommy oh Mommy, kaki Ara pegel!” Teriak Yumna melagukannya dengan ceria, Ayumi mendatangi putrinya yang langsung di hadiahi pelukan oleh sang anak.


“Dari mana lagi sih bau asem gini!!”


“Mommy kaki Ara sakit, jangan ngomel dulu.” Ujarnya melepaskan diri dari pelukan Ayumi, lalu duduk di pangkuan sang abang yang sedang bermesraan dengan istrinya.


“Abang, pijitin Ara. Sakiiitt’” rengek Yumna manja.


“Mandi dulu baru Abang pijit, bau banget, iih.” Usir Aga, tapi gadis itu semakin menjadi-jadi.


“Mandiin,” ucap Yumna sambil mengedipkan mata pada kakak iparnya.


“Daddy carikan Ara suami biar ada yang manjain, gak gangguin aku terus!!” Seru sang abang.


“Kak Aya gak keberatan kan kalau Ara pinjam Abang."


“Bawalah, biar kakak bisa tidur dengan tenang.” Sahut Ranaya yang langsung mendapat pelototan dari sang suami.


“Nah tuh kan, sekarang gendong Ara ke kamar.” Titahnya seperti ratu.


“Jalan sendiri!!”


“Kaki Ara sakit Abang,” Yumna menunjukkan kakinya yang melepuh dengan dramaqueen.


“Hei, kamu ngapain sampai kakinya melepuh gini.” Yumna menggeleng pelan menyandarkan kepalanya di bahu sang abang. Mengingat kejadian tadi siang membuat hatinya serasa dicubit.


“Ayo Abang antar ke kamar,” putus Aga akhirnya. Dia juga yang kalah dengan kemanjaan adiknya ini. Mana tega membiarkan sang adik yang merengek-rengek manja.

__ADS_1


...🐾🐾🐾...


Itu Ara anak siapa sih, gak ada jaim-jaimnya 😅


__ADS_2