
Guntur memutuskan untuk tinggal di rumah sang mertua, sekarang mereka merawat dua baby. Sagara bahkan tidak mau melihat wajah putrinya sejak Ranaya dinyatakan meninggal.
Hal itu membuat Yumna sangat sedih, dia tidak tahu lagi harus bagaimana membujuk sang abang agar mau menerima baby Yara, sang kupu-kupu kecil. Yumna memberi nama itu, agar Bang Aga selalu ingat kalau Yara buah cintanya dengan kak Aya.
Yumna menatap lekat bayi mungil yang baru berumur tiga hari dengan wajah sendu. Dia teringat betapa kak Aya sangat ingin memiliki anak. Tapi belum sempat melihat sang putri kakak iparnya itu sudah pergi
"Sayang, Bang Aga hanya belum terbiasa tanpa Kak Aya. Nanti dia akan menerima Yara kalau hatinya sudah kuat." Guntur sangat mengerti apa yang membuat istrinya ini bersedih.
"Tapi baby ini tidak punya Mommy, Abang." Yumna mengusap pipi baby Yara dengan jari telunjuk.
"Kita orang tuanya Sayang, Ara-lah Mommy-nya." Guntur memeluk sang istri untuk memberikan kekuatan.
Yumna menarik napas panjang lalu mengangguk walau dalam hatinya tidak yakin bisa merawat dua baby sekaligus.
"Ara bisa, dan abang akan selalu menemani Ara disini." Guntur tersenyum meyakinkan dan memberikan hadiah kecupan di pipi.
Karena terusik oleh sentuhan Yumna baby Yara terbangun dan menangis kencang.
"Abang baby menangis," panik Yumna. Dia tidak tahu harus melakukan apa untuk mendiamkannya selain menepuk-nepuk. Saat panik seperti ini otaknya langsung ngelag
"Kasih ASI Sayang," ujar Guntur
__ADS_1
"ASI, tapi ini punya baby Bian Abang." Yumna refleks memegang kedua sumber ASI-nya.
"Lebih tepatnya punya Abang Sayang, tapi Abang rela kok bagi-bagi." Guntur menggoda sang istri agar tidak bersedih, lalu mengangkat baby Yara dan memberikannya pada sang istri untuk diberikan ASI. Sedang baby Bian sedang dijaga nanny-nya.
...🌹🌹🌹 ...
“Ini susu buat Baby Yara, Sayang.” Ujar Ayumi yang sudah menyiapkan dot untuk cucu perempuannya.
“Yara sudah minum ASI Mom,” Yumna memberikan baby Yara pada Dad Tora yang memintanya.
“Minum ASI-mu?” tanya Ayumi.
"Yes Mom," sahut Yumna.
Begitu juga dengan Tora, ia bangga pada putri kecilnya yang manja ini.
"Ara harus jaga kesehatan, karena sekarang merawat dua baby," Tora merentangkan tangan kanannya pada Yumna.
Istri Guntur itu segera mendekat dan memeluk Dad Tora sambil menoel-noel gemas pipi baby Yara. Sedang sang suami hanya bisa menatap istri manjanya dengan perasaan tidak rela.
Guntur tidak rela Yumna bermanja-manja pada selain dirinya. Tapi apa boleh buat kemanjaan istrinya itu sudah dari orok.
__ADS_1
"Jangan manja seperti Mom ya boy," gumam Guntur dalam hati sambil mengajari baby Bian bertepuk tangan.
Tap... tap... tap...
Suara langkah kaki menyita perhatian mereka. Sagara menuruni tangga dengan langkah terburu-buru.
“Sayang mau kemana?” tegur Ayumi pada putra sulungnya.
“Mau ke makam,” jawab Sagara singkat.
“Sini dulu Sayang lihat putrimu sebentar.” Panggil Ayumi, berharap Sagara sudah mau melihat wajah putrinya.
“Aga buru-buru,” sahut Sagara tanpa mau mendekati putrinya yang berada dalam pelukan Dad Tora.
“Abaaaang!!!” Teriak Yumna yang membuat baby Yara kaget dan menangis kencang. Sagara berhenti dan menoleh pada sang adik yang berjalan mendekatinya.
“Ara gak nyangka ternyata Abang Daddy yang paling kejam. Yara salah apa sampai Abang tidak mau melihatnya. Kak Aya pasti sedih karena Abang tidak mau menjaga putri yang dilahirkannya dengan susah payah!” Ungkap Yumna kesal yang merasa kecewa dengan perubahan sang abang.
“Aya tidak akan pergi kalau dia tidak melahirkan anak sialan itu!!” Sagara berucap dingin lalu beranjak pergi.
"Abang," lirih Yumna sampai terkejut abangnya berkata seperti itu. Dia hanya bisa menangis melihat sang abang yang tidak peduli sama sekali pada putrinya sendiri.
__ADS_1
“Beri Bang Aga waktu Sayang, jangan memaksanya untuk menerima hal yang mengingatkannya pada Aya.” Guntur mendekati sang istri dan memeluknya erat.
Sementara Tora menarik napas panjang, mengeratkan pelukan pada cucu perempuannya yang sudah berhenti menangis. "Malang sekali kamu Sayang. Kenapa jadi seperti," gumamnya sendu.