
Sudah satu bulan ini Sagara lebih banyak diam. Menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bekerja. Ia lebih memilih pulang malam daripada harus mendengar suara tangisan putri yang sangat dibencinya.
"Abang Ara kangen," Yumna langsung memeluk Sagara. Dia sengaja menunggu sang abang pulang di ruang tengah bersama Guntur.
"Abang capek Sayang," Sagara tersenyum dipaksakan pada sang adik.
"Jangan begini, Ara seperti kehilangan Abang yang menyayangi Ara." Lirih Yumna yang membuat Sagara membalas pelukan adik kesayangannya.
"Abang masih menyayangi Ara," Sagara menangkup pipi Yumna lalu menciumnya di kening.
"Kalau Abang menyayangi Ara, tapi kenapa Abang selalu menghindari Ara," ucap Yumna pelan. Padahal dia sangat tahu kalau abangnya menghindari baby Yara.
Sagara menggeleng pelan, mengusap lembut pipi sang adik. Dia tidak bisa menjelaskan apa yang dirasakannya saat ini.
"Kalau Abang sayang Ara, ikut Ara sekarang." Yumna menarik paksa Sagara agar mengikutinya. Guntur yang sejak tadi menyaksikan interaksi kakak adik itu mengikuti dari belakang.
Sagara tahu apa yang ingin adiknya lakukan. Ia hanya mengikuti tanpa membantah apapun. Walau dirinya belum siap melihat wajah yang selalu mengingatkannya dengan Ranaya itu, tapi dia tidak ingin membuat adik kecilnya ini bersedih lagi.
Sagara mematung saat masuk ke kamar Yumna, gadis yang berada dalam gendongan Mom Ayumi itu belum tidur dan tersenyum padanya sambil memainkan tangan.
"Abang, demi Ara ciumlah baby Yara sebentar." Mohon Yumna lalu meminta Mom Ayumi untuk mendekat.
Yumna mengulurkan tangan sang abang agar menyambut baby Yara. Ia bisa melihat tubuh abang kandungnya itu gemetar dengan wajah memucat.
Lagi-lagi Yumna menarik sang abang agar duduk dan memeluk baby Yara. Air matanya sampai ikut menetes melihat bagaimana Sagara memeluk dan menciumi bayi mungil yang terus tersenyum pada sang daddy.
"Maafkan Daddy," lirih Sagara dengan mata memerah. "Maaf Daddy sudah mengabaikan kamu Sayang." Lanjutnya sambil mengecup kening bayi mungil itu sangat lama.
Rasa sesak, kerinduannya pada Ranaya tiba-tiba lenyap saat memeluk putri kecil yang diabaikannya ini.
Ayumi mendekati putranya lalu memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Ada jiwa Aya disini Sayang, jangan mengabaikannya." Lirih Ayumi dengan air mata yang sudah tidak dapat dibendungnya lagi. Dia bahagia melihat putranya mau memeluk dan menerima baby Yara.
Sagara mengangguk pelan, malam ini dia ingin tidur bersama baby Yara. Mencurahkan seluruh rasa rindunya pada Ranaya melalui malaikat kecilnya ini.
Tora yang berdiri di sudut kamar sambil menggendong baby Bian ikut tersenyum lega.
Yumna menyiapkan segala keperluan baby Yara karena sang kakak ingin membawa keponakannya itu tidur di kamar. Dengan cekatan ia menjelaskan apa yang harus sang abang lakukan kalau Yara terbangun dan menangis.
Setelah Mom, Dad dan sang abang meninggalkan kamarnya Yumna menangis keras dalam pelukan Guntur.
"Ara gak bisa bayangin hidup Yara tanpa Kak Aya, Abang. Dada Ara sesak," ucapnya mencurahkan seluruh rasa sesaknya dalam pelukan sang suami.
"Yara akan menjadi anak yang kuat seperti Mom dan Dad-nya Sayang. Bukan tanpa alasan Tuhan membuat takdir Yara seperti itu. Bukan pula karena Tuhan tidak adil, tapi karena Tuhan ingin menunjukkan kalau masih ada yang menyayangi Yara walau mommy-nya sudah tidak ada."
Guntur mengusap-usap punggung Yumna. Yang tidak bisa ia bayangkan malah menjadi Sagara. Kehilangan orang yang sangat dicintai serta ibu dari anaknya pasti sangat menyakitkan. Apalagi harus membesarkan putrinya seorang diri.
"Ara gak kuat lihat Bang Aga," lirih Yumna lagi.
Guntur mengangguk, dia pun merasakan hal yang sama. Pemandangan yang dilihatnya tadi sangatlah menyayat hati, "Bang Aga kuat Sayang. Buktinya tadi dia mau berdamai dengan dirinya sendiri, melupakan rasa sesak dalam dadanya. Kita tidak bisa merubah takdir. Yang bisa kita lakukan mendukung Bang Aga agar semakin kuat."
Guntur mengangkat dagu sang istri lalu mengecup bibir itu dengan lembut dan penuh cinta.
"Jangan tanyakan hal yang seperti itu Sayang, Abang tidak ingin kehilangan Ara." Jangankan untuk kehilangan, membayangkannya saja Guntur tidak berani.
...💥💥💥...
"Bang Aga gak ke kantor?" Tanya Yumna pada Sagara yang masih santai di ruang tengah menggunakan celana pendek dan kaos oblong sambil memberikan susu pada baby Yara.
"Abang mau menemani Yara hari ini," Sagara menciumi gemas pipi malaikat kecilnya.
"Terima kasih Abang," Yumna tersenyum bangga pada sang abang.
__ADS_1
"Harusnya Abang yang berterimakasih karena Ara sudah menjaga malaikat Abang." Sagara tersenyum mengecup pipi sang adik.
Namun bukan pipi Yumna yang diciumnya melainkan punggung tangan Guntur.
"Pantesan asin!" Umpat Sagara pelan membersihkan bibirnya dengan tisu.
"Jangan asal cium bro, sudah keseringan!" Decak Guntur yang ikut membersihkan punggung tangannya. Tapi menggunakan kaos yang Sagara kenakan.
"Hei adik ipar kurang ajar, hentikan tangan kotormu itu!!" Tepis Sagara menjauhkan tangan Guntur.
Yumna tersenyum bahagia sudah bisa mendengar suara canda sang abang lagi.
"Kak Aya, andai kakak ada disini melihat Abang yang begitu kuat. Aku yakin kakak pasti akan semakin cinta dengan Bang Aga." Gumam Yumna dalam hati sampai tidak menyadari air matanya terjatuh.
"Sayang kenapa menangis?" Guntur dengan sigap menghapus air mata di pipi Yumna.
"Ara kangen Kak Aya," lirih Yumna sambil tersenyum pada Sagara.
"Ara bahagia Bang Aga sudah bisa bercanda walau Kak Aya tidak ada disini." Lanjutnya yang membut Sagara terharu dan langsung menarik adiknya dalam pelukan.
"Hem, pelukan lagi!" Tegur Guntur dengan wajah masam.
Jadilah Yumna tertawa gelak, "Abang cemburu sama Bang Aga?" Pekiknya semakin tertawa.
"Bagaimana tidak cemburu kalian terlalu sering berpelukan dan ciuman!!" Ketus Guntur membuat Sagara ikut tertawa.
"Siapa lagi yang bisa kupeluk kalau bukan adikku tersayang ini," Sagara segaja memeluk Yumna kembali untuk mengerjai Guntur.
"Cukup-cukup, sesi peluk memeluk sudah cukup!!" Tegas Guntur memisahkan Sagara dan Yumna dengan duduk di tengah-tengah mereka.
"Hei-hei, kalian ini kenapa pagi-pagi ribut!" Tegur Ayumi.
__ADS_1
"Anak Mommy keterusan peluk-peluk dan cium istri aku sesuka hati!" Adu Guntur dengan wajah kecut.
Ayumi yang mendengar pengaduan itu langsung tertawa gelak. Satu hal yang dia sadari, tawa di wajah putranya sudah kembali.