Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
34. Kebencian


__ADS_3

“Hei, kau tidak punya mata! Kalau gak niat kerja minta uang aja sama orang tuamu!!” Teriak Guntur memarahi Yumna yang menabrak Sheryl sampai baju wanita itu basah terkena tumpahan minuman yang Yumna bawa.


“Maaf Pak,” ucap Yumna sambil menundukkan kepala.


“Mas sudah, gak papa kok cuma kotor sedikit.” Sheryl menarik Guntur mundur agar berhenti memarahi gadis yang terlihat ketakutan itu.


“Ada apa Mit?” tanya Anindi pada Mita. Dia mendengar suara teriakan Guntur.


“Yumna gak sengaja menumpahkan air di pakaian perempuan yang Pak Guntur bawa Mbak.” Jawab Mita, dia juga tidak berani ikut campur.


“Tolong kamu bawa mbaknya ganti baju, Mit. Dan belikan baju merk sama dengan yang beliau pakai.” Ucap Anindi lembut, tapi sebenarnya ia sengaja menyindir Guntur.


Dia sudah sangat kesal melihat tingkah adik iparnya yang sesuka hati pada Yumna itu.


“Gak perlu Mbak, cuma kotor sedikit.” Cegah Sheryl, “kita pergi aja dari pada kamu bikin malu diri sendiri Mas.” Perempuan itu menarik Guntur keluar dari toko. Mereka tidak jadi membelikan kue untuk ibunya.


“Ara bantu-bantu di belakang aja ya Mbak.” Pinta Yumna sambil tersenyum, dalam hatinya bingung. Guntur bisa bersikap lembut pada orang lain. Tapi saat melihatnya lelaki itu seperti melihat musuh saja.


“Iya, kalau capek kamu istirahat aja.” Anindi menepuk bahu Yumna lembut.


“Ara gak capek kok,” sahut Yumna masih bersemangat.


Sampai di mobil Guntur mengusap wajah gusar. Kenapa dia harus selalu bertemu gadis kecil itu. Pikirannya jadi semakin dibuat kacau karena Yumna yang terus mengganggu hidupnya.


“Kamu kenapa Mas, sakit?” tanya Sheryl. Dia belum pernah melihat laki-laki itu emosi seperti tadi.


“Cuma capek. Nanti malam aja aku ke rumahmu ya,” ujar Guntur.


“Iya gak papa, Mas istirahat aja.” Sahut Sheryl pengertian.


Guntur mengangguk, ia mengantarkan Sheryl pulang. Moodnya sudah terlanjur kacau gara-gara Yumna. Setelahnya ia kembali ke kantor.


Saat membuka pintu ruangan Tomi sudah berdiri di sana. Lelaki itu menatap Guntur tajam. Sedang yang ditatap mendesah lelah.


"Jangan bahas Ara!!" Ucapnya sebelum Tomi buka suara. Ia tau apa yang membuat Tomi menghadangnya seperti ini, pasti Anindi sudah mengadu.


"Geo menitipkan Ara padamu untuk menjaganya. Bukan memarahinya sesuka hati apalagi di tempat umum," Tomi mengingatkan.


"Gue malas mengurus anak kecil!!" Desis Guntur.

__ADS_1


Tomi tersenyum sinis. "Ya, karena anak kecil itu jugalah yang membuat seorang Guntur lari dari kenyataan dan ingin menikah dengan perempuan lain," sindirnya telak.


"Buka mata Guntur. Semua orang juga bisa melihat kalau kamu peduli pada Ara, jangan bermain-main dengan hati."


"Berhenti ngelantur Tomi!!" Teriak Guntur kesal karena terus mendengar nama gadis itu.


Suami Anindi itu meninggalkan ruangan Guntur. Dia sedang malas ribut. Menasehati Guntur sampai mulutnya berbusa pun tidak akan ada gunanya.


...🍀🍀🍀...


Sepulang dari toko Anindi Yumna berjalan-jalan di taman sambil menunggu sang abang menjemput. Sudah satu minggu ini ia suka bermain di taman sepulang kerja Karena di sini tempat terakhir kalinya ia menunggu Geo.


Yumna tersenyum menatap cincin di jari manisnya. “Ara kangen,” gumamnya sambil memainkan cincin itu.


“Ada Abang kalau Ara kangen,” Aga memeluk adiknya dari belakang. Gadis itu tersenyum menganggukkan kepala.


“Ayo pulang,” ajaknya pada sang abang.


“Mau beli ice cream dulu?” tawar Aga.


“Enggak, Ara mau makan masakan Mommy aja.”


Yumna mengangguk sambil terkekeh kecil, abangnya itu sudah seperti kucing persia saja kalau sedang berada di dekat kakak iparnya.


Gadis itu tidak menyadari ada yang mengintainya dari ujung taman.


Lima orang itu sedang menunggu tempat ini sepi dan Yumna lengah.


Yumna yang berdiri di depan mobil sang kakak tiba-tiba diserang keroyokan. Gadis itu berhasil menangkis setiap tendangan yang mengarah padanya.


Ia terus mengadapi lima orang yang datang secara tiba-tiba itu. Karena kalah jumlah Yumna kelelahan sendiri. Gadis itu terpelanting ke tanah ketika mendapat tendangan di perut.


“Cuma segitu kekuatanmu gadis manis!!” Seru Leo sambil bertepuk tangan. Dia sudah mengirim anak buahnya untuk menyerang Sagara. Agar lelaki itu tidak cepat kembali.


“Perkiraanku tidak melesat,” gumam Yumna.


“Perlu bantuan Sayang,” Leo mengulurkan tangan pada Yumna. Gadis itu menerima uluran tangan Leo dengan suka cita.


Sebelum benar-benar berdiri Yumna menyeringai licik, lalu menendang senjata pusaka lelaki itu dengan sekuat tenaga. Tendangan maut itu sudah cukup mengalihkan perhatian Leo.

__ADS_1


Anak buah Leo yang tadi mendekat, melakukan serangan pada Yumna. Sebelum mengurus mereka gadis itu terlebih dulu menyemprotkan pepper spray ke mata Leo kemudian pada lima orang yang sedang mengeroyoknya dengan cepat.


Dia sudah menyiapkan tiga botol larutan merica khusus itu dalam saku celana setiap hari. Karena yakin, hari untuknya balas dendam akan tiba. Yumna ingin membunuh Leo dengan tangannya sendiri.


Gadis itu tersenyum lebar karena sudah membuat enam orang lelaki itu mengerang kesakitan akibat sensasi panas merica yang mengenai mata. Dia hanya pura-pura lemah agar para bajingan itu lengah.


“Sepertinya kau belum puas berkenalan denganku!” Yumna menendang Leo yang sedang menikmati rasa perih di mata itu dengan membabi buta. Ia tidak perlu susah payah membuang tenaganya untuk melumpuhkan enam orang inj.


Efek perih seperti mendidih dari semprotan merica itu bisa berlangsung selama setengah jam. Itu sangat menguntungkan untuk Yumna.


“Araaa!!” Teriak Aga, dia khawatir adiknya kenapa-kenapa. Tapi ternyata dia salah, adik kecilnya itu hampir membuat Leo kembali meregang nyawa.


“Cukup Sayang, jangan buat Geo kecewa karena kamu jadi pembunuh.” Sebut Aga yang langsung membuat Yumna berhenti menghajar Leo.


Ia menarik Yumna ke dalam mobil saat melihat orang-orang berdatangan untuk menolong Leo. Aga tidak sempat mengamankan orang-orang itu lagi. Biar nanti saja dia urus Leo dan antek-anteknya.


Sagara melajukan mobilnya dengan cepat, khawatir ada yang melihat mereka. Dia malas berurusan dengan pihak kepolisian.


“Adikmu kenapa Ga?” tanya Tora saat melihat putrinya yang pulang dengan penampilan sangat berantakan tidak seperti biasanya..


“Ara hampir membunuh Leo di taman Daddy,” jawab Aga pelan saat berpapasan dengan sang ayah. Ia membawa Yumna duduk di sofa tanpa melepaskan rangkulannya.


Tora menggelengkan kepala, padahal putrinya itu tidak membawa senjata tajam. Tapi bisa menaklukkan lawan. Dia khawatir Yumna berada dalam bahaya karena terlalu berani melawan musuh sendirian.


“Ada yang terluka Sayang?” tanya Ayumi cemas.


Yumna tersenyum menggelengkan kepala. Gadis itu meletakkan tiga botol pepper spray atas meja.


Tora sampai membelalakkan mata. “Jadi kamu melumpuhkan mereka dengan ini?” tanyanya.


Yumna menjawab dengan kekehan kecil.


“Kamu terlalu nekat Sayang, menghadapi musuh tidak bisa hanya dengan ini.” Tora menghentakkan botol spray itu ke meja. Bagaimana jika putrinya tadi gagal menghadapi musuh sendirian. Dia bisa gila kalau sampai Yumna terluka.


“Menghadapi musuh memang tidak bisa hanya dengan itu Daddy, tapi dengan otak.” Jawab Yumna dengan seringaian devil.


“Sayang, kamu tidak perlu balas dendam atas kematian Geo. Geo sudah tenang dan bahagia di sana.” Nasehat Tora, sekarang dia mengerti apa yang ada dalam otak licik putrinya itu.


“Ara sudah bilangkan, ini Minara Yumna Damanuri yang mewarisi kelicikan Daddy. Aku tidak akan melepaskannya begitu saja Daddy. Karena dia jugalah, Daddy jadi tidak merestuiku dengan Geo.” Sebut Yumna kemudian tertawa gelak.

__ADS_1


Mereka yang ada di sana tidak merasakan ada hal yang lucu. Tawa yang keluar dari mulut Yumna itu sarat akan kebencian.


__ADS_2