Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
20. Geo


__ADS_3

Setelah mandi Guntur membawa nasi di piring itu ke balkon. Apa dia terlalu kasar memperlakukan Yumna. Jadi gadis itu menghantui otaknya. Belum mati saja sudah bergentayangan apalagi kalau benar-benar mati nanti, ia jadi merinding.


Suap demi suap Guntur memasukkan nasi ke mulut. Sampai nasi di piring itu ludes. Ia tidak serius mengatakan tidak ingin menikah. Itu dilakukannya agar tidak terus ditanya kapan menikah.


Mulai sekarang dia harus menemukan perempuan yang bisa dijadikan istri. Jangan sampai mamanya memaksa menikah dengan gadis kecil yang pertumbuhannya terhambat itu. Tingginya saja tidak mencapai seratus lima puluh lima senti. Bagaimana anak itu bisa memuaskan miliknya, otak Guntur jadi traveling kemana-mana.


Lelaki itu membawa piring kotor ke pantry bawah, lalu dia berangkat ke kantor. Tidak ingin dibuat pusing dengan pertanyaan sang ibu. Kenapa dia tidak suka pada Yumna.


"Zufar, kau punya teman perempuan?" Tanya Guntur tiba-tiba pada asisten Tomi setelah sampai kantor. Dia hanya sebagai wakil direktur di perusahaan Emeral Corporation. Komisaris masih dipegang Papa Emran, setelah Ghani keluar dari perusahaan ini Tomi-lah yang menggantikannya.


Asisten Tomi itu mengernyit mendengar pertanyaan tiba-tiba sang bos. "Banyak sekretaris perempuan di sini yang single bisa diajak ngamar," jawabnya asal.


"Aku ingin mencari istri Zufar, bukan mengajaknya one night stand!" Sarkas Guntur, dia bisa dibuat orang tuanya mati berdiri kalau ketahuan melakukan hubungan terlarang.


"Kenapa tiba-tiba, bukannya bos sudah sering menolak perjodohan yang dilakukan Pak Emran?" Tanya Zufar menyelidik.


"Bosan ditanya kapan nikah dan kapan ngasih cucu terus." Jawab Guntur sekenanya, padahal dia takut kalau mereka melakukan perjodohan paksa dengan anak kecil itu. Dari gelagat sang papa, sudah bisa di tebak.


"Mau perempuan seperti apa?"


"Mandiri, dewasa, tidak manja dan menyusahkan. Kalau bisa berhijab biar gak di tolak papa."


Zufar tertawa gelak, "mana ada perempuan yang tidak manja sama pasangannya. Justru laki-laki merasa berguna kalau direpotkan wanita tersayangnya."


"Klise," gumam Guntur menggeleng pelan.


"Anda kelamaan sendiri bung, sampai terlalu enjoy menikmati kesendirian, jadinya kaku!" Sindir zufar membuat Guntur mendelik.


"Aku cuma bertanya teman perempuanmu Zufar. Bukan ingin meminta nasehat. Di rumah sudah banyak penasehat yang bisa membuat kepalaku pecah dalam sekejap." Ucap Guntur dilebih-lebihkan.


"Datang ke alamat ini nanti malam," Zufar menuliskan alamat lalu memberikannya pada Guntur.


"Cafe rindu," eja Guntur.


"Ya, datanglah kalau serius ingin mencari calon istri. Tapi jangan menjadikannya mainan," peringat Zufar.


"Aku pasti datang," Guntur mengangguk yakin. Apa yang sedang ada di otaknya, melakukan kencan buta dengan perempuan yang tidak dikenal.


...🍀🍀🍀...


Setelah sampai rumah Yumna langsung masuk ke kamar. Ia mengambil ponsel yang sudah lama tidak tersentuh. Gadis itu iseng menghubungi kekasihnya.

__ADS_1


"Tersambung," gumamnya tidak percaya sambil melompat-lompat di kamar. Suasana hatinya langsung membaik.


"Sayang, kamu kemana aja. Kenapa tidak bisa kuhubungi selama satu minggu ini?" Tanya pria yang berada di seberang telepon dengan semangat menggebu-gebu.


"Itu, anu. Hpku rusak," jawab Yumna gugup sambil menggaruk kepala.


"Daddy-mu bukan orang mkskin yang tidak bisa membelikanmu hp baru Ara!" Tekan Geo, Yumna menyengir lebar ketahuan berbohong.


"Heee, Daddy sudah membebaskanmu?" Tanya Yumna ragu-ragu.


"Daddy, Daddy siapa maksudnya Ra? Tidak ada yang menangkapku. Aku yang khawatir karena kamu menghilang." Ujar Geo yang dibuat bingung oleh tingkah sang pacar.


"Oh, berarti aku salah dengar." Sahut Yumna yang tidak kalah bingung. Tapi dia tidak salah lihat, abangnya mengirimkan video kalau Geo sudah mereka tangkap.


"Hei, jangan membuatku khawatir. Ada apa denganmu Sayang?" Geo melembutkan suaranya, sangat paham kalau Yumna tidak suka dibentak atau ditegur dengan kasar. Gadis itu akan semakin keras.


"Aku tidak apa, hanya kelelahan." Yumna mendadak lesu, apa abang dan daddy sengaja membohonginya. Tapi hari itu ponsel Geo tidak bisa dihubungi. Saat dia diserang panik.


"Istirahatlah, malam nanti aku jemput di tempat biasa."


Yumna mengangguk, yang sudah pasti Geo tidak dapat melihatnya.


"Kenapa diam, tidak mau bertemu denganku?" Tanya Geo.


"Aku mana bisa lihat kamu mengangguk Ara, kamu membuatku semakin gemas. Ayo kita nikah," Geo tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala. Kadang gadisnya itu sangat polos dan lugu, tapi saat tertentu bisa berubah jadi garang.


"Benarkah kamu ingin menikah denganku," Yumna mengambil kotak cincin dalam laci. Mengamati cincin yang ada di dalam sana sambil tersenyum.


"Tentu saja, cepat bujuk daddy-mu agar kita bisa menikah."


Yumna meringis, mana mungkin orang tuanya mau merestui hubungannya dengan Geo. Dia sudah sering membicarakannya. Aga selalu mengatakan kalau Geo itu jahat, tapi Yumna tidak pernah mempercayainya. Geo lelaki yang sangat lembut dan pengertian padanya.


"Aku harus membujuk gimana lagi Geo," lirih Yumna. Rasanya saat ini ingin menangis saja.


"Masih ada banyak waktu Sayang, jangan sedih. Selesaikan kuliahnya, jangan bolos lagi."


"Aku malas kuliah," jawab Yumna cemberut. Gadis itu mengubah panggilan jadi video call.


"Jangan buat daddy-mu semakin tidak merestui kita Sayang. Cepat selesaikan kuliah biar kita bisa menikah," bujuk Geo.


"Kalau daddy masih belum merestui?"

__ADS_1


"Jangan berpikir terlalu jauh, semua pasti ada jalannya Sayang. Kamu habis darimana pake kebaya?" Tanya Geo mengernyitkan kening.


Yumna spontan melihat pakaiannya, dia lupa mengganti baju. "Habis acara nikahan keluara, belum ganti baju." Sahutnya sembarang.


"Gak bohongkan Sayang, menghadiri acara kenapa sekusut itu. Kamu gak habis melarikan diri karena dipaksa nikah kan?" Tanya Geo setengah bercanda.


Yumna mengangguk lugu kemudian menggeleng. "Udah lama kaburnya," gumamnya jujur. Mana bisa dia berbohong, pasti akan ketahuan.


"Terus?" Geo menunggu jawaban yang lebih spesifik. Dia sudah menduga ada sesuatu yang terjadi pada Yumna. Selama satu minggu gadisnya itu menghilang.


"Pas pulang langsung dinikahkan Daddy," jawab Yumna pelan.


"Sekarang sudah jadi istri orang?" Tanya Geo sambil tersenyum, walau hatinya tidak rela ada yang meronta-ronta di dalam sana.


"Gak usah ketemu malam ini gak papa," lanjut Geo saat Yumna tak kunjung menjawab.


"Mau ketemu," rengek Yumna manja.


"Oke, nanti aku jemput. Sekarang kamu istirahat, jangan sampai ketahuan kalau habis menghubungiku." Ucap Geo pelan sambil menghela napas panjang. Mau marah juga tidak ada gunanya, semua sudah terjadi.


"Iya aku mau mandi dulu baru tidur," gadis itu tersenyum manja. Geo hanya memberikan anggukan sambil tersenyum.


"Kamu sudah gak sayang aku?" Tanya Yumna karena merasa dicueki.


"Sayang, tapi gimana. Kamu sudah jadi istri orang," Geo mendesah berat. Tidak mengertikah gadisnya ini, kalau dia sedang patah hati.


"Aku gak ada bilang sudah jadi istri orang," rengut Yumna.


"Ara jangan bercanda, oke!" Ucap Geo tegas.


"Aku serius, belum menikah!" Jawab Yumna dengan cengiran lebar.


"Kamu bikin aku lemas tau gak sih, Sayang!!" Geram Geo, kalau gadis itu ada di dekatnya sudah dia unyel-unyel.


"Aku kan cuma ngetes, dah ah mau mandi dulu. Bau asem habis berantem," sebut Yumna membuat Geo memelototkan mata.


"Aku gak mau nemani latihan lagi kalau nakal gitu!" Selain berlatih menembak dengan abangnya Yumna juga sering latihan karate bersama Geo.


"Gak nakal, cuma menyelamatkan diri. Masa aku diam aja ditangkap," ujar Yumna membela diri.


"Iya-iya, sana mandi. Mana pernah kamu kalah kalau diajak debat," decak sang pacar. Yumna terkekeh geli melambaikan tangan sebelum mematikan sambungan video.

__ADS_1


Gadis itu kembali memasang cincin pemberian Geo di jari manisnya sambil tersenyum cerah. Dia akan berusaha mendapatkan restu sang ayah agar bisa menikah dengan kekasihnya.


__ADS_2