
"Bang Ammar!!" Pekik Yumna saat melihat lelaki yang berjalan keluar dari pintu swalayan. Semenjak menikah dia tidak pernah melihat wajah itu lagi.
Wanita itu ingin merentangkan tangan minta di peluk tapi mengurungkan niatnya saat ingat statusnya sudah menjadi istri orang. Dan suaminya yang bakal mengamuk.
"Hei nunggu siapa sendirian disini?" Ammar mendekati Yumna dan mengajaknya untuk duduk.
"Sama Bang Guntur. Ara kangen ih, mau peluk tapi takut!" Ucapnya manja.
Ammar terkekeh kecil, "jangan buat suamimu cemburu. Nanti jadi berantem," nasehatnya.
Ammar juga sebenarnya sangat rindu dengan gadis yang selalu ceria ini. Hanya saja ia tahu posisinya dimana. Hari-harinya jadi sepi semenjak Yumna menikah, tidak ada lagi yang suka mengganggunya.
"Ara," panggil Guntur.
"Kenapa ada disini kan tadi Abang suruh tunggu di mobil." Guntur melirik sekilas pada lelaki yang duduk berhadapan dengan istrinya.
"Abang lama, Ara bosan nunggu di mobil." Jawab Yumna dengan cengiran.
"Ayo pulang, tadi katanya capek malah jalan-jalan." Ajak Guntur lembut, kalau saja tidak ingat istrinya itu sedang hamil ia sudah menyeretnya ke mobil.
"Abang," rengek Yumna diikuti gelengan kepala.
"Kenapa Sayang?"
"Ara mau peluk Bang Ammar, boleh?" Ijinnya dengan wajah memelas.
"Gak boleh, Ara peluk Abang aja!!"
Ammar mengulum senyum melihat Guntur yang sangat posesif pada istrinya.
Yumna mengerucutkan bibir, "dedek yang mau Abang."
__ADS_1
"Dedek belum bisa ngomong. Ara mau lihat Abang memeluk perempuan lain juga?" Tanya Guntur, percuma dia mendebat istri kecilnya ini.
"Nggak mau!!"
"Sama, Abang juga gak mau lihat Ara pelukan sama laki-laki lain." Ujar Guntur realistis, dengan begitu dia tidak perlu berdebat panjang kali lebar kali tinggi.
"Iya-iya. Bye-bye Abang." Yumna melambaikan tangannya pada Ammar. Pria itu membalasnya dengan senyuman hangat.
"Gak bisa lihat cowok, main minta peluk aja!!" Guntur mencubit hidung istrinya gemas setelah sampai di mobil.
"Ara kan gak minta peluk semua cowok, Abang."
"Kalau Ara peluk laki-laki lain maka Abang juga akan peluk perempuan lain!!" Ucap Guntur tidak mau kalah, menjalankan mobilnya pulang.
"Iya Abang, Ara gak akan peluk laki-laki lain. Awas saja kalau Abang yang peluk perempuan lain duluan." Ujar Yumna kesal, Guntur menahan tawa melihat wajah cemburut istrinya yang sangat lucu.
...🍀🍀🍀 ...
Guntur sampai geleng-geleng kepala melihat istrinya yang sangat emosional akhir-akhir ini. Kadang marah tidak jelas, bisa juga menangis tanpa sebab. Susah ditebak suasana hatinya.
"Itu tikusnya gak salah loh kenapa dibanting. Nanti mati gimana?" Guntur mengelus belakang kepala sang istri.
"Ara bukan orang miskin yang gak bisa beli tikus ini. Pabriknya pun bisa Ara beli!!" Yumna melemparkan mouse yang sudah ia banting tadi ke arah lemari. Sampai kaca lemari itu pecah dan menimbulkan suara.
Seperti tidak kehabisan energi Yumna mengambil pistol yang ada di laci nakas Guntur dan menembakkannya kearah kaca satunya sampai menimbulkan suara yang memekakkan telinga.
Guntur dibuat syok melihat apa yang terjadi. Belum selesai suara pecahan kaca yang didengarnya, malah disusul suara tembakan. Pria itu membelalakkan mata, langsung merebut pistol di tangan Yumna dan melemparnya ke sembarang arah.
"Kalau Ara capek biar nanti Abang yang ngerjain tugasnya, gak perlu mengamuk seperti ini." Guntur segera menjauhkan segala benda dari dekat istrinya sebelum jadi sasaran Amukan Yumna.
"Ara bilang gak mau hamil. Kenapa harus hamil, Abang!!" Teriak Yumna nyaring sambil memukul-mukul perutnya. Saking kesalnya perempuan hamil itu sampai menangis.
__ADS_1
Guntur menahan tangan Yumna dan memeluknya dengan erat sampai tangan itu tidak bisa bergerak lagi.
"Ara kenapa Sayang, kalau Ara capek bilang?" Ia tidak tega melihat Yumna yang histeris seperti ini. Bisa-bisa membahayakan dirinya sendiri.
Mira yang ingin menanyakan apa yang terjadi mengurungkan niatnya setelah melihat sang menantu menangis histeris. Dan pecahan kaca yang berserakan di lantai.
"Ara gak mau hamil. Ara gak mau hamil, Abang!! Ara takut!!" Teriak Yumna.
"Ara tarik napas dulu Sayang. Ara tenang ya. Baby ini gak akan menyakiti Ara," ucap Guntur lembut.
Perempuan paruh baya yang sedari tadi terdiam mematung mendekati menantunya. Mengusap lembut di kepala Yumna tanpa bersuara apapun.
Sedang Emran menyimpan pistol yang tergeletak di lantai dan meminta asisten rumah tangga untuk membersihkan pecahan kaca yang berserakan itu.
Rumah Emran sudah heboh, masing-masing mengira ada penyusup yang melepaskan tembakan di rumah. Guntur dan Zaky langsung menuju ke sumber suara yang ternyata dari kamar Guntur.
"Ara mengamuk?" Tanya Ghani tidak percaya, bukan penyusup yang membuat keributan tapi iparnya sendiri. Untung dia cepat tanggap menangani Khalisa sebelum ikut kumat.
"Kenapa meletakkan pistol sembarangan, bikin orang senam jantung aja." Decak Zaky pelan.
"Sudah jangan protes. Kalian kembali ke kamar, biar Mama sama Papa yang membantu Guntur." Titah Emran, Zaky dan Ghani menurut kembali ke kamarnya. Sedang Tomi membantu istrinya menenangkan sang putri yang menangis karena kaget.
Lama menangis akhirnya Yumna tertidur dalam pelukan Guntur. Pria itu membaringkan istrinya dengan pelan. Mengelus-elus di perut, kalau sampai janin ini membahayakan sang istri. Maka dia akan memilih menggugurkan kandungan Yumna.
"Ara pasti bisa, jangan melenyapkan janin yang tidak berdosa. Tora sangat menginginkannya," Emran menepuk pundak sang putra.
"Tapi ini bisa membahayakan Ara, Pah."
"Kita akan selalu mendampingi dan menemaninya sampai melupakan ketakutan itu," Emran meyakinkan Guntur
"Tapi itu sangat beresiko Pah," gumam Guntur lesu. Apa karena dia paksa kuliah istrinya jadi stres dan tertekan.
__ADS_1
"Tidak ada salahnya kita usahakan dulu," Emran mengerti akan ke khawatiran Guntur. Dia hanya tidak ingin putranya nanti menyesali perbuatannya. Mereka masih bisa berikhtiar untuk menemukan solusi yang lain.