
Pagi-pagi Yumna langsung berpamitan pulang demi menghindari Guntur. Kalau masih berada di dekat lelaki itu jantungnya bisa langsung gladak-gluduk seperti bunyi beduk.
Ia minta jemput Ammar, sekarang Yumna lebih sering bertemu lelaki itu untuk menghilangkan rasa bosannya berada di rumah.
“Mau langsung pulang?” tanya Ammar saat Yumna masuk ke mobilnya.
“Kalau mau ke makam dulu boleh?” Pinta Yumna.
“Boleh, gak mau sarapan dulu.” Ammar mengusap lembut kepala gadis itu.
“Nanti aja, Ara gak lapar.”
“Oke, habis itu ketemu bunda dulu baru Abang antar pulang ya.”
“Iya Abang,” sahut Yumna patuh. Dibanding Guntur, Ammar lebih mirip dengan Geo. Selalu berbicara lembut dan perhatian padanya. Ia jadi lebih nyaman bersama lelaki ini, tapi entah kenapa hatinya malah tertaut pada Guntur.
Sementara di rumahnya Guntur sibuk mencari Yumna, “Ara mana?” tanyanya celingak-celinguk. Gara-gara tadi malam, dia kesiangan bangun. Saking senangnya Yumna tidak mengusik tidurnya lagi.
“Sudah dijemput pacarnya,” jawab Ghani sengaja memanas-manasi. Sekarang Guntur sudah tidak bisa menyembunyikan perasaannya lagi. Mau disembunyikan bagaimanapun juga orang pasti akan tau.
“Pacar? Mana ada Ara punya pacar.” Sahut Guntur sewot, tidak rela dibilang Yumna punya pacar.
“Ada, coba tanya Papa.” Ujar Zaky sambil tersenyum jahil pada ayah mertuanya.
“Beneran Pah?” Guntur memastikan, lelaki paruh baya itu mengangguk pasti.
“Iya, Ammar yang jemput.” Jawab Emran, Guntur mendesah lemas. Baru dia ingin mendekati gadis itu, sudah ada saja yang gercep.
“Udah kejar sana, nanti keduluan orang.” Goda Tomi.
“Apalagi yang mau dikejar Mas, orangnya sudah pergi.” celetuk Anindi, sang suami hanya menyengir lebar.
“Ngejar bekas sendalnya Sayang. Udah mau nikah masa masih mau ngejar perempuan lain lagi,” sindir Tomi.
“Sindir terooos!! Ini masih hati manusia bukan batu!!” Sarkas Guntur geram, bukan kasihan padanya. Mereka malah mentertawakan nasibnya yang tak mujur ini.
“Undangan jadi disebar gak nih?” Tegas Emran yang sekarang dibuat pusing bungsunya ini.
Mereka sudah menyiapkan semuanya, memang tidak mengadakan acara besar-besaran. Tapi tetap saja akan malu kalau tersebar berita putranya tidak jadi menikah.
“Galau Pah,” jawab Guntur dengan cengiran. Dia seperti tanpa beban, orang saja yang sibuk memikirkan.
__ADS_1
“Itu manusia loh Guntur, masih anak orang juga bukan batu. Kamu gak bisa seenaknya sana sini.” Tukas Mira menirukan gaya bahasa Guntur sambil menatap tajam pelakunya.
“Boleh dibatalin gak Mah,” pinta Guntur memelas.
“Mama sudah bilangkan, jangan seenaknya. Kalau sudah jatuh cinta siapa yang repot. Ini masalah pernikahan, melibatkan dua keluarga. Bukan kayak ngawinin kucing di dokter hewan!!" Sarkas Mira.
“Siap salah,” sahut Guntur sambil mengusap-usap perut.
“Lapar,” gumamnya lalu kabur ke belakang. Yang terpenting sekarang isi perut dulu baru dia bisa berpikir panjang.
“Kalau dikasih tau pasti kabur,” Mira berdecak kesal pada bungsunya itu.
“Biarin aja Mah, maunya gimana. Bikin pusing aja kalau dipikirin.” Ujar Emran yang juga tak mengerti dengan maunya anak muda jaman sekarang. Orang yang dipikirkan seperti tanpa dosa makan dengan lahap.
...⚘️⚘️⚘️...
“Pulang sama siapa Sayang?” Tanya Tora pada putrinya yang baru datang.
“Sama Abang,” sahut Yumna lesu. Langsung menghempaskan pantat di sofa bersandar di bahu sang ayah.
“Abang siapa? Guntur.”
“Bukan. Bang Ammar,” jawabnya malas.
“Ara minta jemput Bang Ammar Daddy, gitu aja bingung.” Ujar Yumna cemberut melihat ekspresi sang ayah.
“Kenapa gak minta jemput Daddy aja kalau gak ada yang bisa antar. Katanya gak mau nyusahin orang lagi,” ucap Tora seraya mengelus-elus kepala sang putri.
“Bukan gak ada yang antar Daddy, Ara malas ketemu Om Guntur.” Curhat Yumna, setelah sekian lama baru ini dia mau menyebutkan nama itu pada sang ayah.
Tora terkekeh kecil mendengar panggilan untuk Guntur Yumna, “emang Guntur kenapa? Kan dia gak ganggu Ara.”
“Ganggu tau Daddy!!” Sungut Yumna kesal.
“Emang ganggunya gimana, hm?” Goda Tora, pura-pura tidak mengerti dengan perasaan putrinya.
“Dia ganggu Ara di sini,” gumam Yumna memegang kepalanya.
“Itu kamunya aja yang kepikiran,” ledek Tora dengan tawa geli. “Ara ingat ya Sayang, Guntur sudah mau menikah. Kenapa gak coba belajar buka hati Ara puat Ammar aja.” Nasehatnya lembut dengan tatapan teduh.
“Ara juga maunya gitu, tapi gak bisa Daddy.” Ucap Yumna sendu, bertepatan bel pintu rumah mereka yang berbunyi.
__ADS_1
“Non ada temannya yang nyari,” beritahu asisten rumah tangga yang mendatangi ayah dan anak itu.
“Siapa Bi? Laki atau perempuan?” Tanya Yumna yang merasa tidak memiliki banyak teman tanpa mengubah posisi nyamannya bermanja-manja dengan Tora.
"Suruh masuk aja Bi," ujar Tora lebih dulu sebelum asisten rumah tangga itu menjawab.
"Daddy!" Seru Yumna saat melihat yang datang itu Guntur.
"Bukan hantu Sayang," pria beranak dua itu terkekeh geli.
"Memang bukan hantu, tapi malaikan maut Daddy!!" Seru Yumna yang langsung ingin kabur ke kamar.
Tapi sebelum berhasil kabur, Guntur sudah menghadang Yumna. "Om pinjam putrinya sebentar!!" Teriaknya menarik pelan tangan gadis itu keluar dari kediaman Tora.
"Om Ara bukan kerbau diseret-seret," rengut Yumna saat sudah sampai di mobil.
"Kerbau, tuh buktinya belum mandi." Kekeh Guntur tanpa peduli Yumna yang mencak-mencak.
"Om mau culik Ara kemana?" Tanya Yumna sewot.
"Ke KUA," jawab Guntur asal sambil mengemudikan mobil. Ia membawa Yumna ke rumahnya.
"Iiih, Ara gak mau KUA sama Om. Udah tua, mending sama Bang Ammar, masih muda ganteng lagi." Sebut Yumna, Guntur mendelik pada gadis itu.
"Coba ulang, ngomong apa tadi?"
"OM TUA," ucap Yumna dengan penuh penekanan. Guntur menepikan mobil, dia harus memberikan gadis ini pelajaran agar jadi penurut.
"Ini mulut harus di sekolahin dulu biar gak suka ngomong asal," Guntur melepaskan sabuk pengaman lalu mengunci tubuh Yumna.
"Om pedofil ih, Ara laporin Kak Seto. Jangan macam-macam!!" Cetus Yumna mendorong tubuh Guntur.
Guntur lupa kalau gadis kecil yang dibawanya ini jago karate dan menembak. Jadi dia tidak bisa asal ancam.
"Galak banget," gumamnya seraya megelus-elus pipi Yumna.
Oh Tuhan. Yumna lebih baik diserang puluhan orang saja, dia bisa melawan dengan fisik. "Om jangan," mohon Yumna.
"Kenapa, kamu sukakan. Aku juga suka," Guntur mengubah triknya menghadapi gadis di depannya ini dengan cara yang lebih lembut.
"Ara gak bisa," Yumna menggeleng pelan.
__ADS_1
Guntur mengangguk melepaskan Yumna, ia menepuk puncak kepala gadis itu dengan lembut. Ada apa dengan otaknya, huh. Pria itu menghela nafas berat.