Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
44. Drama


__ADS_3

“Hei kenapa belum siap-siap, kamu gak kerja hari ini?” Tora masuk ke kamar Yumna membukakan tirai jendela. Matahari sudah bersinar cerah, anak gadisnya itu masih betah tidur-tiduran di kasur.


“Sudah pensiun, Daddy.” Jawab Yumna kembali menggulung tubuhnya di bawah selimut.


“Belum dua bulan juga sudah berhenti, kamu niat kerja gak sih.” Pria paruh baya itu duduk disisi tempat tidur.


“Ara di rumah aja Daddy. Kalau di luar Ara selalu nyusahin orang, yang dulu Bang Aga bilang benar. Ara itu anak manja gak akan bisa hidup sendirian di luar.” Ucap Yumna sendu membawa kepalanya ke pangkuan sang ayah.


Tora mengusap-usap rambut sang putri, “kamu demam Sayang.” Ucapnya saat menyentuh kening Yumna.


“Sedikit Daddy, nanti juga sembuh.” Jawab Yumna yakin, dia demam karena kemaren terlalu lama berjemur di makam Geo. Kakinya juga semakin sakit sampai susah buat dibawa lari-larian.


“Daddy panggilkan Mommy dulu biar dibuatkan bubur.”


Tora ingin memindahkan kepala Yumna ke bantal. Tapi gadis itu menggeleng, “gak usah Daddy. Ara masih bisa turun ke bawah kok.”


Tora bisa merasakan kalau anak gadisnya ini sedang tidak baik-baik saja. Sejak pulang kemaren sore selalu berusaha untuk terlihat kuat dan ceria.


“Daddy tau kalau ada yang sedang Ara pikirkan, cerita sama Daddy Sayang. Jangan dipendam sendirian, Daddy gak mau kamu sakit lagi.” Tora mengecup kening sang putrinya. Dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama karena terlalu keras pada putri tersayangannya ini.


“Gak ada yang Ara pikirkan Daddy,” sahut Yumna seraya melingkarkan tangan di pinggang sang ayah lalu membenamkan wajah di perut itu.


“Lagi kangen Geo?” tanya Tora.


“Ara sudah lama ketemu Geo kemaren Daddy, kangennya sudah terobagi.” Sahut Yumna dengan gumaman kecil.


“Berarti ada masalah sama Guntur?” Tebak Tora.


Yumna menggelengkan kepalanya yang ada di perut Tora. Sampai membuat pria paruh baya itu merasa seperti digelitiki. "Gak ada Daddy, udah sana Daddy ke kantor.”


“Daddy gak mau pergi kalau Ara gak cerita.” Suami Ayumi itu menjauhkan kepala sang putri lalu ikut berbaring disana.


“Ih Daddy kok nyolot sih, dibilangin Ara gak ada yang dipikirin.” Ucap Yumna melanjutkan bermanja-manja dalam pelukan Tora.


“Astaga ditungguin sarapan di bawah, kalian malah asik tidur-tiduran!!” Decak Ayumi sambil berkacak pinggang di tengah pintu menyaksikan anak dan suaminya sedang berpelukan di tempat tidur.


“Tuh kan, Daddy sih. Sudah Ara bilangin sana pergi.” Ujar Yumna menyengir pada Ayumi tanpa mau lepas dari pelukan sang ayah.


“Sini Sayang,” panggil Tora pada istrinya dengan mengulurkan tangan. Satu tangannya yang lain mengunyel gemas pipi Yumna.

__ADS_1


“Maas, ajak anaknya turun. Itu bukan bayi lagi diunyel-unyel gitu!” Seru Ayumi melihat suaminya yang masih gemas pada Yumna, padahal bukan anak kecil lagi.


“Kita bikin bayi lagi yuk Sayang,” goda Tora. Yumna mencebikkan bibir, mulai sudah kalau aki-aki ini bermesraan dia akan terabaikan.


“Kamu pantasnya punya cucu Mas bukan anak!” Sarkas Ayumi.


"Dengarkan Sayang, Mommy-mu mau punya cucu. Ayo cepat nikah," Tora menggoda putrinya.


"Bang Aga kan ada Daddy, ngapain nunggu Ara nikah!" Cetus Yumna kesal.


"Abang kan belum dikasih sampai sekarang Sayang. Jadi anak kamu aja ya," Tora menaik turunkan alisnya semakin menggoda.


"Sudah Mas, sudah. Jangan ngelantur!" Ayumi menarik suaminya agar bangun.


"Ara demam Sayang," ucap Tora setelah Ayumi berhasil membangunkannya.


"Astaga Mas, kamu ini anaknya demam malah di peluk-peluk. Kalau ikut demam gimana?" Serang Ayumi.


"Kok Mommy malah khawatir sama Daddy sih," gumam Yumna sambil memijat pelipis pusing mendengar mommy-nya marah-marah.


"Gak gitu Sayang, Daddy-mu ini ih!" Kesal Ayumi lalu beralih pada putrinya.


"Ara mau pipis, tapi kakinya sakit." Rengek Yumna sengaja dimanja-manjakan di depan Ayumi.


Sekarang giliran Tora yang mengernyitkan kening, putrinya sedang berdrama lagi. Tadi katanya cuma demam sedikit, sekarang sudah seperti orang sakit keras saja.


"Cepat gendong Ara ke kamar mandi Mas," titah Ayumi. Yumna tersenyum penuh kemenangan pada sang ayah yang mendelik tajam ke arahnya.


Hai-hai, othor mau ajak kalian mampir ke karya othor yang lain 😄


Hayuuuk mampir di Story Aksara Cinta



"Ressa!" Teriakan Rina, sang ibu menggema di kamar wanita berusia tiga puluh tiga tahun itu.


"Kamu ini anak perawan suka bangun kesiangan. Pamali, makanya jadi perawan tua!" Sarkas Rina, membangunkan putrinya dengan cara yang ekstrim.


Ressa sudah tidak heran mendengar suara teriakan ibunda tersayangnya ini.

__ADS_1


"Inikan hari libur Bu, aku masih ngantuk." Ressa mengucek-ngucek mata, lalu tarik selimut lagi. Mengacuhkan suara merdu sang ibu, dia seperti sedang dinyanyikan.


"Eeee.. malah tiduran lagi." Rina keluar kamar mengambil tutup panci dan sendok. Ia dendangkan tepat di samping telinga Ressa.


"Ibuuuu!" Pekik Ressa, ia terpaksa mengangkat pantat dari kasur. Melengos ke kamar mandi.


"Mau sampai kapan kamu jadi pemalas begini Sa, ingat umur sudah tiga puluh tiga tahun. Adikmu sudah pada menikah dan punya anak," omel Rina.


"Kalau aku pemalas, mana mungkin perusahaan mau menerimaku sebagai karyawan Bu." Sahut Ressa dari depan pintu kamar mandi, dia menghela napas lelah. Isi tausiyah setiap pagi yang tidak pernah berubah.


Tidak bisa mengertikah ibunya itu dengan aktivitasnya selama di kantor yang menguras tenaga dan emosi. Ia hanya butuh waktu untuk istirahat dengan damai di rumah saat hari minggu. Kalau begini lebih baik tinggal di apartemen saja, huh!


Ritual mandi ia selesaikan secara kilat, baru jam tujuh pagi ibunya sudah seperti orang kebakaran jenggot membangunkan.


Usai mandi Ressa mencari sarapan ke dapur. Di rumah mereka hanya tinggal bertiga, sejak adik bungsunya menikah. Orang tuanya memilih ikut tinggal dengannya di Jakarta.


"Pakaian kamu itu gak ada yang lebih sopan sedikit?" Tegur Rina melihat putri sulungnya melangkah ke dapur hanya menggunakan hot pants dan kaos lengan pendek sangat kentat. Menurut Rina pakaian anaknya itu kurang pantas.


"Ini sudah sopan, Bu. Kurang sopannya di mana? Belahan dadaku kan gak kelihatan." Tukas Ressa kesal, semua yang ada di dirinya selalu jadi bahan protesan. Ujung-ujungnya jadi bahan perbandingan, seperti matematika saja.


"Itu paha mau digoreng?" Tanya Rina garang.


"Enak Bu kalau kalau digoreng." Jawab Ressa dengan kekehan. Malas menanggapi ucapan ibunya dengan serius yang bisa berakhir makan hati.


"Itu lihat, anak Ayah yang terlalu dimanjain. Suka menjawab kalau dibilangin, jadi perawan tua kan akhirnya!" Rina melampiaskan kekesalannya pada sang suami.


"Sudahlah Bu, biarin aja dia. Jodohnya belum sampai mau gimana lagi." Amrin menanggapi istrinya yang kesal dengan santai sambil menyeduh kopi.


"Itulah Ayah selalu belain dia. Bikin malu aja punya anak perawan gak nikah-nikah. Semua anak gadis tetangga kita di kampung sudah pada nikah. Tinggal dia yang betah jadi perawan tua," tukas Rina.


"Malu-maluinnya di mana Bu? Aku gak ngemis-ngemis buat minta makan. Makan juga dari uang hasil keringat sendiri, bukan dari tetangga. Aku gak pernah ngurusin tentangga ibu di kampung tuh. Ngapain harus malu." Jawab Ressa dari meja makan, masih mendengar keresahan ibunya yang malu memiliki anak perawan tua.


Amrin geleng-geleng kepala, anak dan putri sulungnya ini tidak pernah akur. Ada saja hal yang dipermasalahkan setiap hari.


Ressa makan dengan cepat lalu kembali ke kamar. Di depan cermin ia menatap penampilan dirinya. Apa yang kurang? Kalau dibanding dua adiknya dia tidak kalah cantik. Ocehan ibu yang setiap hari membuatnya lelah juga.


Apa aib punya anak belum menikah. Kalau jodoh bisa tentukan, gak perlu dia jadi jomblo ngenes. Setiap punya pasangan selalu berakhir gagal ke pelaminan.


Jatuh cinta saja tidak bisa memilih maunya sama siapa. Apalagi jodoh. Huh. Ressa membuang napas kasar berkali-kali untuk melegakan saluran pernapasannya.

__ADS_1


Tuhan aku request satu lelaki yang tampan, mapan, rupawan, dermawan dan hanya untuk aku seorang. Sisain satu please, jerit Ressa pelan sambil tertawa sendiri.


__ADS_2