
“Abaaang!” teriak Yumna. Ia diantar sang ayah ke rumah Ammar, gadis itu nyelonong masuk. Lelaki yang dicarinya sedang menonton televisi.
“Kenapa kesini lagi, tadi minta antar pulang?” ujar Ammar, tangannya terulur menyambut Yumna agar duduk di sampingnya.
“Ara bosan di rumah. Bunda mana, kok sepi?"
“Bunda pergi, Abang sendirian aja di rumah."
Yumna mengangguk-angguk saja mendengarkan penjelasan Ammar.
“Mau jalan kemana?” tanya Ammar.
“Ara mau tiduran aja disini,” Yumna merebahkan kepalanya ke pangkuan Ammar. Lelaki berusia dua puluh empat tahun itu membiarkan saja Yumna bermanja-manja padanya.
“Galau kenapa lagi sih, tadikan sudah ke makam Geo.” Ammar mengusap-usap kepala Yumna. Tidak sulit untuk menyayangi gadis ini, siapapun yang dekat dengannya pasti juga akan meyukainya.
Dia hanya berani menyayangi Yumna seperti seorang adik. Sadar, status sosial mereka berbeda. Ammar tidak ingin terjebak dengan perasaan yang salah.
“Gak galau Abang, Ara cuma lagi jenuh.” Jawab Yumna tidak bersemangat.
“Ara gak bisa bohong sama Abang,” Ammar menatap netra Yumna dengan lembut. Gadis itu malah membenamkan wajahnya di perut Ammar.
“Jadi gak mau cerita sama Abang nih?” tanya Ammar lembut.
“Apa yang harus Ara ceritakan. Kalau sebelum dimulai saja kisahnya sudah harus ditamatkan,” jawab Yumna sendu.
“Ara bisa membuat cerita yang baru kalau memang kisah itu harus tamat. Entah mau dengan tokoh yang sama atau berbeda. Itu terserah Ara,” ujar Ammar setengah bercanda membangunkan gadis itu dan memeluknya.
“Abang, ini bukan dunia fiksi atau sinetron.”
“Ini memang bukan dunia fiksi, tapi kadangi para penulis bisa membuat cerita karena terinspirasi dari kehidupan nyata.” Ammar tersenyum membelai rambut panjang Yumna.
__ADS_1
“Berhenti galau, kita jalan-jalan.” Ajak lelaki itu dengan senyuman cerah.
“Ara malas Abang,” rengek Yumna. Dia sedang tidak mood melakukan apapun.
“Mau Abang khilaf karena cuma berduaan sama kamu di rumah?” Goda Ammar dengan senyuman geli karena gadis itu memanyunkan bibir.
“Ara mau latihan menembak,” sahut Yumna kesal.
“Oke, kita latihan menembak.” Ujar Ammar menurut, apapun yang gadis ini inginkan dia selalu memenuhinya.
Bagaimanapun nyamannya Yumna bersama Ammar, tetap saja hatinya berkhianat. Sesampainya di lokasi shooting range Yumna meluapkan segala kekesalannya pada Guntur dengan menembak.
Ia sudah lama tidak datang ke tempat ini, karena lokasinya cukup jauh dari rumah. Lokasi latihan menembak ini sangat menyenangkan karena dikelilingi pegunungan.
“Good girl!!” Suara yang sangat mirip dengan suara Geo itu mengalihkan perhatian Yumna.
“Abang hati-hati,” lirih Yumna menghentikan latihannya saat Leo mendekati mereka.
Ammar mengangguk dengan senyuman kecil, menarik Yumna mundur ke belakangnya. Gadis itu memang banyak bercerita tentang Geo dan keluarganya.
“Jadi ini lelaki sasaranmu setelah Guntur!” Ucap Leo dengan senyuman miring.
“Kalau iya memangnya kenapa?” jawab Yumna berani. Gadis itu menyembul dari balik lengan Ammar dengan senyuman manis.
“Kamu cemburu? Atau takut harta Geo aku gunakan untuk lelaki lain.” Ujar Yumna melingkarkan tangannya di pinggang Ammar dengan erat.
"Kau terlalu berani anak kecil!!" Seru Leo semakin mendekat.
"Kenapa aku harus takut, harusnya Om bersyukur tidak aku kirim ke neraka dulu." Sahut Yumna dengan tawa mengejek. Ia mengajak Ammar untuk meninggalkan tempat itu sebelum Leo membuat keributan.
Cukup sekali dia membuat keributan di tempat terbuka, tidak ingin mengulanginya lagi. Kalau bisa menghindar sebaiknya menghindar.
__ADS_1
Ammar ikut saja, menggandeng tangan Yumna meninggalkan lelaki yang masih menatapnya tajam.
"Huh, selamat!!" Yumna menghela nafas lega karena Leo tidak mengejarnya.
“Ara langsung pulang ya, sudah sore juga. Nanti aja kalau mau jalan-jalan lagi,” ujar Ammar.
“Iya Abang,” Yumna menurut patuh.
Ammar menambah kecepatannya saat menyadari ada yang mengikuti mereka.
“Abang, jangan ajak Ara balapan.” Celoteh Yumna, matanya melirik ke arah spion dan spontan membelalakkan mata. Mereka dikejar tiga buah mobil sport. Jelas kalah mobil yang Ammar bawa ini.
"Abaaang," lirih Yumna gugup. Kalau di area terbuka dia bisa saja melawan. Tapi kalau mereka kecelakaan di jalan raya seperti ini. Itu akan membuatnya lebih cepat menyusul Geo.
"Ara tenang, telpon Daddy. Abang akan berusaha menghindari mereka." Ammar masih sempat mengusap kepala Yumna untuk menenangkan. Gadis itu menurut, menelpon sang ayah.
“Daddy, tolongin Ara dikejar Leo.” Beritahu Yumna saat panggilannya terjawab. Dia yakin daddy-nya bisa dengan mudah mengecoh orang-orang itu.
“Kirimkan lokasi Ara sekarang Sayang, tenanglah mereka tidak akan berani berbuat macam-macam di tempat terbuka siang begini.” Ujar Tora menenangkan putrinya.
“Aku tau Daddy, tapi Ara sama Abang. Bisa-bisa Abang yang jadi sasaran Leo.” Ujar Yumna khawatir.
“Ammar pasti bisa mengatasinya Sayang.” Ulang Tora menenangkan anak gadisnya.
"Jangan khawatirkan Abang, Ara pegangan!!" Peringat Ammar sebelum dia menambah kecepatan dan menyalip mobil-mobil di depannya.
"Woowww!! Abang, Ara mau coba - mau coba." Teriak Yumna girang saat adrenalinnya terpacu. Ia jadi ingin menyetir sendiri.
Ammar geleng-geleng kepala melihat gadis yang kegirangan itu. Tidak taukah Yumna kalau dia sangat khawatir. Untung anak buah Tora cepat membantunya mengecoh mobil Leo.
"Ini bukan area latihan balap Ara!" Tegas Ammar saat sudah menormalkan laju mobilnya.
__ADS_1
"Abang harus temani Ara latihan balapan!!" Seru Yumna dengan mata melotot. Ammar hanya menjawab dengan kekehan, tidak menanggapi keinginan gadis itu.