
“Abang suapin,” Yumna mendatangi suaminya yang sudah berbaring di tempat tidur dengan manja.
“Itu apa Sayang, baunya gak enak banget Ara makan di luar aja.” Usir Guntur langsung menjepit hidungnya agar tidak mencium aroma menyengat itu.
“Abang ngusir Ara?” ucap Yumna dengan mata berkaca-kaca. Bisa dipastikan sebentar lagi butiran bening itu akan berjatuhan.
“Enggak, Abang gak ngusir Ara. Tapi itu baunya gak enak Sayang.” Guntur yang sangat sensitif mencium bau semenjak Yumna hamil langsung berlari ke kamar mandi.
Sedang sang istri menghapus air mata buayanya diikuti gelak tawa sambil menikmati ice cream durian tanpa merasa bersalah.
“Sayang, keluar please. Kamarnya jadi bau,” mohon Guntur pada istri nakalnya. Ia masih berdiri di depan pintu kamar mandi menjaga jarak dengan sang istri.
“Ara lagi pewe Abang, Abang aja gih yang tidur di luar.”
“Beneran Ara mau Abang tidur di luar?” tanya Guntur memastikan dengan senyuman usil. Karena sangat tahu istrinya itu tidak akan mau tidur terpisah dengannya.
Yumna langsung merengut, “iya Ara keluar.” Ucapnya sambil menghentak-hentakkan kaki membuat Guntur mengulum senyum.
Setelah setengah jam lebih istrinya tidak kembali ke kamar Guntur menyusul keluar. Wanita hamil itu tengah bergelayut manja pada Papa Rizal. Pria paruh baya itu dengan sabar menyuapi menantunya ice cream.
“Sayang ayo kita tidur,” bujuk Guntur pada istrinya yang masih merajuk. Tidak mau menatap wajahnya.
“Abang jangan dekat-dekat, tadi Abang ngusir Ara kan.” Yumna menoleh sekilas lalu membuang wajahnya kembali. Hasna geleng-geleng kepala melihat kemanjaan menantunya.
“Abang gak ngusir Ara,” Guntur mengulurkan tangan mendekati sang istri dengan menahan napas karena aroma menyengat itu lagi-lagi menusuk hidungnya. Yumna tidak menggubris uluran tangan Guntur.
“Makan ice creamnya sudah cukup Sayang, nanti sakit perut. Sekarang Ara ikut Abang ke kamar.” Hasna ikut membujuk menantunya, mengambil ice cream yang masih berada di tangan sang suami. Kalau tidak dihentikan seperti itu Yumna tidak akan berhenti sebelum ice creamnya habis.
"Ara gak mau ikut Abang, Abang jahat."
"Cup... cup... Abang gak jahat lagi, ayo Sayang." Guntur menggendong ibu hamilnya yang manja seperti anak kecil. Huh, bayi besarnya ini sangat menguji kesabaran, untung Sayang.
__ADS_1
...🍀🍀🍀 ...
Kediaman Emran
"Kangennya," setelah pulang dari kantor Guntur mengajak istrinya ke rumah Papa Emran. Bibirnya menciumi gemas pipi mungil Nefa. Baby girl nan menggemaskan itu sudah bisa tengkurap.
"Ara mau gendong Sayang," tawar Guntur. Yumna refleks menggelengkan kepala, sontak membuat sang suami terkekeh. "Kenapa masih takut, Nefa pakai popok Sayang. Gak akan pipisin Ara."
"Abang besar banget, gimana nanti Ara ngeluarinnya?" Yumna mengusap-usap perut buncitnya.
"Ara bisa," Guntur yang mengerti kecemasan sang istri langsung merangkulnya dengan sebelah tangan. Tangan kirinya masih menahan tubuh Nefa yang berada di pangkuannya.
"Melahirkan tidak semenakutkan seperti yang ada dalam pikiran Ara," lanjutnya menciumi pipi Yumna untuk menenangkan.
"Abang nanti temani Ara, Ara takut." Yumna menatap lekat gadis kecil yang berada di pangkuan sang suami. Entah apa sebabnya, setiap melihat bayi hatinya tiba-tiba jadi cemas.
"Pasti Sayang," Guntur meyakinkan sambil tersenyum.
"No, kau jaga sendiri!!" Guntur sangat tahu apa yang ada dalam otak Tomi tidak jauh berbeda dengan otak Ghani.
"Sayang ikut Mas ke atas," ajak Tomi pada Anindi sambil tersenyum licik kearah Guntur.
"Kau ini selalu memanfaatkan!!" Decak Guntur tapi tetap memomong baby Nefa yang anteng tidak terdengar menangis sejak mereka datang. Membiarkan saja Tomi menikmati waktunya dengan Anindi.
Sekarang di ruang tengah hanya tertinggal Guntur dan Yumna yang bermain dengan baby Nefa. Perlahan istrinya itu sudah mulai mau bermain dengan Nefa dan menciumi pipinya.
"Coba Ara pangku Sayang," Guntur memberikan baby girl ke pangkuan Nefa. Namun gadis kecil itu langsung menangis yang membuat Yumna ketakutan.
"Coba Ara kasih susunya mungkin haus," Guntur memberikan dot pada sang istri. Yumna mengikuti aba-aba Guntur, Nefa langsung berhenti menangis setelah mendapatkan susu.
Disaat Guntur sibuk mengajari istrinya memomong bayi. Sementara di kamar atas Tomi sedang gencar-gencarnya mengajak sang istri bercinta. Karena sudah beberapa bulan ini jadwalnya mendapat asupan nutrisi tidak beraturan lagi.
__ADS_1
"Sayang," Tomi memeluk Anindi yang baru selesai mandi dari belakang.
"Mas, ini sudah jam setengah enam, kasihan Nefa kalau kita tinggal lama. Lagian nanggung sebentar lagi magrib," tolak Anindi halus.
"Sebentar Sayang, Mas kangen." Rengek Tomi tidak mau menunda keinginannya lagi, mumpung ada yang menjaga Nefa. Biasanya juga ada yang menjaga Nefa, tapi istrinya saja yang tidak mau melepaskan Nefa jauh dari pandangan mata.
"Yakin sebentar?" Tanya Anindi menyelidik, karena sebentar versi Tomi berbeda dengan sebentar versi dirinya.
"Iya sebentar Sayang," kalau tidak khilaf. Lanjut Tomi dalam hati sambil tersenyum penuh arti.
"Ya sudah, tapi ingat ini hanya sebentar." Anindi pasrah saja tidak menolak lagi, menuruti keinginan sang suami.
Kegiatan yang katanya sebentar itu menghabiskan waktu satu jam lebih membuat Anindi terkapar kelelahan. Sementara Tomi tersenyum bahagia memeluk istrinya. Setelahnya mereka membersihkan diri. Tomi turun ke bawah untuk menjemput putrinya, membiarkan Anindi beristirahat sebentar.
"Mah, Guntur dimana?" Tanya Tomi pada sang mama yang sedang menyiapkan makan malam karena di ruang tengah tidak ada Guntur. Di pria itu juga tidak ada.
"Guntur? Mama gak ada lihat Guntur ada di rumah ini." Sahut Mira bingung, "kamu lihat Guntur Ghin?"
Ghina yang ditanya juga menggelengkan kepala. Mereka tidak ada yang melihat Guntur ada di rumah sejak tadi.
"Gak mungkin Mah, tadi Guntur ada disini dia yang jaga Nefa." Ucap Tomi panik, pasti Guntur sedang mengerjainya. Ayah Nefa itu langsung menghubungi nomor Guntur namun tak terjawab.
"Ghani," gumamnya lalu mencari Guntur ke rumah sang sepupu.
"Gha ada Guntur disini?" Tanya Tomi dengan napas turun naik setelah pintu terbuka.
"Guntur? Aku bahkan tidak tahu kalau Guntur kesini. Sudah lama anak itu tidak menampakkan batah hidungnya. Emang ada apa?"
"Dia membawa Nefa kabur?"
"Kabur?" Ghani tertawa gelak. "Itu bukan kabur, paling dibawanya pulang. Coba cek mobilnya masih ada gak?"
__ADS_1
"Oh iya," Tomi sampai melupakan itu kenapa dia tidak kepikiran dari tadi. Suami Anindi itu langsung berlari menuju garasi. Tapi setelah sampai garasi Tomi menghembuskan napas dengan kasar. Tidak ada mobil Guntur disana.