
Akhir-akhir ini selain mengurus dua baby, Yumna juga disibukkan dengan kuliah. Walau semua itu tidak ia kerjakan sendirian tetap saja kepalanya oleng.
Baby Bian dan baby Yara memiliki masing-masing pengasuh. Sedang tugas-tugas kuliahnya dibantu oleh suami tersayang.
Namun semua itu tidaklah membuat hidup Yumna bisa tenang seperti dulu lagi. Karena dia seperti memiliki bayi kembar, kalau satu menangis maka yang satunya ikut menangis. Tidak jarang Yumna ikut menangis karena frustasi menenangkannya.
"Sayang baby rewel susuin dulu," Guntur memberikan putranya pada Yumna dan mengambil alih tugas kuliah sang istri.
Ya, lagi-lagi Guntur yang mengerjakan tugas kuliah Yumna. Bahkan bukan hanya tugas kuliah, skripsinya pun Guntur yang membantu mengerjakan.
Yumna memberikan ASI pada baby Bian yang sudah semakin besar. Baby berusia enam bulan itu masih rewel walau sudah berada di dekat mommy-nya.
"Ara, Yara gak mau minum susu di dot." Sagara tiba-tiba masuk ke kamar sang adik membawa putrinya yang juga menangis.
Guntur yang melihat Sagara masuk ke kamarnya langsung memasangkan apron menyusui untuk menutupi aset sang istri.
"Sebentar Abang, baby Bian gak mau dilepas ini." Ujar Yumna pusing melihat dua baby-nya menangis bersamaan disaat kepalanya sedang mumet mengerjakan tugas kuliah.
Sagara menimang-nimang putrinya agar mau tenang, namun malaikat kecilnya itu semakin menangis.
"Terus Abang harus gimana, baby gak mau diam ini. Abang gak punya buah dada yang besar buat mainan Yara," ucap Sagara asal.
Yumna menghela napas lelah, ingin sekali dia meminta abangnya itu untuk menikah lagi agar bebannya sedikit berkurang. Tapi tidak berani mengatakan, takut melukai hati kakak tersayangnya.
"Keluarlah biar aku yang urus, jangan masuk sebelum diijinkan." Ucap Guntur mengambil baby Yara dari gendongan kakak iparnya. Dia sudah bisa melihat wajah lelah sang istri dan harus cepat bertindak.
Sagara yang kebingungan hanya menurut. Guntur langsung mengunci pintu kamar setelah iparnya keluar.
__ADS_1
"Berbaringlah Sayang di tengah," suruh Guntur seraya meletakkan baby Yara di samping kiri Yumna. Dua baby itu akhirnya memagut sumber ASI-nya masing-masing tanpa ingin melepaskan.
Rasanya Guntur tidak rela melihat dua baby itu menguasai squishy kesayangannya. Ia duduk disisi tempat tidur mengelus-ngelus kepala Yumna. Kalau dia lepas pengawasan sedikit saja, istrinya ini bisa ikutan menangis karena frustasi menangani baby-nya. Jadi ia harus mencurahkan kasih sayangnya agar rasa lelah sang istri hilang.
Hingga setengah jam Yumna menyusukan, keduanya tertidur lelap.
"Jadi mau di peluk mommy gini," Guntur tersenyum setelah melihat dua baby-nya sudah tidur pulas.
"Setelah ini jatah daddy," bisik Guntur usil pada sang istri yang kelelahan. Kedua gentong milik istrinya itu langsung kosong.
"Ayo," ujar Yumna menggoda dengan membusungkan dadanya yang tidak tertutup apa-apa setelah bekerja keras menidurkan putra-putrinya.
Guntur menelan saliva, ada yang langsung bangun dari tidurnya. "Ayo kita pindah kamar," ajaknya.
Namun belum sempat mereka beranjak pintu kamarnya diketuk. Guntur membantu merapikan piyama sang istri kemudian menggigitnya dari luar.
Guntur tersenyum lebar menyelimuti sang istri, "Ara istirahat sebentar, nanti Abang bikin lelah Ara ini berganti jadi lelah sambil mendesah keenakan." Bisiknya, yang sukses membuat pipi Yumna bersemu merah karena malu. Otak mesumnya langsung kelayapan kemana-mana.
Guntur membuka pintu kamar melihat Sagara yang berdiri disana. "Yara sudah tertidur," beritahunya. "Mau dibiarkan tidur disini atau dibawa ke kamar?"
Sagara mendekati tempat tidur, mengamati dua baby yang tidur dengan nyaman di ketekan sang adik.
"Biar dia disini," ujar Sagara tidak tega mengganggu tidur nyenyak putrinya. Lalu menciumi seluruh wajah baby Yara kemudian beralih mengecup kening sang adik.
"Eits, no cium-cium." Guntur sudah meletakkan tangannya di kening sang istri.
Sagara tersenyum tipis lalu mengecup pipi Yumna kemudian kabur dari sana.
__ADS_1
"Dasar duda sinting!!" Umpat Guntur pelan membersihkan pipi Yumna yang bekas dicium Sagara.
Yumna terkekeh kecil melihat sang suami yang sekarang cemburu pada abangnya sendiri.
Guntur membenarkan posisi tidur baby Bian, memberi pembatas bantal agar putranya itu tidak terjatuh. Begitu juga dengan baby Yara. Dia selalu tidak kebagian jatah tempat tidur kalau Yara ikut tidur dengan mereka. Namun Guntur selalu punya cara agar bisa mendapatkan jatah harian secara rutin.
"Are you ready?" Guntur mengangkat tubuh mungil sang istri, membawanya ke kamar sebelah yang disiapkan untuk baby Bian. Pintu kamar itu terhubung langsung ke kamarnya. Jadi tidak akan ada yang tahu kalau Guntur selalu memindahkan sang istri saat tengah malam. Karena tidak ingin para baby itu melihat perbuatan mom dan dad-nya.
"Setelah ini temani Ara ngerjain tugas," pinta Yumna.
"Yes Honey, kalau tidak ketiduran." Guntur membaringkan dengan pelan tubuh Yumna ke tempat tidur. Dan mulai mencumbuinya dengan lembut dimulai dari bibir beralih ke leher kemudian semakin turun. Dinginnya malam berubah jadi panas karena percintaan mereka.
Oek... Oek...
Oek... Oek...
Suara tangisan baby Yara dan baby Bian bersahutan dikala Guntur sudah semakin bergairah.
"Abang, baby!!" Pekik Yumna mendorong tubuh Guntur, lalu bangun dan mengambil pakaiannya yang berserakan dimana-mana. Setelah berpakaian lengkap kembali Yumna ke kamar sebelah menenangkan kedua baby-nya. Tanpa sempat memikirkan kekecewaan sang suami.
Guntur mengusap wajahnya dengan gusar, "gagal!" Kesalnya beranjak ke kamar mandi.
Setelah selesai menenangkan adik kecilnya Guntur menyusul sang istri ke kamar sebelah. Dilihatnya Yumna sudah tertidur.
Guntur menarik napas panjang membiarkan istrinya tidur sebentar. Ia lanjut mengerjakan tugas Yumna.
Setelah tugas sang istri selesai Guntur mengangkat Yumna dengan pelan agar tidak membuat dua baby itu terbangun. Dan memindahkan ke kamar sebelah. Bibirnya tersenyum lalu menyerang istrinya yang masih tidur. Ia tidak ingin menunda waktu untuk bersenang-senang lagi sebelum kedua baby-nya kembali menangis.
__ADS_1