Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
133. Kabar Duka


__ADS_3

Guntur benar-benar membawa Yumna menginap di hotel. Membiarkan Khalisa dan Ghani yang menjaga putranya sebagai pembalasan.


Drt... drt...


Di tengah permainan panas mereka ponsel Yumna berdering.


"Abang, ada telepon." Ucap Yumna dengan suara yang mendayu-dayu karena kegagahan prianya.


"Nanggung Sayang, sebentar lagi." Guntur tidak ingin setengah-setengah, tidak boleh ada yang mengganggu kesenangannya. Ia semakin berpacu cepat membuat Yumna mengerang nikmat dengan suara yang semakin sexy. Suara sexy Yumna membuat Guntur semakin bergairah. Namun lagi-lagi ponsel Yumna berdering, Guntur tetap tidak melepaskan sang istri dari kungkungan. Setelah dering di ponsel Yumna berhenti sekarang berpindah ke ponsel Guntur.


"Abang jawab dulu," ujar Yumna lemas. Guntur mengangguk mengecup leher sang istri, menjangkau ponselnya yang berada di atas nakas. Guntur masih menindih Yumna, tanpa melepas penyatuannya menjawab telepon.


"Daddy," gumam Guntur. Hampir saja ia memaki orang yang mengganggunya, kalau saja bukan sang mertua.


"Kalian kemana saja dari tadi tidak bisa ditelepon!!" Teriak Tora marah tapi dengan suara sendu.


"Dad, are you okay?" Perasaan Yumna jadi tidak enak saat mendengar suara Dad Tora.


"Cepat ke rumah sakit Sayang," Tora tidak sanggup melanjutkan ucapannya melihat sang putra yang sangat terpukul.


"Dad siapa yang sakit?" Yumna langsung bangun, tanpa sadar mendorong tubuh Guntur dan duduk.


Guntur langsung mengerang tertahan karena gerakan sang istri.

__ADS_1


"Kak Aya sudah pergi, Sayang." Lirih Tora pelan, tak terasa air matanya berjatuhan. Setelah sang menantu dinyatakan dokter meninggal dunia dia langsung menghubungi putrinya.


"Kak Aya meninggal Dad. Daddy sedang tidak bercanda?" Yumna ingin meminta kejelasan dari kata pergi yang Dad Tora ucapkan. Perasaannya sudah tidak karuan dengan air mata yang tanpa dikomando berjatuhan di pipi.


"Daddy gak bercanda Sayang. Cepat kalian ke rumah sakit. Hibur Abang," ujar Tora dan langsung memutus sambungan telepon saat mendengar suara terjatuh. Yang ternyata istrinya pingsan.


Guntur yang tadinya kesal dengan sang istri langsung memberikan pelukan sebentar. Kemudian menggendong Yumna ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri mereka langsung ke rumah sakit. Guntur sudah mengabari Papa Emran dan Papa Rizal.


"Kak Aya!" Tangis Yumna lagi-lagi pecah melihat wajah pucat kakak iparnya yang sudah tidak bernapas.


Ranaya meninggal karena mengalami pendarahan saat melahirkan. Sedang bayi mereka bisa diselamatkan dan dalam keadaan sehat. Guntur hanya bisa menguatkan dengan memegang bahu sang istri yang sedang memeluk jenazah kakak iparnya.


"Abang!" Yumna menghambur ke pelukan Sagara yang terlihat tidak berdaya dan sangat kacau. "Maafin Ara tidak ada disini saat Kak Aya pergi."


Sagara hanya mengangguk kecil membalas pelukan sang adik.


Sagara menciumi pipi dan kening sang adik yang beruraian air mata, "cukup Ara ada disini." Ucapnya pelan lalu membenamkan wajah di ceruk leher adik kecilnya.


Melihat kemesraan kakak dan adik itu membuat Guntur ragu kalau mereka kakak adik kandung. Ada rasa tidak rela melihat Yumna dipeluk lelaki lain walau itu kakak iparnya sendiri.


Tapi ia tidak tega memisahkan, melihat Sagara yang sedang kacau. Guntur tidak bisa membayangkan kalau hal itu terjadi pada istrinya.


"Dad bagaimana keadaan Mom?" Guntur mendekati ayah mertuanya. Karena saat mereka dalam perjalanan ibu mertuanya itu pingsan.

__ADS_1


"Mom masih pingsan," Tora menghela napas dengan berat, begitu juga dengan Guntur.


Kabar duka ini sangat mendadak bagi mereka. Kemarin Tora masih bisa melihat senyuman di wajah Ranaya. Tapi hari ini senyuman itu sudah hilang, begitu juga senyuman di wajah putranya.


...💥💥💥...


Yumna tidak beranjak sedikit pun dari sang kakak sejak tadi malam sampai acara pemakaman siang ini selesai dilakukan. Ia bahkan melupakan anak dan suaminya. Sedang baby yang masih di rumah sakit di jaga oleh perawat khusus.


"Ara istirahatlah temani suamimu," ucap Sagara pelan.


Istri Guntur itu menggeleng pelan, "Ara mau menemani Abang disini."


Sagara menangkup kedua pipi sang adik, "temani Guntur selagi dia masih ada. Jangan sampai menyesal karena sudah membuang banyak waktu yang bisa kalian habiskan bersama." Ucapnya dengan senyuman getir. Mengingat kembali bagaimana bahagianya dia ketika Ranaya hamil. Dan itu jadi hadiah terindah ulang tahun pernikahan mereka. Namun ternyata itu juga kebersaman tahun terakhir mereka.


Andai bisa memilih, Sagara lebih memilih bersama Ranaya selamanya walau tidak memiliki keturunan.


"Iya Abang," Yumna tahu sang abang butuh waktu untuk sendiri. Ia keluar dari kamar Sagara dan mencari sang suami yang ada di ruang tengah bersama keluarganya yang lain. Keluarga suaminya juga masih ada disana, baik Papa Rizal maupun Papa Emran.


"Abang," Yumna langsung naik ke pangkuan Guntur tanpa mempedulikan ada banyak orang disana.


"Iya Sayang," Guntur menghapus sisa air mata di pipi istri kecilnya.


"Jangan tinggalin Ara," lirihnya. Guntur langsung memeluk sang kekasih dan menciumi puncak kepala Yumna.

__ADS_1


"Abang gak akan ninggalin Ara, Sayang." Jawab Guntur sangat pelan, dia bisa memahami kesedihan wanitanya ini.


Kejadian ini membuat Yumna semakin takut untuk hamil lagi. Guntur tidak mempermasalahkan, baby Bian sudah cukup untuknya. Dan sekarang juga ada baby girl yang memerlukan kasih sayang mereka.


__ADS_2