
"Ara masuk ke kamar!!" Titah Tora dengan tatapan tajam seperti ingin menguliti putrinya hidup-hidup.
Yumna menurut tidak ingin membantah ucapan daddy-nya lagi. Ia masuk ke kamar dengan kepala masih menunduk meninggal suaminya yang sedang disidang.
"Kau masih punya nyali menemui putriku setelah mengabaikannya!!" Tora beralih menatap Guntur dengan tajam.
"Aku minta maaf Daddy," ucap Guntur. Padahal dia bisa saja membawa kabur Yumna lagi tanpa harus menghadapi mertuanya seperti ini.
"Jangan panggil aku Daddy lagi, karena aku bukan Daddy mu. Dan maafmu ditolak!!" Sarkas Tora yang sangat marah mengetahui Guntur sering membawa Yumna ke hotel tanpa sepengetahuannya.
Memang tidak salah kalau suami istri berduaan di hotel. Tapi Tora tidak ingin melihat putrinya bersedih lagi karena disakiti Guntur.
"Dad, beri aku satu kali kesempatan untuk bersama Ara lagi," mohon Guntur sungguh-sungguh.
"Aku sudah memberikanmu kesempatan, tapi kau malah melakukan kesalahan lain. Pergilah aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!!" Tora yang baru pulang dari perjalanan jauh malas membuang sisa energinya hanya untuk memarahi Guntur.
"Kalau aku tidak boleh membawanya pulang ijinkan aku tinggal disini," sekali lagi Guntur memohon.
"Cih, kenapa aku harus memohon. Aku bisa saja membawa putrimu kabur lagi!" Guntur tersenyum tipis.
"Rumahku bukan tempat penampungan!!" Sarkas Tora lalu meninggalkan ruang tamu.
Guntur menghela napas kasar hanya tertinggal dirinya dan Sagara yang ada di ruang tamu.
"Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi, pintu keluar ada disana." Sagara menunjuk arah pintu dengan tatapan datar.
Guntur bangkit dari duduknya lalu meninggalkan kediaman Tora. Ia menatap kearah lantai dua dan ternyata istrinya sedang berdiri di balkon juga menatap kearahnya.
__ADS_1
"Tunggu Abang Sayang, Abang pasti menjemput Ara." Guntur membalas senyuman dan lambaian tangan sang istri.
Dari atas Yumna tersenyum manis. Ia memang sudah memaafkan Guntur. Tapi masih ada rasa takut kalau suaminya itu mengabaikannya lagi ketika marah. Jadi lebih memilih menurut pada Dad Tora, kecuali daddy yang mengijinkannya ikut bersama Guntur lagi.
"Apakabar cucu Grandfa?" Tora mengelus lembut perut sang putri yang masih menatap kepergian Guntur.
"Aku heemm baik," Yumna menirukan suara anak kecil sambil tersenyum mengelus perutnya.
"Syukurlah kalau cucu Grandfa baik, kalau putri Daddy?" Tora beralih memeluk Yumna dan bertanya dengan lembut, tahu putrinya ini menginginkan Guntur berada disisinya.
"Apa Daddy menyakiti Ara karena melarang Guntur menjemput Ara?"
"Ara gak tau Daddy. Ara gak mau pisah dari Abang. Tapi Ara takut kalau Abang mendiamkan Ara lagi." Ucap Yumna dengan suara sendu tanpa melepaskan pelukannya dari sang ayah, cinta pertamanya.
"Abang gak akan marah dan mendiamkan Ara kalau Ara gak melakukan kesalahan." Tora mengusap rambut putrinya lembut lalu tersenyum penuh arti.
"Ara minta maafnya saat Abang masih emosi, jadi gak didengerin. Daddy gak mau ikut campur urusan kalian lagi, jadi Ara selesaikan sendiri masalah Ara." Tora mengecup puncak kepala Yumna dengan penuh kasih.
"Itu artinya Daddy membolehkan Ara bersama Abang lagi?" Tanya Yumna dengan raut berbinar ceria.
"Iya Sayang, tapi jangan diberitahu sekarang." Tora menahan putrinya yang sangat bersemangat ingin menghubungi sang suami.
"Kenapa Ara gak boleh ngasih tahu Abang sekarang?" Tanya Yumna bingung kembali menatap sang daddy dengan intens.
"Karena Daddy mau mengerjai suamimu itu," jawab Tora dengan tawa gelak. "Ara setuju?"
"Setuju," Yumna menganggukan kepala dan ikut tertawa. "Anggap saja ini bayaran karena Abang sudah mengabaikan Ara," serunya dalam hati.
__ADS_1
Sampai di rumah Guntur masih memikirkan cara untuk meluluhkan hati mertuanya. Ia tidak ingin membuat keributan dengan menculik istrinya lagi.
"Sayang," Guntur melakukan video call. Ia ingin menemani Yumna sampai tertidur walau tidak sedang berada di sampingnya.
Sedang Yumna sengaja menggunakan lingeri yang sangat sexy agar Guntur tersiksa berjauhan darinya.
"Sayang pakai selimutnya," Guntur mendesah berat saat melihat tampilan istrinya yang sangat menggoda tapi tidak bisa disentuh. Membuat adik kecilnya langsung terbangun.
"Ara kepanasan Abang." Ujar Yumna lugu seolah tidak mengerti suaminya sedang tersiksa. "Kayaknya AC-nya rusak, Ara harus minta Daddy benerin nanti."
"Pantesan panasnya sampai kesini," sahut Guntur singkat mengusap wajahnya dengan kasar berulang kali.
"Hm, sini Ara dinginkan kita mandi bareng. Baby juga kangen Abang," Yumna mengarahkan kamera ke perut tapi Guntur malah gagal fokus kearah yang lain.
"Ara, Abang kesana Sayang." Guntur sudah tidak bisa menahan diri, ingin segera menyentuh istrinya itu.
"Eitss, Abang mau masuk lewat mana?" Tanya Yumna khawatir. Padahal dia susah payah menahan tawanya.
"Ara pasti tau Abang harus masuk lewat mana kan?" Tanya Guntur yang sangat yakin Yumna punya solusinya.
Yumna mengangguk kecil mengingat keahliannya dalam melarikan diri.
"Sekarang Ara tunjukin sama Abang jalannya," pinta Guntur dengan semangat empat lima ingin jadi penyusup.
"Tapi Daddy nanti marah Abang," Yumna berucap sendu. Guntur terpaksa mengurungkan niatnya karena tidak mau istrinya yang dimarahi.
"Besok Abang jemput Sayang, Ara langsung tidur ya Abang mau mandi dulu." Guntur langung mematikan sambungan video call setelah Yumna mengiyakan. Ia harus segera menidurkan adik kecilnya yang rewel.
__ADS_1
Sementara di kamarnya Yumna tertawa gelak setelah berhasil membuat Guntur panas dingin dan tersiksa. "Good job baby," ungkapnya sambil mengelus perut.