Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
118. Cookies


__ADS_3

"Sudah lega Sayang?" Guntur langsung membawa istrinya pulang setelah dari cafe.


Yumna menganggukkan kepala, walau hatinya merasakan kasihan pada Geo tapi lebih memilih tidak mengatakannya pada sang suami. Dia tidak ingin Guntur salah paham dan cemburu lagi.


"Abang tahu loh apa yang Ara pikirkan," Guntur mengecup puncak kepala Yumna.


"Maafkan kali ini Abang egois Sayang, meskipun Abang tahu Geo sangat mencintai Ara. Tapi Abang tidak akan melepaskan Ara untuk siapapun." Guntur memeluk posesif ibu hamilnya tanpa melepaskan ciuman di pipi.


"Dan Ara juga gak mau siapapun selain Abang," Yumna tersenyum balas mengecup di pipi Guntur.


"Ralat, bukan Abang. Tapi Sayang," beritahu Guntur namun istrinya menggeleng tegas menambah kadar kegemasan sang suami.


...💥💥💥 ...


"Abang, kenapa dimakan?" Yumna menangis tersendu-sendu gara-gara cookies yang dibuatkan Mama Hasna untuknya dihabiskan sang suami.


"Mama bikin memang buat dimakan Sayang," sahut Guntur bingung sekaligus memasang wajah tanpa dosa.


"Tapi itu punya Ara. Ara masukkan di toples biar bonekanya gak patah," sebut Yumna. Dia saja sayang memakan cookies karakter berbentuk panda yang dibuatkan sang mertua.


"Nanti Mama bikinin lagi Sayang. Cup, cup," Guntur membujuk ibu hamilnya yang suka rewel.

__ADS_1


"Guntur!! Kamu apakan lagi menantu Mama?" Teriak Hasna dari arah dapur, setiap hari putranya itu berulah yang membuat sang menantu menangis.


"Guntur gak ngapa-ngapain Mah, cuma ngabisin itu." Tunjuk Guntur pada toples di meja yang membuat Hasna melotot.


"Astaga Guntur. Kalau mau makan itu tanya-tanya dulu. Itu cookies kesayangan istrimu!!"


"Guntur gak tahu Mah, habis bentuknya lucu." Jujur Guntur yang tidak melepas sang istri dari pelukan agar berhenti menangis.


"Sini sama Papa Sayang," panggil Rizal lalu duduk di samping Yumna. Perempuan hamil itu langsung menghambur kepelukan Papa Rizal.


Guntur tidak bisa melarang kalau istrinya itu lengket dengan sang papa. Bisa semakin menangis kalau dilarang.


"Cucu kakek ini mau apa sih?" Rizal mengelus perut menantunya yang sangat manja.


"Sayang mana bisa seperti itu," Guntur memutar bola mata jengah. "Drama lagi," batinnya.


"Nanti Mama bikinkan lagi, sekarang ikut Papa kita jalan-jalan." Ajak Rizal yang langsung disetujui Yumna.


Guntur menarik napas berat, walau tidak rela istrinya sangat manja pada sang papa. Tapi dia bersyukur juga karena ada yang membantu memomong istri manjanya itu. Jadilah Guntur membiarkan saja istrinya itu dibawa sang papa.


*

__ADS_1


*


*


"Abang!!" Panggil Yumna berteriak nyaring di ruang tengah dengan wajah ceria menyusun toples di meja. Rizal tersenyum melihat wajah cerah si ibu hamil setelah merampok coklat milik Arraz.


"Sayang, Ara minta coklat Arraz?" Tanya Guntur yang sangat hapal kalau coklat koin itu kesukaan Arraz.


Yumna menganggukkan kepala riang, "iya. Ara minta semuanya." Jawabnya yang membuat Guntur meringis.


"Kalau minta cukup satu toples, ini lima namanya merampok." Gumam Guntur dalam hati.


"Terus Arraz disisain?" Selidik Guntur.


"Iya, Ara sisain enam."


"Baguslah," Guntur menghela napas lega setidaknya istrinya ini tahu diri. Lebih banyak yang ditinggal daripada dibawa.


"Enam biji," lanjut Yumna dengan cengiran yang membuat Guntur melotot.


"Ara simpan satu toples yang empat kembalikan ya Sayang. Nanti Ara sakit gigi kebanyakan makan coklat," bujuk Guntur.

__ADS_1


"Enggak!!" Yumna memeluk toples-toplesnya persis seperti anak kecil.


"Oh Tuhan semoga tidak ada sifat manja Momnya yang turun ke baby boy," batin Guntur cemas.


__ADS_2