Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
72. Amarah


__ADS_3

Sementara Guntur terburu-buru pulang saat sang mama menelpon kalau rumah mereka dimasuki orang-orang tidak dikenal. Untung perempuan yang sudah melahirkannya ke dunia itu tidak kenapa-kenapa. Papanya sedang keluar kota, penjagaan di rumah ini memang tidak terlalu ketat.


Setelah ia selidiki Brayen yang mengirim orang-orangnya ke kediaman orang tua kandungnya.


"Mama!!" Guntur menghambur ke pelukan Hasna. Ia sangat khawatir kalau mamanya terluka.


"Mama gapapa," Hasna mengusap kepala putra sulungnya.


"Maaf Guntur jarang di rumah menjaga Mama," bukan jarang. Bahkan bisa dihitung jadi dalam sebulan dia menginap di rumah.


"Kenapa minta maaf, Mama gapapa. Lihat, gak ada yang terluka." Wanita paruh baya itu tersenyum melihat putranya bisa panik. Dulu anak ini yang paling tidak peduli dengan keadaan sekitar. Bisanya hanya main.


"Kenapa kamu sangat khawatir seperti ini," Hasna terkekeh kecil.


"Kalau Mama kenapa-kenapa, aku yang paling merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Mama dan sering meninggalkan Mama." Ucap Guntur, ia bahkan lebih dekat dengan Mama Mira daripada dengan mama kandungnya sendiri.


Hasna membawa putranya duduk, "kamu jadi lebih manis setelah menikah." Gumamnya seraya menepuk pipi Guntur pelan, Mama bahagia melihat kamu sudah menikah, apalagi kalau punya anak." Senyuman manis tersungging dari bibirnya yang sudah tidak muda lagi.


"Mah, aku masih perlu waktu membujuk Ara agar mau hamil. Untuk yang satu itu Guntur gak bisa memenuhinya dengan cepat." Guntur menatap netra sang mama dengan penuh kelembutan.


"Mama mengerti Sayang," Hasna menepuk tangan Guntur yang berada di pangkuan.


"Kakak!! Kalian gapapa?" Pekik Mira, nenek Arraz-Airil itu berjalan terburu-buru mendekati kakak iparnya.


"Aku gapapa. Astaga kenapa lebay banget sih pake acara siaran langsung!!" Hasna mendelik, menjewer telinga putranya. Tidak ada lagi kelembutan yang tadi ia salurkan pada Guntur.


"Guntur panik Mah," jawab sang putra dengan cengiran. Setelah mendengar rumah mereka diserang ia langsung menghubungi Papa Rizal dan Papa Emran.


"Guntur bawa Mama-mu ke mobil!" Perintah Emran.


"Aku gak kenapa-kenapa. Kenapa kalian mempelakukanku sangat berlebihan." Tolak Hasna saat Guntur ingin membawanya.

__ADS_1


"Lebih aman di rumah kami Kak, ikut saja. Tidak ada yang bisa menjamin orang-orang itu tidak kembali lagi." Ujar Mira membujuk kakak iparnya.


Hasna membenarkan ucapan Mira. Kapanpun orang-orang itu bisa kembali. Akhirnya ia menurut ikut ke rumah sang adik ipar.


...🪴🪴🪴 ...


"Abaang!" Pekik Yumna sambil berlari masuk ke rumah mewah Emran. Ia langsung minta antar sang daddy untuk menyusul Guntur setelah mendapat kabar yang membuatnya murka.


"Awas kau Brayen, akan kubunuh tanpa ampun!!" Teriak Yumna berapi-api dengan suara yang menggelegar. Amarahnya mencuat saat mengetahui komplotan itu malah menyerang rumah mertuanya yang tidak memiliki penjagaan ketat.


"Sstt, gak boleh ngomong begitu." Guntur langsung berdiri menyambut sang istri dan memeluk wanitanya di depan keluarga besarnya.


"Enggak. Ara yang akan bunuh Brayen dan Leo dengan tangan Ara sendiri!!" Ulangnya dengan dada yang bergemuruh karena amarah.


Ia sangat takut semua itu berimbas pada Guntur dan membuatnya kehilangan sang suami.


Semua orang yang ada di ruangan itu terdiam, termasuk Tora sendiri. Ia tahu kenapa putrinya sampai sangat marah seperti itu. Yang sebenarnya Yumna khawatirkan Guntur bukanlah mertuanya.


Kalau tidak sedang berada di tengah-tengah keluarganya Guntur sudah menenangkan bibir mungil yang bergetar itu.


"Ara takut Abang yang terluka, sebelum itu terjadi Ara harus membunuh mereka." Kekeuh Yumna tak terpatahkan, Guntur menggeleng pelan.


"Abang gak akan terluka, Sayang." Lagi-lagi Guntur hanya bisa meyakinkan kalau dirinya akan baik-baik saja sebelum sang istri nekat membahayakan dirinya sendiri.


Walau Yumna memiliki keahlian, tetap saja Brayen bukan lawan yang seimbang untuk wanitanya ini.


"Bagaimana Ara bisa percaya kalau Abang akan baik-baik saja. Sedang Geo, Leo racun di depan mata Ara, Abang. Walaupun Abang baik-baik saja, Ara tetap akan membunuh mereka untuk Geo." Ucap Yumna lirih namun masih bisa di dengar yang lain. Suara itu sarat akan amarah dan kebencian.


"Jadi Ara lebih memilih meninggalkan Abang dengan melawan Brayen dan Leo. Ara tahu, kalau bukan mereka yang mati maka Ara yang akan mati. Itu artinya Ara akan meninggalkan Abang." Ungkap Guntur yang membuat Yumna terdiam.


"Apa Ara memang mau meninggalkan Abang?" Tanya Guntur ulang saat Yumna tidak bisa menjawab.

__ADS_1


"Ara lebih memilih memuaskan kebencian pada mereka untuk Geo. Daripada tetap ada disini untuk Abang?" Lagi-lagi Guntur berujar sendiri tanpa ada jawaban.


Hatinya cukup terluka karena sampai sekarang Yumna tidak pernah bisa menyingkirkan Geo di hati. Selama ini dia tidak mempermasalahkan itu. Tapi mendengar Yumna tetap nekat ingin balas dendam membuat hatinya sakit. Ternyata sampai sekarang Geo lebih penting daripada dirinya.


"Lakukanlah, Abang gak akan menghalangi Ara." Guntur tersenyum mengecup puncak kepala sang istri kemudian mengurai pelukan. Ia berlalu ke kamar atas, hatinya sedang tidak baik sekarang.


"Abang marah sama Ara?" Ucap Yumna yang masih bisa di dengar Guntur. Wanita itu berdiri mematung ditempat.


Guntur menoleh lalu menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Abang memberikan Ara kebebasan untuk melakukan apa yang Ara mau," ucapnya lalu melanjutkan langkah kaki. Walau tanpa dia akan banyak yang membantu Yumna melawan Brayen.


Semua yang ada di ruangan itu bahkan menahan napas melihat adegan yang terjadi. Tidak ada amarah yang terdengar dari Guntur namun tersimpan luka disana.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


...💥💥💥...

__ADS_1


Kok Othor deg-deg'an ya. Baru tau Guntur punya hati, ternyata bisa sakit hati juga 😄


__ADS_2