Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
66. Frustasi


__ADS_3

Guntur menemani Yumna mendatangi pemakaman Geo setelah segala rentetan drama pagi ini terlewati. Menikahi perempuan yang seperti anak kecil tentu saja ia harus memiliki kesabaran lebih dan menikmati setiap drama yang terjadi.


Selepas dari pemakaman Geo mereka menyusuri gang-gang terpencil untuk membagikan makanan.


“Ara sering ke tempat ini?” tanya Guntur setibanya mereka di perkampungan kumuh.


Anak kecil berlarian mendekati Yumna, ada beberapa anak yang tidak menggunakan baju. Anak-anak itu menyambut Yumna dengan riang dan bergantian memeluk. Guntur tidak bisa menahannya lagi.


“Setiap minggu pasti kesini sama Geo dulu,” jawab Yumna. Kalau dia menjawab bersama Ammar pasti suaminya cemburu lagi.


“Sama Ammar?” selidik Guntur. Yumna hanya mengangguk kecil.


Pria itu menarik nafas panjang. Pantas saja istrinya ini sangat menempel dengan Ammar. Ternyata mereka selalu pergi bersama, tidak hanya ke tempat latihan menembak.


“Kak Yumna, Bang Ammar mana. Ini teman baru kakak?” tanya bocah perempuan yang tidak segan memeluk dan menciumi Yumna. 


Guntur meringis melihat istrinya di peluk para bocah yang berkeringat setelah berpanas-panasan. Dia harus merendam Yumna di sabun anti bakteri setelah ini.


“Bang Ammar lagi sibuk, kenalin ini suami kakak.” Yumna melirik pada sang suami yang terlihat tidak suka berada di tempat ini.


“Kenapa kakak nikah sama om-om. Aku gak suka!!” Seru bocah itu, Yumna terkekeh kecil menanggapinya. Sedang Guntur menatap bocah itu tajam.


“Suka gak suka dia tetap istriku!” Guntur melerai pelukan itu. 


“Abang, dia masih kecil. Jangan melotot begitu,” Yumna ingin mengusap mata Guntur yang melotot tapi tangannya segera ditahan sang suami.


“Kamu juga masih kecil, ini tangan kotor. Jangan sentuh-sentuh!!” Sarkas Guntur kesal menyingkirkan tangan Yumna dari depan wajahnya.


“Abang, Ara gak ngapa-ngapain masa kotor!!” protes Yumna tidak terima.


“Kamu habis peluk sana sini Ara, jangan dekat-dekat. Cepat bagikan makanannya setelah itu kita pulang!!” Ia tidak betah berlama-lama berada di tempat yang kumuh ini.


“Kita baru sebentar Abang, Ara belum mau pulang sekarang. Ara masih mau main sama mereka.”


“Kamu mau berapa lama sih disini? Panas Ara.” 


“Abang nunggu di mobil aja sana, kalau gak suka disini.” Yumna meninggalkan suaminya mendekati anak-anak itu.


Guntur menggeleng pelan, main sama Nefa gak mau. Malah main sama anak-anak yang tidak jelas, gumamnya lalu memutuskan menunggu Yumna di mobil. Dia bisa jadi ikan asin kelamaan berjemur.


Detik berganti menit, sampai jarum jam di pergelangan Guntur sudah berpindah posisi, Yumna belum juga kembali. Ia sampai tertidur menunggu di mobil.


Setelah satu jam lebih baru perempuan itu datang membangunkannya.

__ADS_1


"Abang, kita pulang ke rumah Daddy kan?" Tanya Yumna pada Guntur yang sudah tancap gas dengan wajah kesal.


"Iya."


"Abang tambah tua kalau cemberut, coba senyum sedikit." Rayu Yumna dengan cengiran, sadar diri dia yang sudah membuat suaminya kesal.


"Jangan banyak protes!!" Cetus Guntur, tidak menuruti keinginan istrinya yang satu ini. Yumna tersenyum manis saja sampai mereka tiba di rumah.


"Abaang," panggil Yumna manja setelah mereka masuk ke kamar.


"Jangan dekat-dekat Ara, kamu bau keringat!!" Usir Guntur sambil menjepit hidung dengan jemarinya.


"Ara gak bau Abang, coba sini cium." Goda Yumna, tapi lelaki itu malah membalikkan badan. Membuat sang istri semakin gencar menggoda.


"Abang," lagi-lagi Yumna memanggil dengan suara manja.


"Mandi Ara!!"


"Coba balik sini, lihat Ara dulu." Yumna memutar tubuh Guntur. Sontak lelaki itu membulatkan mata melihat istrinya yang sangat berani hanya menggunakan kain penutup bagian atas dan bawah.


"Mandi Ara, ngapain lepas pakaian disini!!" Sentak Guntur terkejut.


"Abang gak mau cium Ara dulu, hm." Yumna terus-terusan menggoda, tidak menanggapi ucapan Guntur yang meninggi.


"Enggak, Abang capek!!" Katanya meneguk ludah dengan kasar.


"Beneran gak mau nih, dia sudah manggil-manggil loh." Yumna semakin menjadi-jadi menempelkan tubuhnya pada Guntur.


"Ara mandi, kalau Ara sudah mandi baru Abang pikirin." Sahut Guntur yang tak dapat berpaling melihat pemandangan halal di depan matanya.


"Yakin gak mau sekarang, penawarannya berlaku sekarang aja loh. Nanti setelah mandi gak ada lagi."


Guntur menyeret istrinya yang masih terus mengoceh ke kamar mandi. Mengguyurnya dengan air dingin.


"Abang dingin!! Ara gak bisa nafas, huhh!!" Teriak Yumna terkejut karena disiram Guntur tiba-tiba.


"Itu hukuman karena sudah berani godain Abang!"


"Abang, jangan!! Ara bisa mandi sendiri!!" Teriak Yumna saat Guntur ingin mengguyur tubuh itu kembali.


"Bagus!!" Desis Guntur yang kesusahan menahan diri, apalagi saat melihat tubuh polos itu basah. Ia langsung keluar meninggalkan kamar mandi.


Sementara Yumna yang ditinggalkan tertawa gelak karena sudah berhasil membuat suaminya emosi. Ia melanjutkan mandinya dengan riang gembira.

__ADS_1


"Abang," Yumna mendekati sang suami yang baru saja memejamkan mata. Istri Guntur itu sengaja masuk ke kamar masih dengan rambut yang basah.


"Ara!!" Teriak Guntur frustasi. Bagaimana dia tidak frustasi, istri kecilnya ini baru saja mendapatkan tamu bulanan pagi tadi.


Yumna menanggapi dengan cengiran lebar, berbaring di samping Guntur tanpa dosa.


"Ara masih basah Sayang," Guntur melembutkan suaranya lalu bangun dari tidur. Ia lelah berteriak tapi tidak didengarkan sang istri juga.


"Sini Abang bantu keringin rambutnya," Guntur membangunkan Yumna. Mengurus anak kecil ternyata semelelahkan ini.


Ia bisa cepat ubanan kalau begini setiap hari. Belum satu minggu menikah saja tekanan darahnya sudah naik.


"Abang gak mau peluk Ara, Ara sudah wangi." Ucap Yumna dengan senyuman yang menawan. Bibir merekah itu memanggil-manggil Guntur.


"Kalau Ara sudah pake baju nanti Abang peluk," Guntur menepuk pipi sang istri lembut.


"Ara maunya di peluk sekarang," Yumna semakin manja. Guntur merentangkan tangan memeluknya, ditolak pun tidak bisa. Istrinya ini akan semakin berulah.


Yumna tersenyum smirk menjalankan aksinya mengusap-usap perut Guntur.


"Sayang, jangan nakal please." Guntur menahan tangan Yumna yang bergerak di perutnya. Itu mengundang hasratnya bangkit.


"Ara gak nakal Abang," Yumna memainkan tangannya yang tidak ditahan Guntur.


Guntur menghela nafas gusar, tubuhnya sudah menegang. Istrinya ini tidak mengerti penderitaannya sama sekali.


"Ara sudah belajar cara manjain ini," ujar Yumna menyengir lebar membawa tangannya ke milik Guntur.


Pria itu memelotot tajam, "Ara belajar dari mana?"


"Youtube," perempuan itu lagi-lagi menyengir, menampilkan deretan gigi putihnya.


"Astaga Sayang, gak boleh nonton yang begituan lagi!!"


"Ara cuma mau belajar jadi istri yang bisa muasin suami, biar Abang gak nyari perempuan lain. Ara ini gak bisa ngapa-ngapain, nanti Abang tergoda perempuan lain gimana."


"Abang gak akan nyari perempuan lain. Ara sudah cukup," ujar Guntur menghapus jarak diantara mereka. Memberikan sapuan lembut di bibir ranum Yumna.


...💥💥💥...


Ara oh Ara, siapa yang ngajarin jadi anak nakal 🤣


Kalau kamu begitu Babang Guntur gak bakal bisa kelain hati.

__ADS_1


__ADS_2