
“Kembalikan putriku!!” Teriak Tora menggelegar di kediaman Emran. Emosinya meledak saat mengetahui putrinya tidak ada di ruang rawat.
“Daddy cukup!!” Tahan Sagara, menyusul sang daddy. “Ini bukan salah Guntur, Aga yang memintanya membawa Ara pulang.”
Penjelasan Sagara tidak membuat Tora menghentikan amarahnya. Ia tidak suka dibantah, apalagi oleh orang yang sudah diberikannya peringatan.
“Putrimu masih belum bangun, jangan membuat keributan dengan berteriak seperti orang kesetanan!!” Tegur Emran dengan tatapan dingin.
“Aku kesini mau menjemput putriku, bukan membuat keributan!!” Cetus Tora.
“Kau tidak perlu menjemputnya, karena ini rumahnya. Kau lupa, Ara masih istri sah Guntur!” Emran mengingatkan dengan senyuman miring.
Sagara menarik napas panjang melihat daddy-nya yang masih bersikeras ingin menjemput sang adik
“Aku sudah memecatnya jadi menantu!” Jawab Tora asal, dengan santainya ia naik ke kamar atas mencari Yumna di kamar Guntur.
“Batu,, batu,,” decak Emran. Besannya itu layak batu yang sangat keras, susah untuk dilunakkan.
*
*
*
__ADS_1
“Kita dimana?” tanya Yumna saat menyadari tidak berada di rumah sakit lagi.
“Ara di rumah Sayang, tadi malam Abang bawa pulang.” Guntur tersenyum membantu istrinya yang ingin bangun.
“Akhirnya Ara masih bisa pulang kerumah ini lagi!!” Seru Yumna riang, wajah pucat itu tidak mengurangi kecantikannya.
“Tentu saja Ara masih bisa pulang, kita akan bersama-sama selamanya Sayang.” Guntur memeluk tubuh molek itu dengan senyuman bahagia.
“TIDAK AKAN!!! Aku tidak akan mengijinkan kalian bersama. Ara pulang sama Daddy!!” Teriak Tora dengan suara beratnya.
Yumna dan Guntur serentak menoleh ke arah pintu. Tora terlihat sangat marah dengan rahang yang mengeras dan tangan terkepal kuat.
“Enggak! Ara gak mau pulang sama Daddy. Ara mau sama Abang disini!”
"Ara gak mau pulang sama Daddy, Ara mau tinggal sama Abang disini." Tegas Yumna sekali lagi.
"Ara harus ikut Daddy, ini perintah dan tidak boleh dibantah!!" Tora memisahkan putrinya dari dekapan Guntur.
“Hentikan Tora! Kamu sadar sudah merusak kebahagiaan putrimu sendiri!!” Teriak Emran yang ikut terbawa emosi.
“Dia tidak becus menjaga putriku, lihat Ara sampai seperti ini. Selama bersamaku dia tidak pernah terluka!!” Berang Tora menatap Emran tajam.
“Bersamamu fisiknya memang tidak terluka, tapi hatinya yang terluka!!” Sarkas Emran membuat Tora Damanuri mendadak terdiam.
__ADS_1
“Hentikan kekacauan yang kau buat di rumah sakit dan lekas pergi dari rumahku!” Usir Emran.
“Kau ingin berperang denganku Emran??” Kedua pria paruh baya itu menatap murka satu dengan yang lain.
“Dasar bodoh, putrimu lah yang akan menanggung kebodohan mu ini!!” Sarkas Emran benar-benar kesal dibuat Tora.
“Sayang, Ara kenapa?” Pekik Guntur panik saat istrinya mendadak hilang kesadaran. Kedua pria yang tadi adu mulut itu langsung menoleh ke arah tempat tidur.
“Ingat Tora, semua ini gara-gara kau!!” Emran menatap Tora tajam.
“Ara bangun Sayang!!” Teriak Guntur sambil menggoyang-goyang tubuh sang istri.
“Cepat panggil Papa Rizal, Pah!!” Ucap Guntur semakin panik.
“Semua karena kau Tora!!” Emran menarik Tora keluar dari kamar Guntur lalu menghubungi iparnya. Kehadiran Tora disana hanya membuat Yumna semakin tertekan.
"Akan kupastikan kau menyesal seumur hidup!!" Tunjuk Emran tepat di depan wajah Tora.
Pria itu tidak bersuara lagi, ia melihat bagaimana tadi putrinya tidak bergerak saat digoncang-goncang Guntur.
"Daddy, ada apa?" Tanya Sagara melihat Emran yang sangat murka pada sang daddy. Dan daddy-nya tidak membantah apapun.
"Ara pingsan dan semua karena Daddy-mu yang kepala batu ini!!" Sarkas Emran yang masih sangat kesal
__ADS_1
"Daddy terlalu egois, yang menurut Daddy baik itu belum tentu bisa membuat Ara bahagia!!" Ungkap Sagara ikut kesal, ia langsung masuk ke kamar untuk memastikan keadaan sang adik.