
Guntur mengajak Yumna ke cafe yang sudah dia dan Geo sepakati untuk bertemu. Awalnya pria itu menolak untuk bertemu istrinya. Walau masih tinggal di daerah Jakarta tapi Geo memilih mengasingkan diri sesuai keinginan sang papa.
Disinilah mereka sekarang, saling diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Yumna mengeluarkan black card, kunci mobil dan kunci rumah beserta sertifikatnya.
“Kenapa dikembalikan?” tanya Geo sendu pada wanita yang sangat dicintai dan rindukannya.
Ingin rasanya dia langsung merengkuh tubuh mungil itu dan membawanya pergi ke tempat yang hanya ada mereka berdua. Tapi semua itu tidak dilakukannya karena sadar sang pujaan hati sudah mencintai pria lain.
“Ini punya Geo, Ara tidak berhak memilikinya.” Ucap Yumna pelan, Guntur menggenggam tangan istrinya untuk menguatkan. Ia bisa melihat bagaimana tatapan Geo menatap sang istri dengan penuh cinta.
“Tapi semua itu untuk Ara, apa yang sudah diberikan itu menjadi milik si penerima,” ucap Geo.
“Bukan Ara yang harus menerima ini,” Yumna menatap Geo sebentar lalu beralih pada suaminya.
Guntur mengangguk bangga, menepuk-nepuk tangan sang istri yang berada di pangkuannya.
"Baiklah aku ambil kembali," Geo menyimpan barang-barang itu dengan perasaan kecewa. Namun tetap berusaha mengeluarkan senyuman yang dipaksakan.
Ia tidak bisa memaksa Yumna untuk menerima pemberiannya. Bahkan Geo tidak tahu harus berbicara apa lagi sekarang.
__ADS_1
“Kalian kenapa tegang, ayo kita makan dulu.” Ujar Guntur untuk mencairkan suasana setelah cukup lama mereka saling diam.
Tapi tetap saja ketiganya makan dalam diam. Geo hanya bisa menahan kesedihannya melihat Guntur yang sangat perhatian pada Yumna.
“Sayang, makannya pelan-pelan.” Guntur bergegas mengambilkan air saat istrinya yang tersedak. Semua tidak terlepas dari perhatian Geo.
Bagaimana Yumna tidak tersedak, dia sampai susah menelan makanan karena diperhatikan oleh dua orang pria yang berarti di hatinya.
“Abang Ara kenyang,” ucap Yumna pelan.
“Ini baru tiga sendok yang dimakan Sayang, Ara gak suka ini. Mau pesan yang lain?” Guntur bukannya sengaja ingin membuat Geo cemburu. Tapi dia benar-benar khawatir pada istrinya.
Yumna menjawab dengan gelengan, “Abang aja yang makan.”
Geo hanya mengangguk kecil melanjutkan makan tanpa mengalihkan perhatiannya dari Yumna. Pria itu mempercepat makannya lalu pamit lebih dulu, karena sadar Yumna tidak nyaman dengan keberadaannya.
"Abang," Yumna menatap kepergian Geo yang tanpa menoleh padanya lagi.
"Beri Geo ruang untuk memulihkan hatinya Sayang." Sebelum mengajak pria itu bertemu sang istri, Guntur memang sudah lebih dulu menemui Geo untuk meminta maaf. Semua yang terjadi memang bukan salahnya, ia hanya tidak ingin merasa seperti merebut kekasih pria lain.
__ADS_1
*
*
*
Geo yang merasa hatinya sedang hancur berkeping-keping membawa dirinya ke taman Cattleya. Ia menendang apapun yang berada di depannya untuk meluapkan segala kesakitan yang ia rasakan.
Buukk
Potongan ranting kayu yang Geo tendang mengenai kepala anak kecil yang bermain di pinggiran danau buatan. Sampai anak itu menangis kencang.
"Adek kenapa?" Geo langsung mendekati anak perempuan itu seolah bukan dia pelaku kejahatannya.
"Kejatuhan ranting," jawab bocah perempuan yang masih menangis sambil memegangi kepala.
"Sini Om bantu tiup,"ujar Geo merasa bersalah. "Kenapa sendirian disini, nanti kalau ada yang nyulik gimana?"
Bocah berumur lima tahun itu menatap kearah Geo, "Om penculik?" Tanyanya seraya menghapus air mata dengan punggung tangan.
__ADS_1
"Iya Om penculik," sahut Geo asal yang membuat bocah kecil itu menangis kencang kembali dan kabur.
Geo geleng-geleng kepala, jelas saja anak orang ketakutan kalau dia mengaku penculik. "Kenapa tidak sekalian saja aku culik Ara," gumamnya dalam hati sambil tersenyum miris.