
"Telinga Ara capek banget dengerin dosen ceramah seharian." Adu Yumna dengan menyandarkan kepala ke bahu Guntur sambil memangku laptop.
Yang sebenarnya terjadi ia malas mengerjakan tugas. Apalagi sekarang memiliki pengawas khusus, jadi tidak bisa berleha-leha.
"Sini Abang pijitin," Guntur menarik-narik telinga kanan sang istri.
"Abang, kenapa telinga Ara ditarik-tarik." Yumna menangkap tangan Guntur yang menjewer telinganya.
"Abang mijiti Ara, kan telinganya sakit." Sang pria tetap melanjutkan aksinya tanpa menghiraukan wajah cantik yang sangat suka cemberut itu.
"Ish Abang gak romantis!! Istri capek itu disayang bukan dijewer."
"Selesaikan tugasnya, gak ada romantis-romantisan sebelum tugas selesai!" Perintah Guntur setelah menjauhkan tangannya dari telinga sang istri.
"Kasih Ara semangat dulu," Yumna memajukan bibir diikuti kerlingan manja.
"Semangat!!" Seru Guntur menempelkan buku paket tebal ke bibir Yumna.
"Abaaangg!!" Pekik Yumna kesal.
"Apalagi Sayang?" Sahut Guntur dengan menahan tawa. Mengusili sang istri jadi mainan baru untuknya.
"Ara kezeeelll sama Abang!!"
"Keselnya dilanjut nanti, sekarang Ara selesaikan tugas dulu baru dapat hadiah dari Abang." Iming-iming Guntur, sudah persis membujuk anak kecil agar mau mengerjakan PR. Perasaan Airil tidak sesusah ini kalau disuruh belajar.
"Gak mau, hadiah dulu baru Ara kerjain tugas!!"
Cup
Guntur mengecup pipi Yumna, "sudah Abang kasih hadiahnya."
"Gak berasa Abang," rengek Yumna.
"Pake saos, kecap dan sambel kalau mau berasa Sayang. Sudah, Ara kerjakan tugasnya. Jangan banyak protes, Abang capek ngurusin kamu ini!!"
__ADS_1
"Ara juga capek Abang, boleh sekarang istirahat." Yumna memasang wajah lemah, letih, lesu agar sang suami kasihan padanya.
Guntur memberikan tatapan tajam pada wanita seperti ingin menguliti hidup-hidup. Mendadak membuat Yumna langsung menciut.
"Iya, Ara kerjain tugas Abang. Matanya jangan dilepas dulu. Kalau lepas nanti gak bisa lihat wajah Ara yang cantik, imut dan sexy ini." Ucap Yumna ngelantur terpaksa mengerjakan tugas.
"Hm," Guntur hanya menjawab dengan deheman. Sengaja memasang ekspresi dingin agar istrinya berhenti protes.
Yumna sudah tidak banyak tingkah lagi, mengerjakan tugas sambil menahan matanya yang mengantuk. Berkali-kali ia menguap. Matanya melirik Guntur yang masih memberikan tatapan tajam.
"Cukup lihat laptop, nanti tergoda kalau lihat Abang!!"
"Ngantuk Abang," rengek Yumna dengan mata berair. Guntur pun bisa melihat istri cantiknya ini berkali-kali menguap.
"Cuci muka dulu biar segar," ujar Guntur.
"Ara malas," Yumna menutup laptop meletakkan keatas nakas. Detik berikutnya dia sudah berbaring tanpa menghiraukan sang suami yang semakin menatapnya tajam.
"Bangun!!" Paksa Guntur.
"Drama apalagi ini," seru Guntur dalam hati kemudian menyeringai tipis.
"Ngantuk, hm." Menempelkan bibirnya pada bibir merekah milik Yumna, lalu menyesapnya singkat.
Wanita itu langsung mengangguk dan berbinar cerah mengalungkan tangannya di leher Guntur. "Lagi," pinta Yumna.
"Abang kasih kalau tugasnya selesai malam ini." Guntur melepaskan tautan bibirnya dengan senyum kemenangan.
"Tugasnya gak dikumpul besok Abang, bisa Ara kerjain nanti. Tapi kalau ini Ara butuh sekarang," Yumna tidak melepaskan tangannya yang berada di leher Guntur.
"Harus malam ini!!" Guntur tidak memberikan penawaran.
Yumna mengangguk dengan tersenyum kecil. Beberapa detik kemudian ia mengulum bibir Guntur.
Guntur memelototkan mata. Ingin menolak tapi bibir ini sangat menggoda dan membuat gairahnya bangkit. Ia membalas dengan lapar, tentu saja Yumna berteriak girang dalam hati.
__ADS_1
"Dasar anak nakal!" Umpat Guntur dalam hati.
Tidak cukup sampai disitu, Yumna menelusupkan tangannya ke dalam kaos Guntur. Pria itu menegang, semakin membuat yang dibawah sana ingin tebang bebas.
"Abang tadi bilang apa?" Tanya Guntur saat tautan bibir mereka terlepas.
Matanya sudah berkabut gairah dengan napas yang turun naik karena menahan hasratnya.
"Harus malam ini, jadi Ara kasih sekarang." Wajah cantik itu tersenyum tanpa rasa bersalah setelah menyelewengkan maksud ucapan sang suami.
"Siapa yang ngajarin menggoda seperti ini, hm?"
Yumna menggeleng pelan, "Ara gak bisa membuat Abang bangga dengan prestasi akademik dan pekerjaan rumah. Jadi Ara ingin membuat Abang bangga memiliki Ara dengan memuaskan Abang ditempat tidur."
Ia sadar tidak ada apapun dari dirinya yang bisa dibanggakan. Yang ada dia hanya membuat kesal sang suami setiap hari karena mengurusnya yang cerewet dan manja.
Guntur tersenyum mendengar gumaman yang keluar dari mulut mungil itu. Tidak menyangka kalau gadis kecil yang ia anggap tidak bisa memuaskannya di tempat tidur ini sudah membuatnya tergila-gila. Ia ingin selalu mengulang percintaan panas itu setelah pertama kali merasakannya.
"Cukup jadi diri Ara sendiri. Abang sudah bangga memiliki Ara yang sekarang."
Usai mengucapkannya Guntur melanjutkan yang sempat tertunda. Karena ia sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi.
Bibir mungil itu terus mendesah dan mengerang dibawah kungkungan Guntur. Membuat sang pria semakin bersemangat membawa Yumna terbang menikmati surga dunia.
Guntur ambruk diatas tubuh Yumna setelah berkali-kali melakukan pelepasan. Entah sudah berapa lama mereka melakukan pergumulan panas itu sampai badannya lengket dengan keringat.
"Abang jangan tinggalin Ara," gumam Yumna memeluk Guntur yang masih berada diatasnya.
"Abang gak akan tinggalin Ara, Sayang." Guntur mengecup kening wanitanya lalu menjatuhkan tubuh ke samping sang istri. Setelahnya dia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Lalu membawa Yumna dalam pelukan.
Ia memang tidak suka direpotkan. Namun entah kenapa sekarang Minara Yumna Damanuri, istri kecilnya ini masuk dalam pengecualian.
...🌹🌹🌹...
Nah loh Guntur ketagihan🤭. Ara kecil-kecil cabe rawit.
__ADS_1
Kasih mawar merahnya bestie 🌹