Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
37. Usil


__ADS_3

...Hai-hai, kalian sudah mampir di cerita Babang Ghani belum?...


...Kalau belum, cus sekarang juga 🤭...


...⚘⚘⚘...


Seperti biasa Yumna berangkat ke toko Anindi diantar sang ayah. Menjadi salah satu pemilik saham F-Jewelry tidak membuatnya berhenti bekerja. Sejak orok pun dia sudah kaya raya.


“Kamu lebih hati-hati ya Sayang, keluarga Geo pasti akan semakin gencar memburumu.”


“Yes Daddy, Ara akan berhati-hati.” Yumna menyalami Tora kemudian mengecup di pipi pria berumur itu.


Tora tersenyum menepuk puncak kepala sang putri pelan. Ia memastikan Yumna masuk ke dalam ruko terlebih dulu baru pergi ke kantor.


Pekerjaan itu bisa membuat putrinya tidak terpuruk lagi, jadi dia tidak bisa melarang. Meskipun sebenarnya Tora tidak tega melihat putrinya harus melayani pembeli dan melakukan pekerjaan dapur yang tidak pernah disentuh Yumna saat di rumah.


“Good pagi, selamat morning!!” Teriak Yumna riang saat menapakkan kaki masuk ke dalam toko yang masih sepi.


“Pake bahan bakar apa sih Yum, pertamax atau gas elpigi?” tanya Mita asal, dengan suara yang tak kalah nyaring.


“Bahan bakarnya air liurnya Mbak, unlimited dan gak perlu takut harganya naik.” Yumna juga menjawab asal diikuti tawa gelak.


“Eh, eh. Mbak bilangin presiden baru tau rasa kamu diusir dari bumi pertiwi ini.”


“Emang presiden mau dengar suara Mbak Mita yang cempreng. Suara rakyat yang merdu aja mereka ogah-ogahan dengarnya.”


“Ya jelaslah, enggak.” Mita memukulkan kemoceng yang dipegangnya di bahu Yumna. “Kamu ini ngajakin Mbak ngelantur.”


“iih, kenapa aku yang salah. Mbak Mita yang mulai,” seloroh Yumna dengan cibiran.


“Ribuutt terooooss!!” Decak Anindi yang baru tiba bersama sang suami.


“Ibu hamil gak boleh marah-marah. Nanti anaknya nularin kecantikan Ara. Ara gak rela bagi-bagi resep kecantikan ala bidadari kayangan ini ya.”


“Amit-amit jabang bayi,” ucap Anindi sambil mengelus-elus perut buncitnya.


“Mbaaak, ini penghinaaan!!” Yumna berseru nyaring.


“Teriak-teriak terus. Panggilin Guntur Mas biar mulutnya bisa diam,” Anindi menyeringai jahil melirik sang suami.

__ADS_1


“Hm, Ara banyak cucian piring kotor di belakang.” Ujarnya lalu melimpir ke arah dapur, Anindi dan Mita tertawa gelak. Sedang Tomi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat gadis yang unik dan susah ditebak itu.


...🪴🪴🪴 ...


"Mbak, aku mau pesan sepuluh cake campur aja. Red velved, cokelat, keju atau apapun terserah. Terus dipotong delapan dimasukin dalam box kecil, oke." Ucap Yumna di depan meja kasir, seperti layaknya pembeli pada Mita. Tidak sadar diri kalau dia juga karyawan di toko ini.


"Dan jangan dikasih diskon," lanjut Yumna menaik turunkan alis menggoda penjaga kasir yang mendelik padanya.


"Serius gak nih, kalau gak serius mending aku tutup toko!" Mita berdecak kesal.


"Mbak Nindi, Mbak Mita gak mau melayani pembeli dengan ramah, sopan dan seperti ratu!" Teriak Yumna nyaring agar pasangan suami istri itu mau keluar dari ruangannya.


"Mulai," Mita memijat pelipis pusing. Semenjak ada gadis itu toko memang jadi rame sekaligus pusing dengan ulahnya yang aneh-aneh saja.


"Kenapa lagi teriak-teriak Ara!" Anindi mulai dibuat pusing oleh gadis ini. Pantas saja Guntur angkat tangan duluan.


"Ara mau beli sepuluh box cake masa gak dilayanin. Nih Ara bayar di depan," gumamnya mengeluarkan blackcard dengan nama Geo Ferdinand dari dalam tas.


Mita sampai melotot pada gadis itu, "kamu nyolong kartu siapa ini!!" Serunya setengah berteriak.


"Mbak, aku cuma mau beli cake masa dituduh nyolong. Tuhkan Mbak Nindi lihat sendiri, Mbak Mita gak mau melayani aku." Adu gadis itu manja dengan wajah merengut.


"Buat apa kamu beli sebanyak itu pake kartu Geo lagi?" Tanya Tomi pelan. Kalau semua berteriak bisa pecah gendang telinga baby-nya yang masih dalam perut.


"Warisan?" Anindi melongo, Yumna mengangguk saja.


"Halu neng," seloroh Mita masih tidak percaya dengan ucapan gadis itu seraya meminta karyawan lain menyiapkan pesanan Yumna.


"Cakenya udah Sayang?" Tanya Tora yang sudah tiba untuk menjemput putrinya. Mereka sore ini memang sudah berencana membagi-bagikan makanan. Ia juga sudah menyiapkan nasi kotakannya.


"Masih disiapkan Daddy. Daddy kecepetan datangnya, inikan belum jam lima."


"Biar kamu gak nunggu Sayang," Tora mengelus-elus belakang kepala putrinya. Selama disini Yumna lebih ceria, tidak suka melamun sendirian lagi.


"Kenapa bagi-bagi cake, kan lebih mahal. Gak nasi aja sekalian, biar bikin kenyang." Ujar Tomi pada gadis itu.


"Kalau orang bagi-bagi nasi sudah sering. Mereka pasti jarang mencicipi cake yang enak-enak. Horang kaya mah bebas!!" Jawab Yumna dengan kekehan.


"Sstt, gak boleh ngomong gitu," tegur Tora sambil terkekeh. Ternyata begini kelakuan putrinya disini.

__ADS_1


"Daddy tunggu di sini ya, Ara bantu packing cakenya dulu biar cepat."


"Iya Sayang," jawab Tora. Putrinya itu sudah berlari kecil ke arah ruang packing.


Tomi mengajak Tora untuk duduk sambil menunggu, sedang Anindi mengikuti Yumna.


"Apa yang dibilang Ara benar, dia dapat warisan dari Geo?" Tanya Tomi penasaran.


"Ya. Rumah, mobil, saham dan tabungan. Semua sudah Geo siapkan untuk masa depan Ara," jawab Tora.


"Lalu keluarganya? Bukannya mereka tidak menyukai Ara, apalagi setelah kematian Geo."


"Ya, tentu saja tidak ada yang suka dengan Ara."


Tomi menarik nafas pelan, "itu artinya Ara tidak bisa lepas pengawasan. Mereka bisa saja tiba-tiba datang mengambil semua harta Geo yang Ara pegang."


Tora mengangguk membenarkan ucapan Tomi. Karena itu jugalah ia lebih protektif pada anak gadisnya ini.


"Daddy banyak banget, Ara gak bisa angkatnya." Seru Yumna, Tora terkekeh kecil membantu putrinya.


"Makanya badan kamu dibesarin dikit, kenapa putri Daddy jadi gagal tumbuh gini sih." Goda Tora, memasukkan lima plastik besar cake ke dalam bagasi.


"Daddy ih, gini-gini Ara anak Daddy tau!!"


"Emang tadi Daddy ada bilang kamu anak tetangga, hm." Ucap Tora sambil memainkan alis.


"Ya enggak sih. Daddy ih bikin Ara pusing," katanya sambil menghentak-hentakkan kaki kembali ke meja kasir.


"Mbak Mita!!" Teriak Yumna dengan sengaja, Anindi menghela nafas pelan. Ditegur juga tidak bisa, malah gadis itu akan semakin menjadi-jadi.


"Udah biarin aja Sayang, dia senangnya gitu. Mungkin di rumah kesepian gak ada yang diajak teriak-teriak." Ujar Tomi dengan tawa kecil.


"Yumna, speakernya pelanin dikit. Orang azan di mesjid kalah saing sama suara becekmu ini," kesal Mita.


Yumna mengkerut-kerutkan hidungnya sambil menyerahkan card pada Mita. "Ambil apa yang Mbak Mita mau, aku bayarin."


"Kok kartunya bukan yang tadi?" Tanya Mita, kali ini kartu milik gadis itu sendiri yang diserahkan.


"Tadi cuma salah ambil kartu," jawabnya sombong. "Akukan bukan orang miskin," lanjut Yumna yang halal sekali untuk Mita caci maki.

__ADS_1


"Udah Mit, jangan diladenin. Kamu bakal dibikinnya naik darah." Ujar Anindi yang tidak tahan untuk tidak tertawa.


Tora sampai geleng-geleng kepala melihat Yumna yang seperti itu. Dia baru tau kalau putrinya itu sangat usil.


__ADS_2