Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
25. Rekaman


__ADS_3

“Guntur! Mana pesanan Mama gak sampai-sampai?” tanya Mira saat putranya itu pulang dari kantor.


Guntur menepuk jidat seperti orang lupa. “Tunggu Nindi bentar Mah, mungkin dia yang bawakan.” Ujarnya menyelamatkan diri, biasanya istri Tomi itu tidak akan mengecewakan mama mertuanya.


Mira percaya saja, tidak lama ia melihat perempuan hamil itu datang bersama sang suami.


“Nin brownies Mama mana?”


“Brownies?” tanya Anindi berakting lupa sama seperti Guntur.


Wanita itu tersenyum tipis pada sang ipar. Guntur yang di tatap mengelus dada lega, ia selamat dari amukan sang mama.


“Iya, kamu juga lupa?” Mira mendesah kecewa.


“Maaf Mah aku lupa bikinkan,” jawab Anindi dengan penuh rasa bersalah. Guntur benar-benar lega mendengar jawaban iparnya yang sangat baik hati itu.


“Nindi lupa bikinkan lagi karena ada yang buang-buang brownies Mama ke wajah anak kecil tadi.” Sebut Anindi yang membuat Guntur membullatkan mata. Wanita hamil itu tersenyum miring pada Guntur.


“Apa maksudnya Nin, dibuang-buang?” Mira sudah menatap tajam putranya yang meringis seperti ingin diterakam harimau.


“Itu tadi brownies Mama, Guntur buang ke muka Yumna, eh Ara maksudnya.” Anindi memasang wajah polos menempelkan pipinya di lengan sang suami dengan manja.


Bukan cuma Mira yang menatap tajam Guntur tapi Tomi juga ikut melotot pada pria itu si empunya malah menyengir tanpa rasa bersalah.


“Mama kenapa sih, ribut-ribut!” Tegur Emran yang baru pulang dari kantor. Guntur lagi-lagi mengelus dada bersyukur karena diselamatkan dari malaikat maut.


"Anak Papa nih sudah keterlaluan, muka Ara ditampol pake brownis Mama!!" Ujar Mira kesal.


“Habisnya mulut anak kecil itu lemes banget Mah, jadi aku kasih brownies aja biar jadi manis.” Jawab Guntur dengan cengiran kemudian kabur ke kamarnya.


“Guntuuuuurrrrr!!!” Teriak Mira semakin geram.


Sontak yang namanya diteriakkan me-rem mendadak langkah seribunya. “Sini kamu!!” panggil Mira dengan tatapan membunuh.


"Abang coba cek ribut apasih di bawah, suara Mama sampai kedengaran ke sini." Ujar Khalisa yang sedang membedaki tubuh putranya setelah selesai mandi.


Ghani menurut saja melihat ke bawah, tanpa turun. Mamanya sedang menjewer telinga Guntur sambil mengomel. Ia kembali ke kamar malas turun untuk mencari tau apa yang terjadi.

__ADS_1


“Mama sumpahin kamu jatuh cinta sama anak kecil itu dan mengemis-ngemis cintanya!!” Sarkas Mira saking kesalnya.


“Mah doanya yang baik dong,” ucap Guntur manis melepaskan tangan sang mama dari telinganya perlahan.


"Masa aku didoain jatuh cinta sama anak gagal tumbuh," katanya dengan wajah memelas.


“Kamu ini kalau mau melakukan sesuatu gak dipikir dulu Guntur. Kalau ada yang mengadukan kamu karena kasus penganiayaan gimana!” Ujar Emran jadi ikut mengomel pada putranya.


Guntur memutar bola mata malas, kenapa jadi di lebih-lebihkan gini sih. Cuma karena maslah brownies.


“Kamu harus minta maaf, Mama gak mau tau. Gak ada yang ngajarin kamu bersikap kasar sama perempuan. Apalagi di tempat terbuka seperti itu!!” Mira kembali mengeluarkan maklumat panjangnya.


“Iya-iya, nanti Guntur minta maaf kalau gak khilaf.” Jawabnya malas, melengos dari ke kamar sambil mengusap-usap telinga yang sudah jadi korban kekerasan fisik. Untung ditempelnya bukan menggunakan lem Korea. Bisa-bisa telinganya ini lepas dari tempatnya kalau dipasang pakai lem.


Kenapa sih anak kecil itu suka membuatnya berada dalam masalah. Kenapa juga keluarganya malah membela anak orang lain. Bukan malah membela dirinya, hidupnya benar-benar ternistakan.


...🌺🌺🌺...


“Baru pulang Sayang, kamu darimana. Tadi gak ke kampus ya?” tanya Ayumi lembut pada putrinya yang baru pulang hampir jam sembilan malam. Dia tau Yumna tidak berangkat kuliah, putrinya itu semakin diperingati dengan keras maka akan ikut keras.


“Makan dulu yuk Mommy temani,” Ayumi tetap bersabar menghadapi sang putri. Sementara Tora sudah menghela napas berat.


“Gak lapar,” Yumna melengos melewati orang tuanya. Ia naik ke lantai atas ingin langsung istirahat saja.


“Ara baru pulang, seharian kemana aja?” Aga menahan tangan adiknya yang sudah ingin kabur saat berpapasan dengannya.


“Ara capek!!” sahutnya melepaskan tangan sang abang tanpa memberikan jawaban apa-apa. Gadis itu masuk ke kamar.


Sagara tidak melepaskan adiknya begitu saja. Ia mengikuti Yumna sampai ke kamar.


Gadis yang dibuntuti seolah tak melihat ada sang abang di kamarnya. Yumna masuk kamar mandi setelah meletakkan tas dan mengambil pakaian ganti.


Tanpa bertanya pun Sagara bisa tau kemana adiknya seharian ini pergi. Tidak ada hal aneh yang Yumna lakukan. Dia hanya khawatir, pria itu meneliti seluruh kamar sang adik. Foto Geo di kamar ini sudah Yumna lepaskan semua.


Yumna tau abangnya masih ada di kamar tapi dia pura -pura tidak melihat langsung berbaring ke tempat tidur setelah selesai mandi.


“Rambutnya masih basah Sayang, gak baik dibawa langsung tidur.” Aga mendudukkan sang adik, mengambil hair dryer dan sisir untuk mengeringkan rambut Yumna.

__ADS_1


“Kalau Abang salah, Abang minta maaf.” Ucap Aga lembut seraya memeluk dari belakang. Sepanjang ia memain-mainkan rambut itu, Yumna tidak bersuara apa-apa.


“Ara ngantuk!!”


“Tidurlah, Abang temani.” Aga tersenyum menepuk pelan pipi Yumna yang masih berada dalam pelukannya.


“Aku sudah besar, gak perlu ditemani tidur lagi!” sahut Yumna ketus.


“Ikut Abang sebentar,” Aga menarik paksa Yumna ke kamarnya. Pria itu mendudukkan sang adik di meja kerjanya. Mungkin dengan cara ini adiknya akan mengerti mengapa mereka melarang Yumna dekat dengan Geo.


“Mas jangaaan,” cegah Ranaya saat sang suami ingin membongkar kedok Geo pada Yumna. Perempuan itu menutup laptop yang sudah ada di hadapan sang adik ipar.


“Biar Ara tau siapa Geo, Sayang.” Ucap Aga yang sudah lelah menghadapi tingkah Yumna. Adiknya itu semakin dilarang semakin menjadi-jadi.


“Jangan!!” Ranaya menggeleng pelan. Dia tidak tega melihat adik iparnya semakin terluka nanti.


”Ara gak perlu melihat semua itu, Mas.” Ucapnya pelan menahan tangan sang suami agar tidak nekat memberitahu Yumna.


Yumna dibuat bingung oleh perdebatan sang abang dan kakak iparnya. Dia membuka laptop yang ada di depan mata, saat keduanya masih sibuk berdebat.


Gadis itu membulatkan mata melihat pacarnya yang terlibat perdagangan manusia. Rekaman itu diambil dari kamera tersembunyi saat kelompok Brayen sedang mengadakan rapat. Dia merupakan salah satu target utama, itulah kenapa Brayen sangat gencar ingin menangkapnya.


Yumna menutup laptop dengan kasar dan kembali ke kamar. Menyadari itu Sagara dan Ranaya saling pandang.


“Mas sih, sudah kubilangin jangan di kasih tau masih aja nekat. Aku tuh cuma gak mau Ara sedih.” Omel Ranaya yang segera menyusul adik iparnya ke kamar.


Yumna terburu-buru mengambil tas dan ponselnya ingin pergi lagi. Tapi Ranaya menahannya.


“Kamu tidak perlu meminta penjelasan apapun pada Geo. Kamu hanya perlu melepaskannya, Dek. Jangan ikut campur sama masalah mereka, itu berbahaya buat kamu.” Nasehat Ranaya lembut.


“Tapi aku harus mendengarkan penjelasan dari mulutnya langsung Kak. Aku yakin yang ada dalam rekaman itu bukan Geo yang aku kenal,” kekeuh Yumna.


“Sudah malam, kamu juga capek baru pulang kan. Besok aja menemui Geo," mohon Ranaya. Dia sangat khawatir adik iparnya ini terluka.


"Oke," jawab Yumna. Melepaskan tas yang ada di tangannya. Gadis itu menghela napas kasar berkali-kali.


Ranaya hanya bisa menenangkan dengan cara mengusap-usap pundak Yumna, tidak banyak bicara lagi.

__ADS_1


__ADS_2