Gemuruh Cinta Sang Guntur

Gemuruh Cinta Sang Guntur
90. Selesai


__ADS_3

“Geo,” Yumna mengulurkan tangan pada pria yang berjalan menjauh darinya.


Geo meninggalkannya sendirian ditempat yang asing. Ia bahkan tidak tau kemana arah jalan pulang.


“Geo jangan tinggalin Ara, Ara takut!!” Teriak Yumna nyaring, sungguh saat ini dia sangat ketakutan berada ditempat sepi sendirian.


Geo menoleh ke belakang, menatap Yumna dengan tersenyum. “Ara harus pulang Sayang, tempat ini bukan untuk Ara.”


“Enggak, Ara mau ikut Geo!!” teriak Yumna. Pria itu menggeleng pelan melanjutkan langkah kakinya.


"Geo!! Jangan tinggalin Ara please. Ara takut sendirian disini!!" Teriak Yumna semakin nyaring sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


“Ada Abang yang menunggu Ara pulang. Ara gak boleh ikut." Geo berbicara tanpa menoleh lagi, ia melangkah semakin menjauh.


“Abang,” gumam Yumna mengingat-ingat siapa yang Geo sebut sebagai abang.


"Abaaangg!!" Teriak Yumna saat bisa mengingat kalau yang Geo sebut sebagai abang itu adalah suaminya. Perlahan matanya terbuka dengan pandangan yang kabur.


“Sayang, kamu sudah sadar.” Ayumi menggenggam erat tangan putrinya.


“Ara dimana Mom, dan Abang mana?” tanya Yumna berusaha mengingat kenapa dia bisa berada ditempat berdinding putih yang beraroma khas dan sangat menyengat ini. Seingatnya terakhir kali ia berada di rumah Brayen, menjadi tawanan disana.


“Om, sebelum Ara menyusul Geo boleh jalan-jalan dulu untuk yang terakhir kali. Ara gak kabur janji, kalau Om gak percaya ayo temani Ara jalan.” Yumna tersenyum penuh harap.


“No, kau itu licik mana mungkin bisa dipercaya!” Sarkas Brayen, dia tidak akan termakan bualan anak kecil ini lagi.


“Ish, Ara sama Om itu licikan Om lagi. Mana mungkin Ara berani melawan Om.” Yumna menunjuk kearah anak buah Brayen yang berjaga dimana-mana. 

__ADS_1


“Kok Om jahat sih gak mau menuruti permintaan terakhir Ara,” rengeknya dengan mata berkaca-kaca.


“Kalau kau sampai berbohong aku akan memenggal kepalamu ditempat!!” Ancam Brayen dengan tatapan devil.


“Ara takut!” rengek Yumna dengan bergidik ngeri dalam hatinya berseru senang saat Brayen memerintahkan anak buahnya untuk membawanya berjalan-jalan. Pria itu juga mengikutinya.


“Sepi,” ringis Yumna dalam hati setelah mereka keluar dari wilayah perumahan Brayen.


Kemana dia bisa minta tolong kalau begini. Pantas saja daddy tidak bisa menemukan keberadaannya. Rumah ini berada di daerah terpencil dan tengah hutan.


Oh Tuhan, bagaimana Yumna melawan enam orang ini dengan senjata seadanya.


“Om kenapa sepi, ish gak seru masa Ara harus lihat hutan. Ara bukan monyet yang suka main di hutan!!" Serunya kesal.


Brayen menyeringai tipis, "tentu saja sepi dan kau tidak akan bisa minta tolong siapapun disini.” Lanjutnya dengan gelak tawa mengelegar.


Setelahnya dia mengeluarkan dua pistol yang terselip di balik pinggang. Mudah bagi Yumna untuk mengambil senjata milik pria itu.


Brayen membelalakkan mata saat ingin mengambil pistol. Baru menyadari senjatanya itu hilang dan sudah berpindah tangan.


Yumna segera menyasar kaki ketiga pengawal yang terpukau melihat perlawannya. Sedang Brayen masih dalam mode cengo karena kehilangan senjata.


“Bodoh, kenapa kalian masih melamun!!” Teriak Yumna dengan senyum penuh kemenangan. Terakhir dia melepaskan tembakan ke dada Brayen sambil mengatasi serangan dari yang lain.


Tapi lelaki itu dengan cepat bisa menghindari serangannya. Yumna terus melepaskan tembakan dengan membabi buta.


Untuk menghemat peluru wanita itu menghadapi Brayen dengan tenaganya sendiri. Setelah berhasil melumpuhkan dua pengawal, kini dia harus melawan empat orang sekaligus.

__ADS_1


"Aku tau bagian mana kesuakaanmu!!" Brayen menyeringai menangkis kaki Yumna yang menendang kearah senjata pusakanya. Lalu menyerang wanita itu balik.


"Dor!!"


Yumna kembali menyasar jantung Brayen dan berhasil. Kini misi balas dendamnya selesai.


"Kau salah berbangga diri sebelum pertarungan berakhir!" Teriak Yumna dengan tawa kemenangan.


Namun dari belakang anak buah Brayen memukul pundaknya dengan balok kayu. Yumna terjatuh, wanita itu masih sempat melepaskan sisa pelurunya sebelum semuanya gelap dan berakhir di rumah sakit dengan tidak sadarkan diri.


Ia belum sempat memastikan apakah Brayen sudah terlempar ke neraka. Yumna juga tidak tau siapa yang membawanya ke rumah sakit dalam keadaan masih bernyawa.


“Mom, Abang mana?” tanya Yumna sekali lagi setelah berhasil mengingat semuanya. Ayumi hanya diam menatap suaminya tajam.


Ya, sang suamilah yang sudah mengusir menantunya dari rumah sakit. Tora menganggap Gunturlah yang jadi penyebab putrinya tidak sadarkan diri selama dua hari.


“Kalian gak ada yang bisa jawab pertanyaan Ara, Daddy katakan dimana Abang!!” Teriak Yumna kesal, tidak taukah dia berjuang antara hidup dan mati demi bisa bersama suaminya.


“Daddy mengusir suamimu,” jawab Ayumi membuat Tora memelototkan mata pada istrinya.


“Daddy jahat, untuk apa Ara hidup kalau gak ada Abang disini!!” Yumna melepaskan paksa infus di tangannya dan turun dari brankar pasien walau badannya masih terasa sakit.


“Sayang kamu masih lemah,” Ayumi mencegah putrinya yang ingin keluar ruang rawat. "Nanti kita temui Abang. Ara harus sembuh dulu, kalian harus sehat.” Perempuan paruh baya itu memeluk putrinya seraya mengelus di perut. Beruntung janinnya masih bisa diselamatkan.


"Ara mau Abang disini sekarang!!"


“Tidak, Ara tidak boleh bertemu Guntur lagi, Daddy bisa menjaga kalian!!” Tegas Tora.

__ADS_1


“Dasar keras kepala!!" Sarkas Ayumi geram, saat putrinya dalam kondisi seperti inipun masih saja bersikap keras.


__ADS_2