
“Ara yakin masih mau kuliah?” tanya Guntur khawatir. Apalagi melihat perut istrinya yang sudah seperti balon hampir meletus.
“Yakin Abang, selesai UAS baru lanjut cuti.” Jawab Yumna dengan senyuman lebar, mengingat cuti hatinya jadi riang gembira.
“Giliran cuti aja girang banget, disuruh kuliah malas.” Guntur menciumi gemas pipi istrinya yang ikut membengkak diusia kehamilan yang menginjak tujuh bulan ini.
“Jelas, Ara malas belajar Abang. Tapi sekarang sudah enak. Ara cuma duduk di kampus, yang ngerjain tugasnya Abang.” Yumna mengedipkan mata manja pada sang suami.
Ya selama istrinya hamil Gunturlah yang mengerjakan tugas-tugas kuliah Yumna sampai begadang. Kurang sayang apalagi Guntur pada istri manjanya ini.
“Gak boleh malas, Abang gak mau baby boy pemalas nular mommy-nya yang manja ini!” Guntur menggigit gemas pipi sang istri.
“Ara gak pemalas Abang,” Yumna mengerucutkan bibir tajam.
“Terus apa dong namanya kalau bukan pemalas?” Guntur menatap intens sang istri yang tidak pernah bosan untuk dipandang, walau sekarang tubuh itu membulat.
__ADS_1
Yumna menggaruk kepalanya mencari kata yang tepat selain pemalas tapi tidak menemukannya.
“Itu artinya Ara pemalas,” seru Guntur dengan tawa gelak melihat istrinya berpikir keras.
“Udah gak usah dimanyun-manyunin juga bibirnya, sekarang kita sarapan baru berangkat.” Ajak Guntur, untuk jalan saja istrinya ini sudah kesusahan membawa perut.
Selesai sarapan Guntur mengantarkan istrinya ke kampus terlebih dahulu.
“Abang kecelakaan!!” Teriak Yumna melihat korban tabrak lari di depan matanya. Mobil yang menabrak perempuan dan anak kecil yang ingin menyebrang jalan itu melarikan diri. Beruntung anak kecil itu sempat menghindar.
Guntur yang terkejut langsung menginjak rem mendadak membuat mobil di belakangnya ikut berhenti dan mendapatkan rentetan klakson bersahutan. Pria itu langsung menepikan mobilnya agar tidak terjadi kemacetan parah.
Ditengah kebingungannya ia melihat om-om yang pernah ditemuinya di pinggir danau sedang jogging.
“Om penculik bantu bunda please!!” Teriaknya memanggil om yang sedang sedang jogging itu bertepatan dengan mobil-mobil yang berhenti ingin menolong.
__ADS_1
“Om penculik?” Geo menatap dirinya sendiri. Kemudian menoleh kearah bocah yang sedang memegangi tangan perempuan yang tergeletak berlumuran darah.
"Kecelakaan," gumamnya langsung berlari mendekat sambil berusaha mengingat-ingat bocah yang sepertinya Geo pernah melihat wajah itu.
"Penculik?" Ulang Geo ketika bisa mengingat. Bocah kecil itu bocah yang ditemuinya di pinggir danau dan ketakutan karena menganggap dirinya penculik.
"Iya Om penculik pinggir danau. Bantu bunda please," mohonnya lagi.
Geo mengangguk, "bisa bantu bawa ke rumah sakit," ujarnya pada pemilik mobil yang baru keluar ingin membantu. Karena mobilnya terparkir di taman, cukup jauh kalau Geo harus mengambil mobil terlebih dulu.
“Cepat bawa masuk!!” Ucap Guntur kemudian meminta pada orang-orang yang tiba-tiba berdatangan untuk memberi mereka akses. Guntur belum menyadari kalau yang menggendong perempuan kecelakaan itu Geo.
"Ayo ikut Om ke rumah sakit." Guntur bergegas menggendong si bocah kecil ke dalam mobil. Saat mendudukan bocah itu dia baru sadar kalau yang masuk ke mobilnya Geo. Kedua pria itu saling tatap karena sama-sama terkejut.
"Om cepat, bunda bisa meninggal!!" Teriak bocah kecil itu dengan air mata yang berjatuhan.
__ADS_1
Yumna meringis dalam hati, kenapa dia bisa terjebak dalam situasi yang sulit seperti ini.
Guntur masuk ke mobil lalu menjalankannya menuju rumah sakit. Suasana mobil hening, tidak ada yang bersuara. Hanya terdengar suara isak tangis anak kecil.