
*
*
Semua orang yang melihat adegan ini, mendadak gemas, ingin mencubit pipi chubby Uni yang terlihat seperti bakpao.
Berbeda dengan orang-orang yang gemas, Siska justru malah tertawa mendengar jawaban Uni, apa katanya tadi? Membusuk? Aih, anaknya semakin pintar berbicara saja. Pasti banyak belajar dari si muka datar Darren, kan, karena setiap kali gaya bicara Darren ini memang pedas jika berhadapan dengan orang asing yang mau sok akrab dengannya.
Disisi lain, Kathrin sendiri sangat jengkel, wajahnya memerah menahan marah. Pipinya yang sudah merah, makin memerah membuat Uni membelalak dan berbinar senang.
"Tante, pipimu makin merah! Whoa, apa benalan mau membusuk?" Tanya Uni polos.
Kathrin sudah geram, makin geram saja. Matanya menatap Uni nyalang. "Kau! Bocah busuk! Apa tidak diajari sopan santun oleh ibu jalangmu ini, ha?!" Tanya Kathrin seraya menunjuk Siska.
"Jaga mulutmu! Kau yang tidak diajari sopan santun dasar wanita yang kekurangan perhatian!" Desis Siska sinis.
"Hum! Tante tomat busuk kulang pelhatian, makanya suka Cali perhatian pada Uni dan ibu ya? Asal Tante tomat tahu, ya, Uni diajali belsikap sopan, tapi hanya pada Olang yang belsikap sopan juga pada Uni!" Ucap Uni agak belepotan terdengarnya, belibet karnanya.
"Masih kecil sudah pandai bicara, bagaimana besarnya nanti? Bisa bisa jadi orang yang suka ikut campur urusan orang saja!" Hina Kathrin.
"Aduh, pandai bicara itu bagus. Nanti besar bisa pandai mengelola bisnis, pandai dalam bidang hukum, juga pandai dalam melawan orang yang suka cari perhatian sepertimu!" Hina balik Siska.
"K-KAU!" Pekik Kathrin tertahan.
"Kau apa kau?! Kau masih belum jera juga, Kathrin?!" Teriak seorang laki-laki yang tidak lain adalah Darren.
Ia muncul dari belakang Kathrin. Anak buahnya tentu saja mengabari Darren tentang keberadaan Siska dan keberadaan Kathrin yang mengganggu Siska. Darren yang kebetulan dekat denganokasi, segera datang untuk melihat keadaan. Tapi begitu datang, benar saja, Kathrin ini tidak ada habisnya terus saja mengganggu dirinya dan Siska setiap saat.
"Tuan W-wistara." Gumam Kathrin terkejut. Ia langsung berdehem dan menghilangkan raut marahnya. Seketika berubah lembut dan ramah.
__ADS_1
Siska menatap perubahan tersebut dan mencibir dalam hati. Kathrin paling pandai merubah raut, kenapa pula dia tidak ikut kelas acting, sangat disayangkan bakatnya tersebut.
"Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya, kau masih belum jera juga?" Tanya Darren dengan raut daar dan nada suara dingin penuh intimidasi. Bahkan Chika dan pegawai real estate meneguk ludah mihat aura marah dari Darrren.
Siska dan Uni biasa saja, sedangkan Kathrin sendiri sudah gemetar dibuatnya. Tapi Kathrin masih tidak gentar, ia masih tidak mau mundur.
"Aku, aku, hanya mau membeli rumah. Tapi nona ini malah ingin merebutnya. Aku tidak salah, bukankah yang punya uang yang bisa dapat rumahnya?" Ucap Kathrin tanpa tahu malu. Menebalkan muka, dengan memutarbalikkan fakta.
Siska terkekeh kecil dibuatnya. Sipaling cari perhatian di depannya ini, pintar sekali memutar balikkan fakta. Kalau saja ia tidak melihatnya, mungkin Siska juga akan tertipu oleh tampang dan perkataannya. Sayangnya, Siska sendiri yang mengalami hal ini. Jadi, ia tidak akan pernah mengasihaninya.
"Benarkah? Siska yang merebut dan bukan kau?" Tanya Darren datar.
Kathrin buru-buru menganggukkan kepalanya, "Benar, tuan aku tidak bohong." Ucapnya dengan wajah sungguh-sungguh.
"CK, kenapa laporan yang aku dapat berbeda?" Tanya Darren.
"M-mungkin yang melaporkan tidak tahu kejadian awalnya, t-tuan. Bisa saja laporannya salah." Ucap Kathrin.
"T-tidak, bukan begitu maksudku. Aku hany, aku hanya mengatai pegawai ini! Ya, dia!" Seru Kathrin melimpahkan kesalahan pada orang lain.
Pegawai yang ditunjuk Kathrin langsung mendelik tak suka, rautnya sangat tidak senang sampai membuat pegawai tersebut berani tersenyum sinis.
"Tidak sopan! Bagaimana bisa kau memasang raut begitu pada pelanggan besar ini?!" Pekik Kathrin emosi.
"Maaf? Baiklah, pelanggan besar. Kau mau membeli rumah sebesar 10M, tadi. Ayo kita lanjutkan transaksinya." Ucap pegawai tersebut, berubah ramah.
"10M apanya yang 10M. Bukankah harga yang tertera juga 1.5M saja!" Desis Kathrin kesal.
"Nona tomat. Apa perlu aku ingatkan? Kau mau membeli rumah yang aku beli, dan kita melakukan lelang dadakan barusan. Aku ada rekamannya, apa kau mau dengar? Bisa dijadikan sebagai bukti." Ucap Siska menimpali ucapan Kathrin.
__ADS_1
Enak saja ia berlaku begitu. Siska tidak akan tinggal diam kali ini. Ayo, fia yang memulai dia juga yang harus menyelesaikan. Sistem tabur tuai masih sangat berlaku sampai saat ini.
Apalagi, pegawai yang melayaninya begitu baik dan ramah. Siska mana bisa diam saja melihat pegawai ini ditindas oleh Kathrin. Tapi, Siska juga kagum pada pegawai satu ini. Ia berani melawan meski pada akhirnya mungkin tidak akan menang.
"Bukankah kau yang memulai semuanya?!" Pekik Kathrin tidak terima.
"Hmm? Aku tidak salah dengar? Ah, baik, sebentar aku nyalakan dulu rekamannya." Ucap Siska seraya mengeluarkan ponselnya perlahan.
"Ah baik! Aku beli, 10M!" Teriak Kathrin emosi.
Siska tertawa puas. Kathrin ini memang bodoh, sikapnya ini muncul pasti karena dimanjakan. Sombongnya bukan main. Rumah dengan harga 1.5M saja dibeli dengan 10M. Ah sayang sekali buang-buang uang.
"Baiklah, mari nona, gesek kartu?" Tanya pegawai itu tersenyum. Setelah sebelumnya mengangguk berterimakasih pada Siska.
Kathrin akhirnya dengan kesal mengeluarkan kartunya. Dan transaksi berhasil. Tapi raut wajahnya sama sekali tidak senang. Sangat tidak enak dilihat. Mungkin marena takut juga dimarahi Ayahnya nanti karena menghamburkan uang? Entahlah.
"Terimakasih sudah melakukan pembelian nona, sebagai bonus, kami akan memberimu satu sepeda motor keluaran terbaru." Ucap pegawai tersebut.
Jelas bisa memberikan bonus besar, sepeda motor dibandingkan dengan uang ber M M, masih kalah jauh. Jadi, ia sebagai pegawai sekaligus manajer tentu saja tidak akan sayang memberikan Kathrin bonus berupa sepeda motor.
"Apanya yang sepeda motor! Huh!" Desis Kathrin emosi. Kemudian ia beralih pada Siska. "Tunggu danihat saja kau nanti! Aku masih belum selesai denganmu!" Lanjutnya berdesis, kemudian pergi setelah menunjuk wajah Siska dengan marah.
Siska terbahak. Kemudian ia beralih dan mengacungkan jempol pada pegawai yang melayaninya. Setelahnya, Siska kembali memilih rumah di perumahan yang berbeda. Tentu saja, ia tidak akan pernah mau satu perumahan dengan Si tomat busuk. Nanti baunya menyebar sampai ke rumahnya, uh bisa gawat dirinya.
Pegawai memberikan satu buku lainnya, "Nona ada perumahan lain, tapi tempat ini tidak sebagus perumahan yang tadi. Karena tempatnya tidak disukai, juga jauh dari mana-mana." Ucap pegawai menjelaskan.
Nama perumahannya adalah Turnuksio. Siska jadi melebarkan matanya begitu mendengar nama perumahan ini.
*
__ADS_1
*