
*
*
Siska menemuka harta Karun masa depan. Ia terlena beberapa saat, tapi kemudian ia terbatuk menyadari perilakunya yang seperti orang gila.
Dirinya masih ada dalam mobil. Tapi keadaan malah hening. Di depan ada supir dan Chika? Kenapa ia di depan?
Karena bingung, ia kemudian menoleh ke samping dan mendapati Uni juga Darren yang sama-sama tertidur. Darren bersandar pada jok, sedangkan Uni bersandar pada dada Darren.
"Sial, sejak kapan dia naik?!" Gumam Siska kesal. Sangat lirih. "Lihat wajah datar yang menyebalkan ini, sangat jelek!" Desisnya pelan.
Tangannya bahkan terangkat seolah sedang mengek nguek wajah Darren yang saat ini masih terpejam.
"Huh, dasar kau si omong kosong." Gerutu Siska.
Makin dilihat wajah Darren, makin kesal dirinya. Ingin sekali menjambak rambut legam hitam milik Darren dan mengguncangnya agar ia kepusingan. Muntah, muntah sekalian, pikir Siska.
Tapi ia mengurungkan niatnya. Tenang, sabar. Ia menenangkan dirinya ketika melihat Uni yang tertidur pulang di pangkuan Darren.
"Sudah puas melihatnya?" Tanya Darren menatap Siska, berucap tiba-tiba membuat Siska memekik kecil. Saking terkejutnya.
Buk!
"Gila! Mau membuatku kena serangan jantung, ha?!" Desis Siska pelan, memukul bahu Darren kesal.
Darren diam, ia masih bersandar, pun dengan kepalanya, hanya saja matanya memicing menatap Siska yang masih terkejut, berusaha menenangkan dirinya.
"Kau pura-pura tidur ternyata?" Desis Siska makin kesal setelah dirinya tenang.
"Aku hanya memejamkan mata karena silau, tidak pura-pura tidur." Ucap Darren mengedikkan sebelah bahunya.
"Bukankah itu sama saja?!" Sewot Siska.
"Tentu saja berbeda. Apa kau bodoh tidak bisa membedakan?" Tanya Darren.
__ADS_1
Siska yang disebut bodoh semakin marah, wajahnya memerah murka. Tangannya bergerak ke perut samping Darren dan memelintirnya.
Darren melebarkan mata, melotot menatap Siska. Ia masih bisa menahan diri agar dirinya tidak berteriak, mengingat Uni masih ada di pangkuannya. Tapi ringisan keluar pada akhirnya karena cubitan Siska benar-benar menyakitkan. Itu kulit, dipelintir dan ditarik.
"Sakit, Siska." Ucap Darren dengan suara tertahan. Terdengar dalam, karena Darren sekalian menahan geramannya.
"Rasakan!" Desis Siska kesal. Ia sekaligus melampiaskan kekesalannya yang sedari siang ia rasakan. Alhasil, Darren pasti memang kesakitan, dan cubitannya sudah pasti membekas nantinya.
Tidak peduli, Siska tidak peduli. Siapa suruh dia membuat dirinya merasa kesal, kan? Anggap saja Siska membalas dendam atas perasaan buruknya sejak siang ini.
Darren sendiri meski terus meringis, tapi ia bingung atas apa yang terjadi pada Siska. Sikap Siska beberapa hari sebelumnya sudah menjadi lebih baik. Tapi apa sekarang? Baru tiga hari Darren tidak menemuinya, sikapnya langsung berubah lagi? Ah, susah betul ingin mendekatkan diri dengan Siska ini.
"Ada apa denganmu?" Tanya Darren, tapi Siska malah memalingkan wajahnya, tidak menanggapi. "Aku ada salah?" Tanyanya lagi, semakin berhati-hati, karena takut menyinggung Siska lagi.
Sedangkan di kursi depan, supir yang sejak tadi mengemudikan mobil, hanya bisa menahan nafas beberapa waktu melihat kecanggungan dan aura suram yang tiba-tiba hadir ini.
Disisinya, Chika juga merasakan hal yang sama. Bedanya, Chika tahu tentang apa penyebab dari sikap Siska yang terlihat sangat kesal pada Darren saat ini. Tentu saja karena foto dan informasi yang dirinya berikan.
Jadi, kali ini, Chika diam-diam mengangkat ponselnya, Siska tidak melihat karna wajahnya berpaling ke sisi jendela. Jadi tidak melihat gerakan Chika yang mengangkat ponsel ke sisi berlawana dengan Siska. Sedangkan Darren yang posisinya ada tepat di belakang Chika, langsung melihatnya. Apalagi, gerakan Chika memang mencolok di matanya.
Darren menghela nafas. "Siska..." Panggilnya pelan.
Siska tidak bergeming, tapi kemudian ia terbatuk, sadar akan sikapnya yang seperti remaja labil. Ia menggelengkan kepalanya, tidak boleh. Ia tidak boleh bersikap begini. Umurnya sudah tidak muda, oke? Apa-apaan ini? Pikir Siska.
"Kenapa?" Tanya Siska tanpa melihat Darren, ia beralih pada ponselnya, memeriksa pesan dan email yang bisa saja masuk dalam waktu ini.
"Bicaralah, apa yang salah?" Tanya Darren, ia ingin mendengar langsung dari mulut Siska meski dirinya sendiri sudah tahu akan akar permasalahannya.
Ah, bukankah Siska cemburu jika ia merasa mesal dan marah begitu melihat foto barusan? Apa ini kabar bagus untuk Darren? Itu artinya Siska suka padanya tidak sih? Pikir Darren tiba-tiba.
"Tidak ada, aku hanya sedang tidak dalam suasana hati yang baik saja. Maaf untuk cubitan barusan." Ucap Siska, lagi, ia tidak melihat wajah Darren, meski ia mengaku salah. Nada bicaranya juga tidak sekuat tadi, karena ia sadar jika sikapnya seperti anak kecil, padahal dirinya sudah bukan anak kecil lagi. Memalukan, memang memalukan bagi dirinya, ibu dengan dua orang anak malah bersikap begitu.
"Ini menyakitkan, kau harus tanggung jawab, obati aku ketika sampai nanti." Balas Darren.
"Tidak! Obati saja sendiri." Balas Siska tidak akan mau mengaku kalah.
__ADS_1
"Kalau begitu, bicaralah. Apa yang membuatmu kesal sampai mencubitku?" Tanya Darren.
"Aku bilang tidak ada. Suasana hatiku sedang buruk saja." aucap Siska kesal.
"Kau yakin?" Tanya Darren.
"Ya, tentu." Balas Siska.
"Yang benar?" Tanya Darren.
"Tentu benar!" balas Siska.
"Jujurlah, Siska." Ucap Darren.
"Aku sudah jujur oke?!" Balas Siska. Tak suka. ia bahkan mendelikkan matanya kini, karena Darren terus saja bertanya padanya. Padahal dirinya juga sudah menjawabnya sebelumnya. Sangat menyebalkan.
"Siska.." Panggil Darren.
"Apalagi?!" Tanya Siska geram.
"Apa kau yakin kau tidak menyembunyikan apa-apa?", Tanya Darren lagi.
"Aku yakin! Meski aku tidak yakin, aku juga tidak akan mengatakan apa-apa tentang foto kau dengan Kathrin yang berpegangan tangan direstoran siang ini---AH! KAU SENGAJA?!" Gerutuan Siska berubah menjadi pekikan nyaring. Uni sampai terbangun dibuatnya. Matanya terbelalak lebar, wajahnya mulai memerah malu karena tidak sengaja mengungkapkan inti masalahnya.
Darren sengaja memancingnya dengan terus menerus bertanya! Sial, Siska terjebak oleh pertanyaan dan emosi dirinya sendiri.
Uni juga sangat terkejut, dan menangis seketika di dalam pelukan Darden. Tapi Darren tertawa kecil, seraya menenangkan Uni, ia menatap Siska penuh arti dan makna.
Sedangkan Siska sendiri, yang sedang merasa malu sekaligus kesal, hanya bisa membungkam mulutnya sendiri, tidak lagi memekik pada Darren. Ia juga tidak mencoba membantu menenangkan Uni.
Ia dalam keadaan memalukan oke. Apa lagi yang bisa dirinya lakukan jika sedang terjepit begini. Tolong, kubur saja dirinya agar rasa malu yang dirasakannya menghilang.
*
*
__ADS_1