Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Pengaturan Siska


__ADS_3

*


*


Setelah selesai menata semua bahan-bahan, Sapta seketika mendudukkan dirinya dikursi kemudian menelungkup kan kepalanya, kelelahan. Membuat Siska lagi-lagi tertawa melihatnya.


Sedangkan Ayah dan ibunya hanya menggelengkan kepalanya maklum. Uqi dan Uni anteng dengan camilannya di meja sebelah kiri, area lesehan.


Siska menatap jam di dinding, menunjukkan pukul 3 lebih 10 menit. Ergan sebentar lagi datang, tapi dirinya juga harus pergi ke toko pembuatan papan nama untuk mengambil papan nama yang dipesannya tadi pagi.


Siska awalnya berpikir untuk memakai motor saja nanti ketika Ergan pulang, tapi ia berpikir lagi, Ergan mungkin kelelahan pulang nanti. Apalagi ia disuruh mem-print dan melaminating menu sebanyak 300 lembar. Ditambah, ia juga harus mencari orang untuk membantu melayani para pelanggan, hari ini semuanya akan datang, dan ramai untuk pelatihan pelayanan besok.


Jadi, mau tak mau Siska harus pergi sendiri. Lagi-lagi, ia pamit dan harus menitipkan Uqi juga Uni pada kedua orang tuanya. Sebenarnya tidak enak, tapi apa boleh buat, ia hanya bisa merepotkan kedua orang tuanya selagi ia mengambil papan nama. Sebab jika ia membawa kedua anaknya, maka untuk membawa papan nama akan menyulitkan dirinya sendiri. Terlebih, papan nama tersebut lumayan pastinya berat, karena selain terbuat dari kayu jati, juga ukurannya yang lumayan menurut Siska.


Siska berangkat dengan menggunakan angkutan umum. Setelah 30 menit, akhirnya ia sampai di toko pembuatan papan nama yang sebelumnya ia kunjungi. Begitu masuk, ia langsung disapa ramah oleh pelayan yang tadi pagi menyapanya.


Begitu sapa menyapa selesai, tidak perlu Siska yang berbicara, pelayan tersebut langsung mengeluarkan papan nama pesanannya inisiatif. Siska tersenyum dan mengangguk puas dibuatnya.


"Silahkan dilihat dulu, nona. Barangkali ada kesalahan dan tidak kesesuaian, kami masih bisa memperbaikinya." Ucap pelayan tersebut seraya tersenyum.


"Oh iya, sebentar aku lihat dulu." Ucap Siska kemudian mengambil papan nama tersebut, dan melihatnya.


Terpana.


Siska sangat suka dengan hasil ukiran dan artnya. Font nya juga sangat cocok, Siska cukup pandai memilih dalam hal ini. Bentuk papan sama juga disesuaikan dengan font nya. Tulisan Tasty Treats sangat cantik terukir di atas papan kayunya.


"Astaga, ini cantik sekali! Aku puas, tidak ada kekeliruan, bungkus saja." Ucap Siska dengan senyum lebar, ia benar-benar senang.


"Baik, nona, mohon keluarkan bukti transaksi sebelumnya, ya untuk melakukan pembayaran." Balas pelayan tersebut seraya membungkus papan nama ke sebuah tas yang sesuai dengan ukuran papan nama tersebut.


Sementara itu, Siska juga mengeluarkan bukti pembayaran yang tadi di dapatkannya dari pelayan Andi di konter pemesanan dari dalam tasnya. Setelah mendapatkannya, Siska langsung saja membayar sebanyak 500 ribu pada pelayan.


Pelayan mengambil uang beserta bukti pembayarannya, dan memberikan bukti pembayaran yang baru yang telah di cap oleh pelayan tersebut.


Siska menganggukkan kepalanya, berterimakasih kemudian pamit pergi, berniat kembali ke kedai. 30 menit berlalu, akhirnya ia sampai kembali di kedai, dan benar saja. Kedai sudah ramai.


Selain Ayah, ibu, kedua anak, dan kakak keduanya, ada juga Ergan dan keempat temannya, Kakak pertama Rendra, Santi dan anaknya Geri, Putri dan anaknya Desi, juga 3 orang gadis yang dibawa oleh Santi. Siska tersenyum makin lebar dibuatnya. Apalagi terlihat, Rendra sedang memasang cctv dibantu oleh ahlinya.


"Kakak, kau sudah pulang!" Seru Ergan semangat. Ia menghampiri Siska yang baru sampai di gerbang, berlari dan langsung mengambil papan nama yang lumayan berat dari tangan Siska. "Astaga, kak, ini berat! Kenapa tidak menungguku pulang saja, sih, tadi?" Lanjut Ergan yang kini terkejut dengan berat dari papan nama yang dibawa Siska.

__ADS_1


"Tidak berat, kau saja yang payah, haha." Ucap Siska seraya tertawa mengejek. "Bagaimana sekolahmu? Menyenangkan, hm?" Lanjutnya bertanya.


"Ya, ya, kakak kan Samson!" Cibir Ergan. "Ya, ya, senang tentu saja senang, mereka tidak meremehkan ku lagi, hihi." Lanjutnya berbisik pada Siska. "Ngomong-ngomong, kak, kedainya sangat menakjubkan! Ini sangat bagus, dan cantik! Aku bahkan sudah merekam video begitu sampai." Ucap Ergan berlanjut.


Siska tersenyum, kemudian mengacak rambut Ergan lembut. "Baguslah, kau sekolah baik-baik, oke?!" Ucap Siska seraya mengetuk kening Ergan. "Memang, ini kakak pertamamu yang merenov tahu! Hebat, bukan? Aku saja kagum." Balasnya.


"Oke! Oke!" Seru Ergan. "Hebat, hebat! Aku juga sangat kagum, sangat puas!" Lanjutnya berseru.


"Kau sudah pulang? Bagaimana papan namanya? Bagus tidak?" Tanya Rendra, datang dan menginterupsi percakapan adik kakak ini.


"Eum, lihatlah, aku sangat puas dengan hasilnya. Langsung pasang saja di depan. Euh tapi, bagus di depan gerbang apa di depan pintu masuk kedai indoor?" Tanya Siska kemudian.


"Menurutmu bagaimana?" Tanya Rendra tersenyum. Ia masih terpana dengan papan nama yang dibawa Siska, ini sangat bagus, membuatnya tidak fokus mendengarkan Siska.


"Di pintu masuk indoor saja! Jika diluar gerbang takutnya ada tangan-tangan jahil, mencuri dan merusaknya." Seru Ergan setelah ia melihat keindahan papan nama yang dibawa Siska.


"Bodoh, kakak sudah memasang cctv, takut apa?" Tanya Rendra seraya tertawa. Sudah sadar kembali ke kenyataan.


"Ah, kalau begitu, aman-aman saja jika di luar gerbang? Yasudah di luar gerbang saja!" Seru Ergan lagi.


"Ah tidak, diluar pintu masuk kedai dalam saja. Aku rasa lebih baik begitu, meski ada cctv, tapi mungkin jika ada yang mencuri dan merusaknya, papan nama ini harus dibuat ulang. Malas, malas, ah." Ucap Siska.


Kemudian Rendra memasangnya, dibantu Ergan dan lainnya. Setelah terpasang, semuanya pun bersorak senang. Apalagi melihat keindahan ukiran papan namanya.


Meninggalkan papan nama, Siska kini beralih pada teman-teman Ergan dan juga 3 gadis yang dibawa oleh Santi. Semuanya telah berdiri di depan Siska dengan senyum gugup di wajah masing-masing.


"Kakak, ini teman-temanku. Hanya ada satu gadis yang mau. Apa tidak apa-apa?" Tanya Ergan penuh harap.


"Tentu, aku tahu, pasti kebanyakan gadis lain akan gengsi, kan? Sebetulnya wajar saja. Tapi syukurlah jika ada yang mau, hitung-hitung kau membantu teman-temanmu juga." Ucap Siska tersenyum mengangguk.


"Tapi, nona, kami pulang sekolah pukul 3." Ucap gadis yang berada di samping Ergan, Reni namanya.


"Oh iya, kalian bisa datang sepulang sekolah. Pukul 4 sampai pukul 9 malam, paling lambat mungkin pulang pukul 10 untuk membereskan sisanya. Apa keberatan jika begini?" Ucap Siska bertanya.


Reni menatap Siska berbinar. "Tidak masalah, nona. Aku bisa." Ucapnya tersenyum lebar.


"Ya, nona, kami juga bisa." Ucap kedua teman lainnya, laki-laki, ada Seno dan Farhan.


"Uhm, panggil Kak Siska saja, oke?" Ucap Siska tertawa, dipanggil nona sangat tidak nyaman. Kecuali oleh para pelanggannya.

__ADS_1


"Baik, kak Siska." Ucap Reni, Seno dan Farhan bersamaan.


"Oh iya kak. Ini Deri. Temanku, Dia aku ajak kemari atas perintah Mama." Ucap Ergan kemudian memperkenalkan Deri.


"Ah, Deri yang itu! Astaga, terimakasih ya, sudah menemani Ergan." Ucap Siska tersenyum, menyapa Deri dengan ramah.


"Aku senang bisa berteman dengan Ergan, kak." Balas Deri seraya menganggukkan kepalanya.


"Kalian sudah makan?" Tanya Siska yang kemudian diangguki semuanya, karena begitu tiba di kedai, ibunya langsung menjamu teman-teman Ergan. Jadi semuanya sudah kenyang kali ini.


Siska mengangguk paham, kemudian membiarkan Deri dan Ergan bermain. Tetapi Siska tidak diam, sore ini dia harus mengajarkan cara melayani orang dengan ramah pada ke 6 orang yang akan melayani pelanggan besok.


Siska mengumpulkan ke 6 orang tersebut. Kemudian ia menanyakan nama satu persatu. Selain Reni, Seno, dan Farhan, ada juga Ayu, Sismi, dan Sri. Ketiga lainnya ini adalah pengangguran yang kebetulan tetangganya.


Kemudian ke 6 nya diarahkan untuk mengambil satu menu yang telah dilaminating. Siska memberi contoh, agar begitu pelanggan datang, ke 6 orang ini harus dengan sigap membagikan menu pada setiap meja.


Pun dengan tatakrama ramah begitu pelanggan datang, Siska mengajarkan harus menyapa dengan ramah, dan baik. Tidak memperbolehkan wajah judes dan sinis disini. Apalagi omongan harus dibuat sebaik mungkin.


Pengajaran pelayanan pada pelanggan berlalu begitu saja setelah satu jam. Sedangkan yang lain sibuk pada urusan masing-masing. Rendra dan Sapta yang masih memantau pemasangan cctv, Ayah dan ibu yang mengasuh Uqi dan Uni, Santi dan Putri yang melihati Siska, Desi dan Geri bermain, kemudian Ergan dan Deri juga melihati pengajaran Siska.


Ergan sewaktu-waktu akan membantu melayani pelanggan, jadi ia belajar dengan melihat Siska. Pun dengan Deri yang tertarik, bisa saja jika ia bermain kesini ia juga akan ikut turun melayani pelanggan. Geri yang awalnya bermain dengan Desi pun ikut memerhatikan Siska pada akhirnya, sedangkan Desi pergi bermain dengan Uqi dan Uni.


Satu jam berlalu lagi, semua sudah mengerti dan siap melayani besok. Ke 6 orang ini dengan semangat berseru akan bekerja dengan baik. Apalagi, gaji dan uang makan diberikan secara terpisah. Juga ada mess untuk orang yang kemalaman pulang. Ini sangat bagus untuk ukuran seorang pelayan. Membuat ke 6 orang ini puas. Setelahnya, ke 6 orang ini pun pamit untuk pulang dan kembali besok sesuai waktu yang telah ditentukan.


Sepeninggal 6 orang ini, sisanya beremuk di lantai atas, pekerjaan sudah selesai semua dilakukan. Makan malam dilakukan lebih awal, karena Siska masih harus menunjukkan kakak-kakaknya tentang pekerjaan masing-masing untuk besok. Santi dan Putri akan ada di dapur, pun dengan Ibunya yang jika ingin membantu boleh-boleh Saja. Sedangkan kedua kakak harus berada di konter pemesanan dan kasir.


Untuk Ayah, ibu, dan Ergan, tidak diwajibkan membantu, jika mau boleh saja, tapi jika tidak bagus juga, biarkan ketiganya istirahat saja. Sedangkan Siska, juga akan membantu di dapur, sementara Uni, akan mengikuti dirinya, Siska sudah menyiapkan area bermain di dapur, di sudut ruangan yang tidak menghalangi kegiatannya.


Meski begitu, Ayahnya juga karena tidak bisa banyak membantu, ia akan menjaga Uni sepanjang hari, karena Uni juga tidak rewel seperti kebanyakan balita lainnya.


Deri yang masih ada disana, ikut mendengarkan pengaturan ini. Cukup takjub dengan kakak perempuan temannya ini, hebat dalam mengatur semuanya.


Tapi tidak lama, memerhatikan sebab Ergan dan Geri mengajaknya bermain game bersama, sementara Siska dan para kakak ke bawah untuk memperlihatkan cara-cara memasak dan penggunaan lainnya. Sampai satu jam berlalu, semuanya telah selesai di atur, Deri bahkan pamit pulang tepat pada pukul 7 malam.


Ia membawa motor sendiri jadi Ergan tidak perlu mengantarnya. Sedang yang lainnya, karena sudah diaturkan, semuanyapun membereskan barang dan pulang ke rumah kedua orang tuanya. Siska juga harus bangun pagi besok, selain membuat adonan, ia juga harus menyiapkan Uqi untuk pergi ke sekolah. Besok adalah hari yang sibuk, jadi semuanya istirahat lebih awal.


*


*

__ADS_1


__ADS_2